
“Oh... Ti–tidak. Lupakan!” pungkas Alana buru-buru memutus kontak matanya. Ia dengan cepat kembali menyantap makanannya.
Tak sadar, Dave menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, kala menatap istrinya yang tengah makan dengan lahap, tanpa ada rasa malu-malu. Bukankah biasanya perempuan paling menjaga image makan di depan para lelaki. Tapi, Alana terlihat apa adanya.
“Semalam itu, kamu hanya terus mengumpati Edo.”
Alana menoleh sekilas. “Hanya itu?” tanyanya mendesak.
Dave menggeleng pelan. “Tidak."
“Lalu apa lagi?” tanya Alana penasaran.
Dave tersenyum sebelum kemudian menjawab, ”karena kau juga menciumiku dan juga muntah di pakaianku.”
Kluntang! Uhuk! Uhuk!
Mendengarnya, Alana sontak menjatuhkan sendok dan garpunya. Bahkan ia sampai tersedak makanannya. Dave dengan cepat beranjak mengulurkan minuman di depannya, pada Alana. Perempuan itu menerimanya langsung meneguknya hingga tandas.
Dave berusaha menawan tawanya, dan hanya tersenyum simpul. Alana meletakkan gelas kosong itu di depannya. Matanya kembali terkejut begitu mendapati minuman di depannya pun masih utuh. Berarti minuman yang ia minum tadi, minuman suaminya.
“Jadi, yang ku minum tadi–” Alana tak melanjutkan ucapannya, lalu menoleh ke arah suaminya.
“Punyaku,” sahut Dave membuat Alana melongo. Bahkan ia menelan ludahnya secara kasar, mana kala membayangkan jika ia minum di bekas bibir Dave. Ada yang bilang ketika kita minum di bekas punya lawan jenis, sama saja seperti tengah melakukan ciuman.
“Tenang saja. Itu masih utuh dan belum aku minum. Karena sejak tadi aku hanya minum teh,” sela Dave yang seakan mengerti pikiran Alana. Perempuan itu menarik nafas lega. Hal itu tidak luput dari tatapan Dave. Sesaat Alana jadi merasa Dave itu seperti cenayang yang bisa membaca pikirannya.
Lelaki itu menatapnya dengan pandangan geli. Padahal hanya perkara gelas kenapa bisa sepanik itu Alana. Bukankah yang ciuman langsung pun sudah sering ia lakukan.
“Dave, soal semalam aku minta maaf,” cicitnya dengan raut wajah tak enak. Ia mengambil tisu membersihkan noda sisa makanan di bibirnya.
Dave mengangguk. “Tidak apa-apa. Yang terpenting kamu baik-baik saja. Setelah mabuk semalam, dan mengeluarkan isi hatimu. Gimana sekarang? Udah lega kan?” tanyanya.
“Isi hati?”
“Hem... Ternyata kau begitu mencintai adik tiriku itu,” cibir Dave.
Alana melototkan kedua matanya, tak terima. “Mana ada?” sanggahnya.
Dave tersenyum simpul, beranjak dari kursinya, memakai jas miliknya yang sejak tadi sudah tersampir di kursi.
“Ya sudah lupakan. Aku mau ke kantor dulu ya. Kamu mau bareng?” tawar Dave.
“Enggak.”
“Dave tunggu,” cegah Alana tanpa sadar ia bahkan menarik pergelangan tangan Dave. Membuat langkah kaki lelaki itu terhenti.
“Iya? Apa kau berubah pikiran?” tanya Dave pada Alana yang saat ini beranjak dari kursinya.
Alana menggeleng. “Bukan. Aku hanya ingin membenarkan dasimu yang kurang pas.”
“Emangnya–” Dave tak lagi melanjutkan ucapannya, saat dengan sigap Alana sudah melabuhkan tangannya menyentuh dasi miliknya. Lelaki itu hanya terdiam menatap raut wajah Alana, yang tampak serius ketika membenarkan dasinya.
“Dave, aku mau bilang terima kasih untuk yang semalam,” ucap Alana di sela-sela aktivitasnya itu.
“Yang mana?” tanya Dave.
“Cincinnya bagus sekali.”
“Kau suka?” tanyanya.
“Tentu saja. Mana ada perempuan yang tidak suka diberi cincin berlian seperti ini.”
Dave mengangguk tersenyum dengan simpul. “Baiklah. Kalau besok proses kontrak tanda tangan kerjasama dengan Pak Risky lancar. Aku akan memberikan kamu hadiah yang lebih dari itu.”
“Benarkah?” pekiknya girang. Bahkan Alana tersenyum manis hingga memperlihatkan gigi putihnya.
“Tentu saja.”
“Aku menunggu.” Alana menepuk bahu lelaki itu tanda dasinya pun sudah terpasang rapi. “Sudah selesai, sana berangkat,” sambungnya.
Dave melihat penampilannya. “Kau ternyata jago juga memasang dasi. Ku pikir kapan-kapan aku perlu meminta bantuan mu memasang dasi. Karena sebenarnya aku paling malas memasang dasi.”
“Boleh,” sahut Alana singkat. Namun, tak menyurutkan senyumannya pagi itu.
“Kau tidak ingin berangkat bareng?” tawarnya lagi.
Alana menggeleng. “Tidak. Aku akan berangkat sendiri saja.”
“Baiklah, lagian hari ini aku mau berkunjung lebih dulu ke kantor cabang. Maksudku kau tidak ingin ikut saja, barangkali kau bisa bertemu dengan para sahabatmu di sana."
Alana terkekeh pelan, “Mereka bekerja Dave. Apalagi kalau boss besarnya mau datang, mana mungkin ada waktu bersantai.”
Dave menggaruk tengkuknya dengan canggung. “Baiklah aku berangkat. Kau hati-hati berangkatnya. Jangan lupa sarapan yang banyak, kau harus siapkan mental dan tenaga untuk hari ini,” pungkas Dave berlalu pergi setelah sebelumnya mengusap rambut Alana.