Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Tertantang


Dua Minggu kemudian. Artinya ini adalah bulan ke tujuh Alana menyandang status istri dari Dave. Semua masih berjalan dengan normal. Dave semakin sibuk dengan bisnisnya. Bahkan lelaki itu bisa bolak-balik luar kota dalam satu hari. Kadang ke luar negeri. Tidak ada yang berubah, Dave masih sama lelaki yang begitu royal yang akan memberikan apa saja untuk Alana.


Kehidupan Alana yang dulu hanya dipandang sebelah mata oleh orang, kini berubah drastis. Apapun yang Alana kenakan dari ujung kepala hingga kaki merupakan barang bermerek. Semua mencerminkan jika ia layak menjadi seorang istri seorang pengusaha seperti Dave.


Hari ini Alana tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan. Ia hanya datang seorang diri. Sebenarnya Dave selalu mengatakan untuk bepergian mengajak Salma. Tapi, Alana merasa lebih nyaman kemana-mana sendiri. Sempat ia mengajak Silvi. Namun, sahabatnya itu ternyata sedang menemani Andi belanja keperluan bengkel kecilnya.


Alana berpindah dari satu stand ke stand lainnya. Sejak tadi ia tak menemukan barang apapun yang cocok dengannya. Dan kini ia berhenti di salah satu toko buku yang terkenal.


“Alana,” teguran seseorang membuat Alana membalikkan badannya.


“Tuan Nelson,” desisnya.


“Apa kabar? Lama tidak jumpa ya?” tanya Nelson ramah.


”Baik!”


Sebenarnya, tidak lama juga toh baru dua Minggu tidak bertemu. Karena saat lelaki itu mengutarakan niatnya untuk mengajaknya makan malam. Alana menolaknya, ia tahu meskipun statusnya hanya seorang istri pura-pura untuk Dave, ada baiknya ia menolak demi menjaga nama baik sang suami. Kini Nelson mengajak Alana ngobrol, sesekali menyelingi dengan candaan. Namun, diam-diam lelaki itu kerap memperhatikan wajah cantik Alana. Ia mengatakan jika dirinya habis melakukan meeting di cafe depan toko buku yang Alana kunjungi itu.


“Tuan Dave pasti sangat beruntung mempunyai istri seperti dirimu Alana,” ujar Nelson kemudian. Saat beberapa kali terlibat obrolan keduanya membahas kesibukan Dave.


Alana mengatupkan mulutnya rapat. Ia sendiri bingung. Beruntung dalam hal apa? Pernikahan itu terjadi bukan karena keinginan kedua belah pihak.


“Anda bisa saja bercandanya Tuan Nelson,” sahut Alana santai.


Nelson terkekeh. “Aku bicara fakta Alana. Jika itu suamimu itu aku. Aku pasti akan merasa paling bahagia.”


Alana terdiam, entah kenapa makin lama ia merasa tidak nyaman melihat tatapan Nelson padanya. Hanya saja mengingat lelaki itu mengatakan jika dirinya ternyata rekan bisnis suaminya, rasanya tidak sopan jika ia berlalu pergi begitu saja.


“Aku hanya bercanda Alana,” seru Nelson akhirnya. Karena ia bisa melihat perubahan wajah Alana yang terlihat kurang nyaman dengan ucapannya.


“Jangan suka bercanda dengan istri orang lain Tuan. Karena jika anda tergoda, kemudian merasa nyaman dan susah move on. Anda bisa lupa jalan untuk pulang,” sahut Alana memukul telak Nelson. Lalu membawa dua buah buku novel pilihannya.


Nelson langsung bungkam mendengar ucapan Alana. Namun, sesaat hatinya terasa tercubit, sesuatu dalam dirinya memberontak dan merasa tertantang. Ia melihat Alana sudah selesai transaksi pembayaran, kemudian perempuan itu menghampiri dirinya untuk berpamitan.


Sejenak Nelson merasa jatuh hati bukan hanya pada parasnya, namun pada sifat Alana.


Alana memang tidak membawa mobil. Keluar dari Mall, ia berniat untuk mampir ke salah satu restoran yang berada di depan mall itu. Dave mengatakan jika makanan di sana sangat enak. Karena merasa dekat, Alana nekat tidak menggunakan jembatan penyebrangan. Ia menyebrang jalan raya dengan hati-hati. Namun, tanpa Alana ketahui sebuah mobil Lamborghini dari arah barat melaju dengan kecepatan tinggi.


“Nona, awas!!” seseorang berteriak memanggilnya. Namun, Alana merasa tidak mendengar. Perempuan itu tetap melanjutkan langkahnya, hingga jarak mobil kian mendekat. Kedua mata Alana terbelalak, merasa nyawanya akan melayang saat itu juga.


Bruk!!


Seseorang tiba-tiba mendorong tubuhnya, hingga terdorong ke pinggir jalanan. Alana terjatuh, lututnya membentur aspal. Buku yang ia beli pun berserakan. Jantungnya berdetak lebih kencang, dalam sekejap ia merasa nyawanya sudah di ujung tanduk.


“Are you okay, Alana?”


Mendengar teguran seseorang, Alana pun menoleh. “Tuan Nelson!”


Terkejut ketika menyadari lelaki itu yang telah menyelamatkannya. Alana berusaha untuk beranjak dari tempatnya, dengan hati-hati. Seseorang juga membantu merapikan buku-buku Alana.


“Terima kasih, Tuan.”


Nelson mengangguk. “Lain kali berhati-hatilah, Alana.”


“Aku merasa tadi sudah aman. Tapi entah bagaimana mobil itu.”


“Iya benar, dia memang sengaja mengincarmu.”


Alana terkejut mendengarnya.


“Jika aku tak salah melihat seorang perempuan berada di mobil itu. Aku hanya melihat sekilas Alana. Jika kau mau, aku bisa membantumu memeriksa cctv jalanan ini,” sambung Nelson memberi penawaran.


Namun, Alana menolak karena ia pikir dirinya baik-baik saja itu sudah cukup. Lelaki itu juga menawarkan bantuan untuk mengobati luka Alana, juga tumpangan untuk pulang. Namun, sekali lagi Alana menolak dan memilih memanggil taksi.


Sifat Alana itu membuat Nelson merasa tersentuh. Karena hanya seorang Alana yang mampu menolak pesonanya.


“Jangan salahkan aku jika aku semakin jatuh cinta padamu, Alana.”