
Gerakan Alana yang gelisah dan meracau di sepanjang jalan membuat Dave berinisiatif membuka jas miliknya, lalu membalutkannya di tubuh istrinya. Namun, Alana justru menepisnya seraya berkata gerah. Berkali-kali gadis itu mengumpati Edo dan Tisa.
“Sial! Kenapa harus bertemu dengan kedua pengkhianat itu.”
Dave menoleh sekilas, hanya diam mendengarkan rancauan Alana. Ia pikir memang tak mudah menjadi Alana, disakiti kedua orang terdekatnya dalam waktu yang bersamaan.
“Setelah apa yang ia lakukan padaku, masih pantaskah dia meminta maaf padaku.”
Alana bergerak gelisah menggeser tubuhnya. “Heh, jangan harap! Aku ini bukan perempuan yang baik. Kau bilang aku ini jahat, aku ini sombong. Jadi, biarkan saja aku ini menjadi jahat,” sambungnya seraya menyandarkan kepalanya di pundak Dave.
Mobil tiba di kediaman Dave, setelah pintu gerbang yang menjulang tinggi itu terbuka. Dengan cepat Zain melajukan mobilnya masuk tepat di depan pintu rumah. Melihat atasannya tampak kesulitan, Zain dengan cepat keluar lalu membukakan pintu untuknya.
“Makasih Zain,” kata Dave.
“Sama-sama Tuan.”
Dave menepuk pipi Alana yang masih setengah sadar. “Kita sudah sampai rumah Alana. Turunlah, kita masuk ke dalam,” ajak Dave sementara Zain masih menahan pintu mobil itu.
Alana mengerjapkan kedua matanya, keadaannya masih setengah sadar. Penglihatannya bahkan terlihat buram, Dave berusaha memapah Alana keluar.
“Rumah siapa ini?” tanyanya dengan tawa sedikit geli.
“Rumah kita Alana.”
Alana menepis tangan Dave dari pundaknya, sedikit sempoyongan ia melangkah masuk. “Rumahku?” tanyanya dengan tawa yang menggelegar. “Apa aku ini bermimpi? Aku ini miskin, mana mungkin mempunyai istana seperti ini.” Alana menjatuhkan tubuhnya di teras, tubuhnya meluruh di sisi pilar. “Ternyata sakit hati, bisa membuatku berhalusinasi.”
“Tuan apa anda perlu bantuan?” tawar Zain yang masih berdiri di sisi mobil. Keduanya bergeming menatap ke arah Alana.
“Tidak perlu. Kau pulang saja," usir Dave.
“Baik!” Zain berlalu masuk ke dalam mobil.
“Alana, kita masuk ke dalam ya?" bujuk Dave.
Alana mengerjapkan matanya, berusaha memulihkan kesadarannya. “Kau siapa? Kenapa kau tampan sekali?" tanya Alana seraya menggerakkan tangannya, menjangkau pipi Dave.
“Aku Dave.”
“Dave?” ulang Alana tampak berfikir sesuatu. “Siapa itu Dave?”
“Suami–”
“Suami siapa? Aku belum menikah, bagaimana mungkin aku mempunyai suami,” sergah Alana, berusaha beranjak dari tempatnya. Dave sigap mencoba membantunya.
“Maksudku suami kontrak.” Dave segera meralat ucapannya. Namun, ia berpikir untuk apa menjawab racauan orang mabuk, bukankah itu sama saja percuma. Bisa-bisanya ia meladeni Alana. Tapi entah kenapa ia terselip rasa tidak tega untuk perempuan itu. Mungkinkah sebesar itu cinta Alana pada Edo?
Alana menatap tubuh Dave dari bawah ke atas. Lelaki yang hanya mengenakan kemeja berwarna putih itu menoleh heran. “Kenapa Alana?" tanyanya lembut.
Alana mendekati Dave, lalu menepuk dada lelaki itu. “Bajumu bersih sekali. Kenapa tidak ada cap bibir? Sepertinya akan sangat indah jika aku melukiskan cap bibirku di bajumu yang putih seperti ini,” ucapnya. Namun, Dave segera menahan tubuh Alana yang hendak mendaratkan bibirnya di pakaiannya.
“Ish, kenapa kau justru menahanku. Tenang saja, aku akan memberikan cap bibirku dengan bentuk yang sempurna. Bukankah para pria suka sekali dengan perempuan yang bersikap murahan seperti ini. Kau bilang kau suamiku, kenapa kau jual mahal?” dengus Alana menatap Dave dengan pandangan sayu.
“Sadarlah, Alana. Kau itu sedang mabuk, ayo masuk ke dalam.” Dave menyentak tangan Alana meminta perempuan itu untuk sadar, dan tak lepas kendali.
Alana menepis tangan Dave. “Aku waras. Kau pikir aku ini gila!" sergahnya dengan kedua mata yang melotot kesal ke arah suaminya.
Perempuan dengan gaun berwarna hitam itu, melepaskan high heels miliknya. Berjalan masuk dengan sempoyongan, Dave tetap siaga berada di belakangnya. Ia pikir Alana akan langsung menuju kamarnya. Namun, ia justru membelokkan tubuhnya yang sempoyongan itu ke arah sofa. Tanpa aba-aba ia naik ke atas sofa. Hal itu membuat Dave melongo, ia biarkan Alana untuk melakukan apa saja. Terselip rasa kasihan, mengingat Alana itu perempuan yang tengah patah hati. Mungkin karena bertemu kembali dengan Edo dan Tisa membuat Alana kembali merasa terluka. Dave tahu, empat tahun bukanlah waktu yang mudah untuk melupakan.
“Biar aku beri tahu kamu sebuah rahasia!” ucap Alana dengan tawa yang menggelegar. Dave memilih diam, menatap ke arah Alana.