Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Tamu


Alana tersenyum kecut. Artinya bila mana itu terjadi, tidak akan ada lagi Alana si istri pura-puranya Dave. Dan ia harap ketika perjanjian itu berakhir. Alana sudah memegang uang yang banyak untuk modal kehidupannya nanti.


“Alana, kenapa kau malah terdiam?” tanya Dave.


Alana hanya tersenyum, lalu menggeleng. “Tidak apa-apa.”


“Reuni tanggal berapa?” tanya Dave.


“Delapan.”


“Oke. Ya sudah aku masuk dulu, hari sudah malam, kamu juga jangan terlalu lama di luar Alana," ujar Dave beranjak dari sana.


****


Keesokan harinya, Alana tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan dua perempuan di rumahnya.


“Ada tamu rupanya," ujar Alana. Ia mengurungkan niatnya untuk berangkat ke kantor, toh hari memang masih terlalu pagi. Rasanya tidak sopan jika ada ibu mertuanya tengah berkunjung tapi ia tinggal pergi. Ia duduk di sofa yang bersebrangan dengan Gizka dan Natasha, di mana ia melihat pandangan kedua terlihat begitu tajam.


“Alana?” seru Gizka membuka obrolan.


“Iya Ibu mertua,” sahut Alana ramah. Tampak Natasha berdesis tak suka, tapi itu tidak membuat masalah baginya.


“Kedatangan kami kemari sebenarnya karena–”


“Tentu saja untuk berkunjung ke rumah anak menantumu kan. Ahh, sayang sekali suamiku kayaknya masih tidur, karena semalam kami bergadang,” ujar Alana tersenyum smirk, bahkan ia melihat Natasha tampak mengepalkan kedua tangannya. Hal itu membuat Alana merasa puas, karena ia tahu perempuan itu pasti berfikir hal yang tidak-tidak. Sebenarnya yang diucapkan Alana tidak sepenuhnya bohong, karena semalem keduanya memang bergadang mengobrol di gazebo.


“Mama tahu Dave itu–”


“Cukup Alana,” sergah Gizka yang sedari tadi berusaha menahan kesabarannya. Namun, justru diminta mendengarkan ucapan Alana yang sama sekali tidak penting. Ia tahu menantunya itu sengaja berbicara seperti itu untuk membuat Natasha panas.


“Oh maaf aku jadi terbawa suasana karena keenakan semalam,” celetuk Alana, membuat kedua perempuan di depannya kembali menggeram. “Ya katakan tujuan Mama dan mantan calon menantumu datang kemari itu apa?” sambungnya dengan nada tenang.


“Ambil ini!" perintahnya.


Alana memandang amplop itu dengan raut wajah bingung. “Apa itu?”


“Di dalam sini ada uang sebesar seratus juta. Cepat kamu ambil dan tinggalkan Dave.”


Alana menyeringai. “Jadi, ceritanya Ibu mertua tengah menyogok aku?" balasnya dengan tenang.


“Apalagi? Yang kamu butuhkan memang hanya uang kan?” sergah Gizka.


“Uang memang bukan segalanya, dan segalanya butuh uang. Tapi, bukan hanya itu yang aku butuhkan, aku juga membutuhkan suami.”


“Hei dasar perempuan tidak tahu diri, sudah bagus saya masih memberi kamu yang segitu banyak,” teriak Gizka berapi.


“Uang seratus juta itu, kalau buat suamiku sangat kecil, dia hanya perlu menjentikkan jarinya maka uang segitu pasti akan langsung tiba di hadapanku. Dan anda wahai ibu tiri suamiku, anda menghargai suami saya dengan uang segitu.” Alana menggeleng-gelengkan kepalanya, hal itu membuat Gizka dan Natasha mendengus jengkel. Ternyata tidak mudah membujuk Alana untuk meninggalkan Dave.


“Dasar perempuan tidak tahu diri, kau itu hanya perempuan yang–”


“Santai Ma. Kenapa kamu segitu inginnya perempuan ini menjadi menantumu. Padahal putramu sangat tidak menginginkannya? Apa yang membuat ia terlihat istimewa di matamu?” cecar Alana.


“Tentu saja karena Natasha jauh lebih segalanya dibanding kamu. Lihat saja penampilan kamu seperti gembel, di lihat dari penampilannya saja orang bisa menilai seperti apa dirimu,” sergah Gizka menunjuk penampilan Alana yang hanya terlihat biasa pagi itu. Bahkan perempuan itu sampai beranjak. Pagi itu Alana memang hanya mengenakan celana panjang serta kemeja biasa berwarna abu-abu, dengan gaya rambut di kuncir ekor kuda. Menurut Alana penampilannya baik-baik saja, tidak terlalu buruk, tentunya jika untuk pergi bekerja itu terlihat sopan.


“Ada apa ini?” teguran suara bariton terdengar dari arah belakang. Dave melangkah ke arah ketiganya, dibelakangnya tampak Zain mengikutinya dengan setia. Alana menatap ke arah lelaki itu yang lagi ini penampilannya terlihat memukau dalam balutan jas berwarna biru.


“Dave lihat apa yang dikatakan perempuan ini, dia mengatakan pada Mama yang tidak-tidak.” Natasha mulai berakting seolah-olah dirinya hanyalah korban. Alana hanya tersenyum menyeringai, ingin melihat tanggapan Dave.


“Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Aku tahu istriku seperti apa? Dia tidak akan menghina atau mencela seseorang jika kalian tidak memancingnya lebih dulu.”