Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Ajak Mandi


Kamar mandi di rumah Alana terletak di bagian belakang sebelah dapur dengan ukuran kecil.


“Sayang, apakah tidak ada shower?” tanya Dave ketika berada di depan kamar mandi.


Alana yang tengah sibuk di dapur menoleh dengan kesal. Baru kali ini ia tahu suaminya begitu cerewet. “Sudah ku katakan. Jika masih di toko, kamu tidak percaya. Sudahlah kalau tidak bisa mandi pakai gayung, pulang saja,” usir Alana.


Dave berdecak, nampaknya jiwa keibuan Alana sangat melekat, istrinya itu sudah pandai mengomel. “Bisalah. Kamu ngeremehin aku ya.”


Alana hanya memutar bola matanya jengah, sejak tadi bahkan suaminya hanya berdiri di ambang pintu kamar mandi.


“Aku masuk ini.”


Dave berlalu masuk, kemudian menutup pintu kamar mandi. Beberapa saat kemudian tak kunjung terdengar gemericik air, namun...


“WUAAAA....” Dave berteriak langsung membuka pintu kamar mandi.


Alana yang terkejut langsung mematikan kompornya, menghampiri suaminya yang hanya polos setengah dada.


“Ada apa, Dave?”


Dave langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. “Sayang, di kamar mandi ada i–itu.”


“Apa sih?!” Alana membuka pintu kamar mandi mencoba mencari penyebab teriakan suaminya.


“Itu loh, sayang. Di dinding,” tunjuk Dave pada arah dinding.


Alana mengikuti arah tunjuk suaminya. “Oh tokek.”


“Ya itu apalah namanya. Usir gih, takut banget aku.”


Alana berdecak menatap suaminya tak percaya, sama tokek doang takut. Melepaskan tangan sang suami, Alana berlalu mengambil sapu ijuk, kemudian ia beranjak mengusir tokek itu dari sana.


“Udah!” kata Alana ketika sudah berhasil mengusir tokek, ia meletakkan sapunya ke lantai. “Badan gede doang, tapi hatinya hello Kitty. Sama tokek aja takut,” cibir Alana.


“Aku belum pernah lihat tokek. Ternyata gede juga ya. Terus ada bintil merahnya juga, itu serem juga.”


“Masih gedean juga komodo,” cibir Alana hendak kembali ke dapur. Namun, Dave segera meraih tangan istrinya.


“Kamu ngeledek aku ya!”


“Enggak! Udah sana buruan mandi," ujar Alana menahan nafasnya, karena saat ini suaminya tidak memakai baju.


“Ya sekalian kamu ajak dia mandi bareng aja!” celetuk Alana asal.


Wajah Dave langsung berbinar. “Wahh ide bagus, sayang.”


Alana masih heran, tadi lelaki itu mengatakan takut sekarang malah berbinar. Namun, di tengah lamunannya, Alana tersentak saat tubuhnya di seret masuk ke dalam kamar mandi oleh suaminya.


“Dave!!” teriak Alana.


Dave langsung sigap mengunci kamar pintu kamar mandi. “Kita mandi bareng.”


Alana melotot mendengarnya. Apalagi suaminya sudah melepaskan pakaiannya bawahnya, menyisakan kain segitiga miliknya. Alana memalingkan wajahnya malu, meski sebenarnya ia sudah pernah melihat isi dalamnya, tetap saja saat itu kondisi jelas berbeda. “Dave, aku mau masak. Biarkan aku keluar. Percayalah tokeknya tidak akan balik lagi,” pinta Alana.


Namun, bukannya mengiyakan keinginan istrinya. Dave justru menarik kuat tubuh Alana. Hingga membuatnya berbalik dan menabrak dadanya. Tanpa di sangka sebelum Alana membuka mulutnya, Dave langsung membungkam dengan ciumannya.


Alana terkejut, namun dengan gerakan cepat Dave meraih pinggang istrinya, sementara salah satu tangannya menahan tengkuk Alana. Lelaki itu terus me lu mat bibir istrinya, dengan gerakan lembut namun menuntut. Pelan ia mendorong tubuh Alana menuju tembok. Melepaskan ciumannya, bibir Dave beralih menyusuri leher jenjang istrinya. Mengecup, hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana.


“Dave... Ja.. ahh.” Alana terengah. Merasakan tangan suaminya yang kini menyusup di balik pakaiannya, bergerak secara sen su al.


Seperti sama-sama tengah meluapkan kerinduan sentuhan dari pasangan masing-masing. Alana yang semula merasa ingin menolak, kini mulai merasa rileks, dan perlahan ia mulai bisa mengimbangi sentuhan suaminya. Ia meletakkan kedua tangannya di dada suaminya. Bibirnya mencoba membalas ciumannya. Kini lidah keduanya saling bertautan, membelit, dan menyesap dalamnya. Mengikuti nalurinya, tangan Alana bergerak ke bawah mengusap pelan sesuatu yang keras milik suaminya.


“Sa—sayang.” Dave me leguh mana kala jemari lentik istrinya me re mas miliknya. Ia pun tak ingin kalah, dengan cepat ia merunduk melingkupi dada istrinya, yang kancing pakaiannya sudah ia buka sejak tadi. Kemudian ia bergerak ke bawah berniat menyingkap rok istrinya.


“Mami.... Mami... Gala lapar,” panggilan Gala membuatnya spontan mendorong tubuh suaminya pelan.


“Gala!” ucap Alana seolah baru sadar apa yang tengah mereka lakukan.


“Keluarlah, aku akan mandi." Dave tersenyum tipis. Menjauhkan tubuhnya tangannya bergerak cepat mengancingkan baju istrinya. Alana merapikan rambut dan pakaian bawahnya. Kemudian ia keluar dari sana.


Sepeninggal Alana, Dave men de sah kecewa. Hasratnya belum juga tersalurkan sepenuhnya.


💞


💞


💞


💞


Gitu loh kalau udah ada anak. Sering gagal, eh. maksudku susah me time berdua 😂😂😂🤭