Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Putraku?


“Di mana putraku?!!”


Emosi Ratmi langsung mendorong tubuh lelaki itu hingga jatuh tersungkur. “Katakan di mana putraku?!” teriakannya semakin menjadi.


“Ratmi kita bisa bicara baik-baik.” Lelaki itu berusaha untuk beranjak dari tempatnya. Namun, dengan sekuat tenaga Ratmi kembali mendorong tubuhnya, seperti seorang yang kerasukan setan.


“Katakan kalian bawa ke mana putraku!!” teriak Ratmi lagi.


“Ratmi...”


“Di mana?!!!” teriaknya. Perempuan itu kembali histeris mengambil pot bunga di depan rumahnya, lalu melemparkannya secara asal. Dia menangis dan teriak terus menerus.


Sementara itu, Alana yang baru kembali dari dapur terkejut mendengar teriakkan Ibunya dari luar, di susul dengan suara benda-benda di lempar.


“Dave, apa yang terjadi?” tanya Alana terkejut.


“Ibu!” ucap Alana dan Dave bebarengan. Keduanya lantas berlari ke luar rumah, meninggalkan Gala begitu saja. Keterkejutan mereka kian bertambah saat melihat perempuan yang mereka panggil Ibu tengah berteriak memukul seorang lelaki. Namun, Dave dan Alana belum bisa melihat jelas siapa lelaki itu karena terhalang oleh tubuh Ibu Ratmi.


“Jangan seperti ini. Ku mohon aku bisa jelaskan!”


“Kalian para orang kaya hanya bisa memanfaatkan kaum miskin, rakyat jelata seperti kami.”


Merasa emosi Ibunya semakin menjadi Dave dan Alana segera bergerak mendekat memisahkan mereka. “Bu, apa yang terjadi?” Dave dengan sekuat tenaga menahan tubuh Ibu mertuanya itu, meski perempuan itu berusaha memberontak.


Alana mencoba membantu lelaki yang telah dihajar oleh Ibunya. “Pak.. maaf ini sebenarnya—”


Belum sempat Alana melanjutkan ucapannya, lelaki itu menoleh membuat Alana terkejut. “Papa?” desisnya terkejut, ketika mendapati Papa mertuanya yang ternyata di hajar oleh Ibunya.


“Lepas!! Biar ku hajar lelaki itu!” Ibu Ratmi berusaha memberontak dalam cengkraman Dave. “Dia orang kaya, penipu!” sambungnya berteriak kencang.


“Alana?” panggil Jonas terkejut. Mendengar suara Papanya, Dave pun sontak menoleh melepaskan cengkraman tangannya pada Ibu Ratmi.


Membuat perempuan itu kembali berlari menghajar Jonas dengan membabi buta. Alana sontak mencoba menghentikan Ibunya yang tengah emosi. “Bu, tenanglah. Kenapa Ibu seperti ini? Ada apa, Bu? Bilang sama Alana.”


“Lepas! Alana. Biar Ibu hajar lelaki itu.” Ibu Ratmi kembali memberontak sekuat tenaga.


“Bu, ku mohon....”


“Dia laki-laki yang telah membawa putraku, Alana!”


Deg!


Teriakan Ibunya saat waktu masih depresi kembali terlintas.


‘Dia jahat! Dia membawa putraku!'


‘Kembalikan putraku!’


“Putraku?” lirih Alana kembali mencoba mengumpulkan kepingan ingatan tentang rentetan ucapan sang Ibu.


“Sayang?” suara Dave membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke arah suaminya. Lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak! Ini tidak mungkin!”


“Alana? Apa dia Ibumu?”


Pertanyaan ini terlontar dari bibir Jonas. Dalam kebingungannya. Alana mengangguk lemah. Jonas terkejut mendengarnya.


“Jadi, selama ini....aaaa...” Jonas tak lagi melanjutkan ucapannya mana kala ia merasakan seseorang menusuk tubuhnya.


“Papa!!"


“Ibu!!”


“Biar saja kau mati!” ucap Ibu Ratmi dengan tangis histeris.


Dave langsung berlari menolong Papanya. “Pa...”


Darah segar tampak mengucur dari dalam perut Jonas. Entah dari mana Ibu Ratmi mendapatkan pisau.


Sementara Alana masih mencoba menahan Ibunya yang ingin kembali menghajar Jonas.


“Dave, sebenarnya... Ka—kamu.. bu–bukan anak Pa–pa...”


Deg! Dave langsung terkejut mendengarnya. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


“Alana...” panggil Jonas sebelum hilang kesadarannya. Sementara Ibu Ratmi tertawa dengan rasa senang, namun ia juga menangis dalam waktu bersamaan. Ia berlari memeluk Dave lalu berkata. “Putraku!”