
Beberapa menit sebelumnya, mobil yang dikemudikan Zain melewati pertigaan lampu merah. Dave masih melamun memikirkan ucapan Alana saat ia bertanya perihal kejadian lima tahun lalu.
“Tentu saja tidak. Karena saat itu aku sedang tidak dalam masa subur!” jawab Alana dengan nada meyakinkan.
“Kau tidak berbohong kan?” tuntut Dave dengan pandangan penuh selidik.
“Tentu saja tidak! Lagian apa untungnya aku berbohong padamu,” kata Alana berdecak kesal. Menutupi perasaan gugup sesungguhnya. “Sudahlah Dave. Cepat tanda tangani. Agar kerjaanku cepat selesai,” sambungnya.
“Aku hargai kejujuranmu, tapi jika nanti kamu terbukti berbohong, awas saja!” ancamnya mengambil kembali bolpoin dan menandatanganinya.
Memikirkan hal itu membuat Dave merasa resah, antara ragu dan percaya, hingga tak sengaja tatapannya tertuju pada seorang perempuan yang tengah memunguti buku. Awalnya ia tak peduli, tapi saat ia amati lebih dalam, betapa terkejutnya Dave, begitu menyadari itu Alana. Keterkejutannya kian bertambah saat melihat truk Pertamina melaju tinggi.
Spontan Dave meminta Zain untuk menghentikan mobilnya. Dengan tergesa-gesa Dave berlari menuju arah Alana berada. Sampainya di sana ia langsung menarik tangan Alana dengan seluruh kekuatannya, hingga ia berhasil meraih perempuan itu ke dalam dekapannya. Jantungnya nyaris lepas, menyadari kebodohan istrinya, kemarahannya meledak, antara rasa cemas juga takut kehilangan. Bagaimana jika ia terlambat datang? Akan seperti apa nasib Alana.
Hingga beberapa saat kemudian, segala kata yang belum pernah ia ucapkan pada Alana ia keluarkan. Tanpa peduli bagaimana rasanya perempuan itu. Tak hanya itu yang membuatnya kian bertambah marah, Alana masih memikirkan Lego yang ia beli entah untuk siapa.
Kini, Dave membawakan Alana masuk ke dalam restoran cepat saji itu. Ia mengambil kursi yang berada di luar membuatnya bisa merasakan semilir angin. Setelah sebelumnya ia meminta Zain untuk memesankan makanan, tak lupa mengambilkan kotak p3k, karena ia melihat lutut istrinya terluka.
Usai pesanannya tersaji di atas meja. Dave meminta Zain untuk mencarikan lego yang tadi sudah rusak akibat terlindas truk.
“Biar ku obati lututmu,” kata Dave. Lelaki itu mengubah posisinya menjadi jongkok di depan istrinya.
“Dave tidak perlu. Ini hanya luka kecil,” tolak Alana.
“Diamlah! Jika kau menolak, aku akan menciummu!” ancamnya membuat Alana langsung menutup mulutnya, hingga akhirnya ia hanya diam pasrah menatap Dave yang sibuk mengobati lututnya. Padahal hanya memar sedikit karena tak sengaja terbentur aspal.
“Aku heran. Kau bilang kau tidak pernah hamil, lalu kau membeli Lego untuk siapa? Bukankah itu mainan anak-anak. Apakah itu untuk dirimu Alana?” tanya Dave di sela-sela aktivitasnya mengobati kaki Alana.
Sempat merasa terkejut akan pertanyaan Dave. Namun, detik berikutnya ia kembali bisa berkilah. “Titipan anak tetangga. Aku kasihan kemarin mereka rebutan.”
Dave hanya mengangguk, melanjutkan aktivitasnya. Dan dalam diam Alana menatap dalam wajah suaminya yang begitu serius, lelaki itu terlihat telaten mengobati dirinya. Dave masih sama, sifatnya begitu hangat terhadap dirinya. Ingatannya kembali melayang bagaimana raut wajah Dave yang penuh kekhawatiran tadi, lalu memarahi dirinya habis-habisan. Mengapa Dave sekhawatir itu?
Menghela nafas pelan, Alana kembali mengenyahkan pikirannya itu. Lalu kembali menatap wajah suaminya. Ada rasa hangat menyelip dalam hatinya. Lima tahun sebelumnya ia juga selalu merasakan kehangatan sikap Dave, ia tidak cukup terkejut untuk hal ini. Namun, apakah posisinya tetap sama di hati Dave.
“Tidak apa-apa!”
“Kau memikirkan sesuatu? Tanyakan padaku jika ada yang ingin kamu tanyakan.”
Alana tersenyum tipis, menatap raut wajah lelaki di hadapannya. “Dave, kau terlihat sedikit kurus, apakah kau tidak pernah makan?”
“Kalau aku tidak makan, aku sudah mati, Alana,” jawab Dave santai. Sambil menempelkan plester di lutut istrinya.
“Maksudku, apa Jessica tidak mengurusmu dengan baik?” tanya Alana hati-hati.
“Jessica siapa?” tanya Dave balik wajahnya terlihat kesal. Karena perempuan itu hidupnya berantakan.
“Istrimu Dave, bukankah...”
“Istriku hanya kamu, Alana!” tegas Dave mengangkat wajahnya menatap Alana dengan serius. “Dan aku hanya akan menikah satu kali seumur hidupku. Tidak ada Jessica, tidak ada perempuan lain di hatiku Alana. Hanya kamu seorang, mengapa kau tak kunjung paham!”
💞
💞
💞
💞
💞
Ciee... kalau aku jadi Alana pingsan dadakan, biar dapat nafas buatan 🤣 astagfirullah, duh Gusti aku khilaf.
Udah tiga bab ya. Jangan lupa di like, komentar, berikan hadiah untuk mereka yang banyak, bisa kalian gunakan iklan untuk beri hadiah.😂😂
Terima kasih 🤗🤗