
Melihat raut wajah istrinya yang tengah mengadu membuat Dave merasa gemas, ia tak tahan ingin menciumnya. Namun, ia menyadari jika di sana ada pelayan pribadi istrinya.
Dave menoleh pada Salma. “Apakah sudah selesai, Salma?” tanyanya.
“Emm... Sudah, Tuan.”
“Kalau begitu bisa tinggalkan kami berdua?” pintanya.
“Baik Tuan!” Salma membungkuk. “Saya permisi, Nyonya.”
Alana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Sepeninggal Salma. Dave beranjak membuka jasnya juga dasinya yang bergantung tak normal di lehernya, ia menyampirkannya di kursi sebelahnya.
“Apa kau mau mandi, sayang?" tanya Alana ketika melihat sang suami justru melepaskan jasnya.
Dave menggeleng dan terkekeh kecil, kemudian beranjak untuk merebahkan tubuhnya di sisi Alana.
“Dave kursi banyak?” protes Alana.
“Gak! Aku kangen!” kekeh Dave kala istrinya berusaha mendorong tubuhnya agar segera beranjak. Dave dengan cepat merengkuh tubuh Alana, lalu mengecup bibirnya pelan.
“Nakal!” decak Alana karena sang suami kerap sekali mencium bibirnya tiba-tiba.
“Nakal sama istri sendiri kan gak apa-apa. Kamu juga senang aku nakalin,” balas Dave tak mau kalah, dan berhasil membuat Alana malu. Namun, tak urung ia pun melingkarkan tangannya pada suaminya.
Dave menatap wajah istrinya cantiknya yang terbias oleh pantulan matahari senja, seperti ada yang perempuan itu pikirkan.
“Dia rewel, sayang?” tanya Dave mengusap perutnya istrinya, di mana di sana anak keduanya tengah tumbuh.
“Kadang kalau pagi suka muntah. Atau kalau makan sesuatu yang gak pas.”
Dave mengangguk kecil. “Perlu ke rumah sakit atau panggil dokter sayang?” tawarnya.
“Gak usah, sayang. Morning sickness untuk Ibu hamil itu biasa. Dulu aku juga pernah mengalami hal ini. Jangan terlalu berlebihan Dave, aku baik-baik saja. Tenanglah aku hanya hamil, bukan sakit keras. Kau tak perlu sekhawatir itu. Kau bahkan banyak menunda urusan demi aku.” Alana bergerak menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Dave membiarkan istrinya melakukan apa yang ia suka, ia tetap bergerak mengusap perut istrinya.
“Maaf sayang,” civit Dave pelan.
Alana mengerutkan keningnya. “Untuk?”
“Kau pasti banyak menderita saat mengandung, Gala.” Raut penyesalan terlihat jelas, seketika aura wajahnya lelaki itu menggelap berganti mimik yang sedih. Ah! Salahkah Alana membahas masa lalu? Padahal bukan itu tujuannya, ia hanya tidak ingin sang suami terlampau khawatir.
Cup!
“Apa?”
“Jangan kembali mengungkit hal yang sama,” pinta Alana.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak suka melihat wajah suamiku yang murung. Kau tahu jika satu kata maafmu, dihadiahkan satu piring, aku pasti sudah mendapatkan beberapa lusin piring sekarang!” ucap Alana mencoba melucu. Dan hal itu berhasil, Dave jadi tertawa gemas, ucapan istrinya memang tergolong absurd. Apa hubungannya kata maaf dan piring? Entah apapun itu yang terpenting adalah Alana bahagia.
Dave lalu merundukan mencium bibir istrinya, menyesapnya pelan. Meluapkan kerinduan yang tertahan selama tiga hari. Sungguh sekarang ia tidak bisa jauh begitu lama dengan istri dan putranya. “Kau bahagia?” tanya Dave ketika ciuman itu terlepas.
Alana mengangguk pelan. “Sangat!”
“Kenapa?”
“Karena impianku sudah tercapai, lewat dirimu.” Alana kembali menyandarkan tubuhnya di dada suaminya, menarik tangan suaminya untuk mengusap perutnya, karena dengan itu ia merasa sangat nyaman. “Aku memiliki keluarga kecil yang bahagia. Suami yang begitu menyayangi aku, anak yang lucu, pintar seperti Papinya. Dan satu lagi kau mewujudkan impianku untuk memiliki usaha di bidang perhiasan, sayang. Meski aku tidak bisa mengelolanya sendiri, tapi aku merasa cukup puas dan sangat bahagia. Entah kebaikan apa yang aku lakukan hingga Tuhan kini memberikan aku kebahagiaan yang berkali-kali lipat.”
“Ketulusan,” sela Dave cepat. Membuat Alana kembali menoleh.
“Ya sayang. Hatimu yang begitu tulus yang membuat kebahagiaan serta merta datang padamu.” Dave mengusap wajahnya istrinya dengan lembut.
Alana tersenyum bergerak miring memainkan kancing kemeja putih suaminya. “Kau menginginkan sesuatu, sayang?" Ia hafal sikap istrinya saat menginginkan sesuatu, pasti mengusap-usap tubuhnya.
Alana menggangguk.
“Apa?” Dave antusias mengira istrinya ngidam
💞
💞
💞
💞.
Hayo tebak Alana ngidam apa?
Udah pada bosan belom. Hehe
Jangan lupa dilike, komentar dan hadiahnya ya. Sayang kalian banyak-banyak 💞😍🤗