Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku, Alana Jovanka


Alana menarik sudut bibirnya yang terlihat merekah. “Aku, Alana Jovanka!” Ia menunjuk dirinya sendiri, seolah tengah memperkenalkan diri dalam acara ajang pencarian bakat di atas panggung yang megah.


“Banyak belajar bahwa, pacar yang ku anggap sempurna. Dan telah ku cintai selama empat tahun telah menipuku!” ujar Alana kemudian, tertawa seolah kalimat itu sama sekali bukan beban bagi dirinya. Lagi, Alana memijat kepalanya yang terasa pening. Namun, tak ada niatan untuk mengakhiri aktivitasnya. Ia berjalan di atas sofa panjang itu dengan sedikit sempoyongan, bahkan ia hampir terjatuh. Dave sigap ingin membantunya.


“Tidak! Tenang saja, aku tidak apa-apa,” tolaknya kembali menegapkan tubuhnya.


“Dulu, aku pernah berfikir jika aku tidak akan kalah. Semua yang aku miliki tidak akan pernah pergi. Tapi semua itu salah. Benarkan? Bukan aku yang bodoh. Tapi dia yang bodoh karena telah mengkhianati ku, dan memberi rasa sakit ini. Dia bilang tidak akan ada yang mau denganku, lantaran ibuku mempunyai penyakit jiwa. Kenapa dia busa sejahat itu padaku. Setelah seluruh hatiku ku berikan padanya,” ucap Alana tatapannya terlihat sendu, tapi detik berikutnya ia kembali tertawa. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengira perempuan itu gila. Beruntung saat itu waktu memang sudah malam, para pelayan pun sudah istirahat, jadi hanya ada Dave di sana.


Lelaki itu menatap Alana dengan sorot mata yang tak terbaca. Perasaannya pun lama-lama jengah mendengar ocehan Alana. Namun, sekali lagi terselip rasa kasihan. Ia membiarkan perempuan itu mengeluarkan isi hatinya. Meski hak itu tidak penting baginya.


“Alana. Semua itu hanya masa lalu, percayalah kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Edo. Sekarang hari sudah malam, ayo ku antar kamu ke kamar, kamu harus segera istirahat,” bujuk Dave. Ia berbicara dengan lembut, seolah tengah menghadapi orang yang sakit. Padahal yang ia hadapi adalah orang yang mabuk. Dan baru kali ini ia mengahadapi perempuan yang mabuk, dan lucunya ia tetap mendengarkan ocehannya.


Alana menatap Dave, dengan mulut yang menganga, berusaha mencerna ucapan pria itu, akan tetapi sama sekali tidak berhasil.


“Ayo Alana.” Dave mengulurkan tangannya, berharap Alana akan menyambut tangannya. Sebenarnya, bisa saja ia memaksa perempuan itu. Tapi, Dave masih mencoba mengeluarkan tingkat kesabarannya. Membiarkan perempuan itu mengeluarkan isi hatinya, barangkali setelah ini Alana akan merasa lega.


Alana justru terkikik memijat kepalanya, kemudian ia membungkukkan badannya sedikit, hingga membuat belahan dadanya sedikit terlihat. Dave segera memalingkan wajahnya ke arah lain dan menarik kembali tangannya. Namun, ia masih bergeming di tempat.


“Aku tidak ingin istirahat. Aku ingin minum,” bisik Alana tepat di telinga Dave. Kemudian, kedua tangannya itu melingkar di pinggang Dave, membuat lelaki itu cukup terkejut. Tak hanya itu, keterkejutan Dave kian bertambah, saat Alana juga menjatuhkan kepalanya di pundaknya, seakan tengah bersandar dengan nyaman.


Dave memejamkan kedua matanya, ketika merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya. Seluruh sarafnya tiba-tiba menegang, dalam sekejap ia merasakan tengkuknya meremang, ketika tubuh Alana merapatkan tubuhnya, hingga posisinya kini saling menempel.


“Alana.” Dave mengguncang tubuh Alana berusaha menyadarkan perempuan itu. Merasa tidak ada reaksi, dengan cepat Dave menggendong istrinya, pelan ia membawanya ke kamarnya.


“Omongan pria itu memang bulshit. Pria itu memang pembohong akut.”


Dave hanya mendengus ketika mendengar ocehan Alana. Sebersit rasa kesal hinggap dalam dirinya, ketika perempuan itu mengumpat semua pria. Padahal yang brengsek itu mantannya, mengapa jadi semua pria kena imbasnya. Tapi, ia pikir buat apa ia menganggap hal itu serius, mengingat keadaan Alana yang sedang tak sadar.


Dengan pelan, Dave mencoba membuka pintu kamar Alana. Setelah berhasil, ia membawa Alana masuk ke dalam menuju ranjang king size. Dengan pelan Dave mencoba merebahkan tubuh Alana di sana, ia berniat setelah itu akan berlalu. Namun, tiba-tiba ia terkejut mana kala perempuan itu justru menarik tubuhnya, hingga membuat dirinya jatuh tepat di atas tubuh Alana. Kedua matanya membeliak begitu menyadari posisinya terlihat begitu intim.


Lagi, Dave menelan ludahnya dengan susah. Saat wajahnya kini saling berhadapan. Hembusan nafas istrinya terdengar teratur, hingga menyapu seluruh wajahnya, seketika rasa hangat itu menyeruak begitu saja. Apalagi kala ia bisa mencium dengan jelas aroma bunga Lily dari parfum istrinya.