Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Hanya Bercanda


Dave sengaja mengangkat tangannya, demi menahan tubuh Alana, agar tak tergeletak. Matanya melirik ke wajah perempuan itu yang terpejam. Dave jadi mikir bertengkar dengan Moni tadi pagi mungkin membuat Alana kehabisan tenaga, hingga membuatnya terasa ngantuk. Atau karena mendengar ceritanya tadi, perempuan itu jadi ngantuk.


Lagi, Dave tersenyum tipis mana kala mengingat bagaimana kejadian saat Alana mabuk. “Gadis ini benar-benar unik.”


Dave menatap dalam-dalam. “Kenapa wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Tapi, siapa ya?” gumamnya pada diri sendiri.


Tiba-tiba usapan tangan Dave membuat membuat Alana sontak membuka kedua matanya. Sontak Dave menghentikan gerakan tangannya, dengan nafas yang memburu. Namun, detik berikutnya Alana kembali menutup matanya, membuat lelaki itu menghela nafas lega.


Tak ingin kejadian yang sama terulang, Dave segera mengangkat tubuh Alana. Membaringkannya di atas sofa panjang. Kemudian, membuka jas miliknya untuk menyelimuti tubuh Alana.


Terdengar ketukan pintu dari luar, lalu Dave menyahut untuk masuk. Tak lama pintu terbuka, Zain masuk dengan membawa sebuah kardus kecil.


“Tuan ini bingkai fotonya,” kata Zain.


Dave membalikkan badannya, melangkah ke arah Zain menerima bingkai foto itu. Membawanya ke meja, tak lupa ia juga memasang foto Jessica kembali.


“Zain, bagaimana urusan Moni? Dia udah keluar dari perusahaan ini kan?” tanya Dave secara beruntun.


Zain mengangguk. “Sesuai apa yang Tuan harapkan. Dia sudah hengkang dari perusahaan ini sejak tadi, Tuan.”


“Bagus. Oh ya, tolong pesankan aku makan siang ya,” pintanya.


“Baik Tuan.”


“Dua porsi,” ucapnya sambil menoleh ke arah Alana.


“Baik Tuan, saya permisi dulu,” pamit Zain kemudian.


🦋🦋🦋


Dave masih berkutat dengan laptop di depannya dengan serius. Hingga ia tidak menyadari jika Alana sudah bangun sejak lima belas menit yang lalu, dan menatap ke arahnya.


“Kau sudah bangun?” tanya Dave begitu menoleh sekilas ke arah Alana.


“Iya Dave. Maaf tadi aku ketiduran,” cicit Alana tak enak hati.


Dave hanya menganggukkan kepalanya, menyimpan file dalam laptopnya, sebelum kemudian ia menutup laptopnya. Kemudian melangkah ke sisi Alana.


“Kita makan Alana. Kamu belum makan kan?” ujar Dave seraya menarik makanan di atas meja yang sudah Zain pesankan sejak tadi.


“Dave, aku ke kamar mandi dulu ya,” pamitnya beranjak. Alana berniat untuk keluar dari ruangan itu, namun tangannya di cegah oleh Dave, membuat Alana kembali menoleh, tatapan keduanya bertemu, mana kala pandangan perempuan itu justru beralih pada tangannya yang tengah digenggam oleh Dave.


“Aku cuma mau bilang. Pakailah kamar mandi dalam,” kata Dave melepaskan genggaman tangannya dengan wajah gugup.


“Oh, ya.” Alana berlalu, dan Dave menyugar rambutnya ke belakang. Tak lama, Alana sudah kembali dengan wajah yang segar.


“Tidak. Semua jenis makanan apapun aku konsumsi,” jawabnya sambil terkekeh geli. Dave hanya tersenyum simpul. Kemudian mempersilahkan Alana untuk makan.


Dave juga melakukan hal yang sama. Namun, baru saja ia menyendok makanan itu, hendak memasukkan ke dalam mulut. Ponsel di atas mejanya berdering. Dave meninggalkan makanan itu dan lebih memilih mengangkat panggilan.


Terlihat Dave terlibat obrolan, hingga tak lama kemudian mematikan ponselnya. Ia kembali dengan membawa laptop di tangannya.


“Dave, kau tidak makan?” tanya Alana heran.


“Kau duluan saja Alana. Aku harus mengecek email dari klien.” Dave mulai berkutat dengan laptopnya dengan serius, melupakan makan siangnya.


Namun, tak lama kemudian ia terkejut ketika seseorang menyodorkan sendok, yang berisi makanannya tepat di depan mulutnya.


“Dave, ayo buka mulutmu. Aku akan menyuapimu. Tidak baik untuk kesehatan, jika menunda makan. Memang pekerjaan itu penting, tapi aku pikir kesehatanmu jauh lebih penting,” ujar Alana.


Dave menatap manik mata hitam di depannya, seperti sebuah magnet ia pun tersenyum simpul. Kemudian membuka mulutnya, hingga Alana berhasil menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.


“Dave, aku benar-benar minta maaf soal bingkai foto tadi. Sungguh aku tidak sengaja, aku terkejut hingga membuat foto itu terjatuh,” ucap Alana.


“Tidak apa-apa Alana. Itu bisa aku beli lagi.”


“Kekasihmu itu ternyata seorang artis yang tengah naik daun itu. Dia pasti sangat beruntung mendapatkan cinta dari lelaki seperti dirimu,” tutur Alana seraya mengembalikan piring makanan ke atas meja, kemudian menarik selembar tisu.


“Kenapa?” tanya Dave.


Alana menggerakkan tangannya berniat membersihkan sisa noda di sana. “Kau lelaki yang baik, Dave.”


Dave mengambil alih selembar tisu di tangan Alana, hingga kontak mata keduanya pun terputus. “Kamu juga perempuan yang baik, Alana. Kelak kau juga pasti akan mendapatkan laki-laki yang baik untukmu.”


“Benarkah?”


“Iya!”


“Apakah masih ada laki-laki yang baik seperti mu. Kalau ada aku ingin request satu untukku,” kata Alana hal itu membuat Dave menghentikan gerakan mengunyah makanannya, menatap Alana dengan pandangan cukup terkejut.


“Alana...”


“Aku hanya bercanda, Dave. Kenapa wajahmu seserius itu,” sahut Alana tergelak seketika hal itu membuat Dave merasa lega.


“Oh ya, aku lupa bilang kalau nanti malam temani aku makan malam di rumah Pak Risky. Kami akan membahas seputar kontrak kerjasama,” kata Dave sengaja mengalihkan pembicaraan.


“Baik!”