Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story - Ciuman Pertama


Mobil Range Rover melaju dengan kecepatan sedang menuju kawasan rumah sakit. Ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Alana. Dave selalu menyempatkan diri untuk menemani istrinya cek kandungan. Bulan kemarin ia ingin melakukan USG agar bisa mengetahui jenis kelamin buah hatinya. Namun, ternyata posisinya belum terlihat jelas. Jadi, pada bulan ini baru bisa ia lakukan.


“Bagaimana kalau dia laki-laki lagi, sayang?” tanya Alana mengusap perutnya yang membuncit. Perempuan itu tahu Dave begitu mendambakan anak perempuan, menurutnya ia ingin versi Alana kecil, cantik dan lucu, bahkan tak tanggung-tanggung Dave sudah mempersiapkan nama jika anaknya perempuan.


Dave menoleh mengambil dan me re mas jemari istrinya pelan, kemudian ia mencondongkan tubuhnya. “Kita bisa buat lagi, sampai dapat perempuan,” bisik Dave di dekat telinga istrinya, membuat perempuan itu merona. Jika tidak melihat ada putranya yang duduk di sebelah Zain, ia sudah mencubit suaminya, bisa-bisanya seenteng itu mengatakan buat lagi. Ya meskipun selama hamil perhatian Dave tercurahkan sangat dalam.


Mobil berhenti tepat di lobi rumah sakit.


“Zain, aku tidak memperbolehkan Gala ikut masuk. Jadi, kamu bisa bawa dia ke mall depan ya. Ajak dia beli mainan atau bermain, nanti kalau aku dan Istriku sudah selesai, aku telpon.”


“Baik Tuan.”


“Hore bermain.”


💞💞


“Tuan kecil ingin bermain apa?” tanya Zain datar tanpa ekspresi. Ketika mereka telah sampai di arena permainan.


Anak kecil yang sebentar lagi akan menginjak usia lima tahun itu terus memegang tangan Zain, sambil mengedipkan matanya terlihat berpikir. “Paman? Memangnya Gala sudah besar kaya Papi ya?”


Zain melongo tak mengerti dengan ucapan anak atasannya itu. “Tentu saja masih kecil.”


Gala melepaskan tautan tangannya dari Zain, bibirnya mengerucut ke depan persis gambaran Alana sewaktu kesal. “Sudah tahu masih kecil. Kenapa dipanggil Tuan!”


Perkataan Gala membuat Zain menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pasalnya anak itu paling sebal kalau dipanggil Tuan. Menurutnya lebih baik dipanggil nama, sebenarnya baik Dave dan Alana sudah meminta untuk Zain menuruti permintaan Gala saja. Namun, Zain merasa canggung dan terkesan kurang sopan. Alana dan Dave meminta Zain untuk menganggap Gala itu seperti keponakannya sendiri.


“Paman itu menyebalkan!” celetuk Gala melipatkan tangannya di dada. “Aku tidak akan mau bicara sama Paman, kalau Paman masih memanggilku Tuan. Aku bukan Papi, Paman!!” protesnya.


Zain pun terpaksa berjongkok demi mensejajarkan posisinya dengan Gala. Ia menghela nafasnya, berdebat dengan Gala sudah pasti ia akan kalah. “Baiklah Gala. Paman mengalah, kau ingin bermain apa?”


Senyum terulas dari bibir anak itu, matanya berkedip berpikir ingin kemana. Hingga akhirnya matanya menangkap sosok perempuan yang ia kenali, masuk ke dalam sebuah toko buku.


”Bibi?!!” teriaknya.


Gala berlari masuk ke toko buku. Membuat Zain terkejut berlari mengikuti langkah kakinya.


“Bibi Silvi?” panggil Gala menghampiri perempuan yang merupakan sahabat Maminya itu. Gadis itu tengah memilih buku.


”Hai, sayang. Dengan siapa?” tanya Silvi mengalihkan pandang dan sedikit membungkuk di hadapan Gala.


Gala menunjuk ke arah pintu di mana Zain berdiri dengan tatapan datar membuat ia mengangguk. Kemudian, tampak lelaki itu mendekatinya. “Ayo Gala, katanya mau bermain,” ajak Zain melirik ke arah Silvi sejenak. Perempuan berambut pirang itu tak henti menatap dirinya tanpa expresi.


“Gala, Bibinya lagi belanja. Sama Paman aja ya, nanti keburu Mami dan Papi telpon lho.”


Gala menggeleng kecewa, hal itu membuat Silvi merasa tak tega. “Memang Gala ingin bermain apa? Ayo Bibi temani, tapi sebentar saja ya.”


“Benarkah?” tanya Gala antusias.


“Tapi, Bibi bayar bukunya dulu.” Silvi menunjukkan bukunya lalu beranjak ke kasir.


Hampir tiga puluh menitan Silvi dan Zain menemani Gala bermain, mereka berdua hanya diam tanpa bicara. Zain tidak menyadari jika Silvi diam-diam menatap ke arahnya. Tak hanya bermain, Gala juga mengajaknya ke toko mainan, dan Zain hanya jadi pengikut di belakangnya, layaknya seorang suami yang tengah mengantarkan anak dan istrinya belanja.


Beberapa menit kemudian, Gala sudah menemukan mainannya. Usai transaksi pembelian selesai. Mereka bertiga keluar dari toko. Ponsel dalam sakunya berdering ada panggilan dari Dave yang memberi tahu jika mereka sudah selesai.


“Gala, kita kembali ke Mami dan Papi ya?” ajak Zain.


Gala yang masih memegang tangan Silvi pun menoleh. “Sama Bibi juga ya!”


Zain hanya menatap perempuan itu dengan datar, membuat Silvi meneguk ludahnya, kala hawa dingin menyusup. Ia membungkuk mensejajarkan posisinya dengan Gala. “Oh tidak Gala. Bibi soalnya harus ketemu teman juga di restoran sebelah. Lain kali Bibi akan bermain ke rumah saja ya,” bujuknya.


Meski merasa tidak terima, Gala pun mengangguk. “Baiklah.”


“Anak pintar. Ya udah Bibi pergi dulu ya!”


Bersamaan dengan Silvi berbalik seseorang berlari hingga menabrak dirinya, membuat tubuh Silvi terhuyung berputar dan sigap Zain menahannya.


Cup!


Mata Silvi melotot mana kala tubuhnya jatuh tepat dalam dekapan lelaki itu, juga kecupan mendarat di bibirnya. Sempat beberapa detik mereka beradu pandang, mana kala perempuan itu merasakan pinggangnya masih direngkuh oleh Zain.


💞


💞


💞


Hallo memasuki bonus chapter ya.. Akan ada beberapa part.


Tetap jangan lupakan sajennya 🤭. Like, komentar, dan hadiahnya.