
Dave mengerutkan keningnya menatap inci wajah perempuan itu. Mengingat kembali bagaimana perempuan itu menghadapi sikap Natasha, sikapnya yang tak terduga itu membuat ia cukup terkejut, seakan ia baru menemukan sisi Alana yang lain. Tapi meski begitu ia merasa heran, karena ia pikir perempuan itu tipikal orang kuat dan berani. Namun, melihat keadaannya kini. Alana nampak begitu lemah, seperti seorang perempuan yang memikul beban yang teramat berat. Ia merasa perempuan itu begitu terluka, meskipun Alana sama sekali tidak mengeluarkan air matanya. Ia tahu meski begitu rasa sakitnya tetap membekas, apalagi begitu bertemu dengan orang yang bersangkutan langsung. Lalu dengan cara ia menawarkan pernikahan kontrak ini, apakah itu sama saja dia juga termasuk pria yang jahat. Karena kembali membuat Alana bertemu dengan Edo? Menggelengkan kepalanya, Dave merasa tidak menyakitinya, lantaran pernikahan itu terjadi atas sebuah kesepakatan bersama.
“Cantik,” puji Dave pelan. Tersenyum tipis, menatap wajah perempuan itu. Ia pikir pujiannya itu tak salah. Memang Alana terlihat cantik, hidungnya mancung, kulitnya putih, pipinya chubby, dan jangan lupakan bibirnya yang ranum menggoda.
Dave menghela nafas, berusaha mengontrol perasaannya. Ia segera beranjak dari atas tubuh Alana, seraya mengatur nafasnya yang sempat memburu. Setelahnya, ia berniat beranjak untuk kembali ke kamar.
“Eugh...” Alana meleguh, membuat Dave mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar, kembali menoleh ke arah istrinya. Tampak Alana mulai membuka kedua matanya.
“Alana kau sudah sadar? Apa kau ingin minum?” tanya Dave dengan beruntun.
Alana merubah posisinya menjadi duduk, tak lupa ia memijat kepalanya yang terasa pening. Dan dengan pandangan yang samar, ia dapat melihat Dave yang berdiri di hadapannya, mencecar pertanyaan.
“Hei, apa aku ini tidak cantik?” tanya Alana dengan senyum menggoda.
Dave menghela nafasnya, sesaat kenapa ia menjadi orang yang bodoh, masih saja menanggapi orang mabuk. Pertanyaan dan perhatiannya tentu saja tak berguna. Ia pikir akan lebih baik ia meninggalkan Alana saja ke kamarnya. Besok pagi kesadaran Alana pasti sudah pulih.
Srettt! Tak ia duga. Sebelum dirinya berlalu. Alana justru menarik kembali tubuhnya.
“Hei, kenapa kau tak menjawab pertanyaanku? Apa aku tidak cantik? Mengapa si bodoh itu tega menyakitiku, dan lebih memilih si pelacur itu?” tanya Alana lagi.
Dave hanya diam di tempat. Ia tidak menduga perasaan Alana sedalam itu untuk Edo. Padahal selama ini yang ia lihat Alana terlihat baik-baik saja. Menggelengkan kepalanya, ia masih tak habis pikir.
Dave kembali terkejut, saat tiba-tiba wajah Alana kini tepat di hadapannya. Kemudian, kedua tangannya menangkup pipinya. Lalu bertanya perihal yang sama.
“Cantik Alana. Kau itu terlalu cantik untuk disakiti,” jawab Dave pelan. Sesaat ia merasa lucu masih mau menanggapi ucapan Alana. Entahlah melihat keadaannya kini ia merasa tak tega.
Mendengarnya, Alana tersenyum tipis. Tanpa di duga perempuan itu menarik tubuhnya, lalu mendaratkan bibirnya tepat di bibirnya. Dave terkejut kedua matanya membeliak dengan sempurna, bahkan ia bisa merasakan rasa minuman yang disesap Alana saat di acara reuni tadi. Keterkejutan Dave kian bertambah, saat perempuan itu setengah memaksa lelaki itu untuk membuka bibirnya. Alana dengan begitu agresif mencium, me lu mat, mem be Lit, lidah lelaki itu. Dave masih diam tak bereaksi. Namun, beberapa detik berikutnya ia merasa tubuhnya meremang, merespon dengan baik. Dan dengan cepat ia pun mencoba membalas ciuman Alana. Hingga keduanya saling mencecap, me lu mat, melilit, dan bertukar saliva.
Beberapa, saat kemudian Alana mendorong tubuh Dave, menyudahi ciumannya.
“Alana?” tegur Dave pelan saat melihat perempuan itu memegang keningnya, sementara salah satu tangannya menutup mulutnya.
“Alana kau mau ap–”
Huek! Huek!
Dave terkejut tak dapat lagi melanjutkan ucapannya. Saat melihat istrinya muntah, tepat mengotori pakaian Dave. Bau anyir serta amis begitu mengusiknya, ini terasa menjijikkan. Dave menghela nafas kesal.
“Alana, kau....”
Kegeraman tampak terlihat jelas di wajah Dave. Matanya menatap ke arah Alana dengan kesal. Tapi yang ditatap sama sekali tidak peduli. Pakaian yang dikenakan Alana juga sedikit kotor. Namun, Alana tak peduli. Ia justru membaringkan tubuhnya di atas ranjang, seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun.
Dave masih menatap ke arah Alana, dengan perasaan yang kesal. Melihat Alana sudah sudah terpejam, Dave pun berlalu ke kamar untuk membersihkan diri.