
Alana dan Bella melangkah menuju kamar toilet, keduanya berjalan beriringan.
“Sebenarnya aku bisa sendiri, Bella.” ujar Alana.
“Saya tahu, Nona. Tapi, saya juga ingin ke kamar mandi.”
Alana berdecak. “Ayolah kenapa memakai kata-kata formal padaku. Panggil saja Alana. Terus tidak usah pake saya anda, cukup aku kamu saja. Ku rasa kita seumuran.”
“Baik No... Eh, Alana.”
Alana tersenyum senang mendengarnya. “Kau sangat cantik Bella. Dan aku yakin direktur mu itu pasti berkali-kali terpesona padamu,” pujinya.
Bella terkekeh geli. “Jangan bercanda Alana. Aku dan Pak Arfa itu ibarat langit dan bumi."
Keduanya masuk ke toilet bebarengan. “Kenapa tidak? Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah menentukan jalannya. Kau tahu Bella, aku juga dulu hanya karyawan biasa. Aku itu hanya seorang admin sales apartemen. Jangan berfikir aku itu orang kaya Bella. Aku juga sama seperti dirimu. Untuk itulah aku merasa senang bertemu denganmu. Nanti kita bisa bertukar nomor,” ujar Alana.
Bella tersenyum tipis, ”Iya Alana.”
Beberapa menit keduanya sudah selesai dari toilet. Bejalan beriringan menuju sebuah taman hotel tersebut. Tak jauh dari jangkauanya. Ia bisa melihat lapangan golf juga di sana. Pandangan Alana berpusat pada seorang perempuan yang tengah bermain golf, lalu di peluk oleh seorang lelaki dari belakang. Alana tersenyum mana kala tiba-tiba membayangkan jika hal itu pun terjadi pada dirinya dan Dave.
“Sial! Bagaimana otakku justru mengarah ke sana,” umpatnya pada diri sendiri. Bahkan ia sampai memukul pelan keningnya.
Bella menatap ke arah Alana heran, pandangannya mengarah pada pasangan yang bermain golf itu. Tampaknya mereka adalah sepasang pengantin baru. Seketika ia pun paham apa yang di pikirkan Alana.
“Ku pikir, kamu bisa mencobanya dengan Tuan Dave, Alana."
Alana menoleh ke arah Bella, sedikit terkejut jika Bella bisa mengetahui isi pikirannya. “Dave itu orang sibuk. Mana sempat bermain hal seperti itu.”
“Kata siapa? Aku bisa menyempatkan bermain golf untuk kamu, sayang.”
Suara bariton Dave terdengar, membuat kedua terkejut spontan menoleh. Mereka mendapati Dave, Zain, dan Arfa sudah berada di sisinya.
“Dave,” desis Alana beranjak dari tempat duduknya. “Sudah selesai meetingnya?” sambungnya bertanya.
“Benarkah? Kau akan mengajariku?” tanyanya beruntun.
“Tentu saja!” Dave masih memegang pergelangan tangan Alana. Namun, perempuan itu tetap bergeming, menoleh ke arah Bella. “Ayo Bella, kita bermain. Kau bilang tadi juga penasaran kan,” ajaknya.
Bella melongo seingatnya ia tidak mengatakan hal itu. Lalu ia menggeleng. “Tidak Nona. Saya tidak bisa,” tolaknya. Ia memilih memanggil dengan Nona lagi saat di hadapan Dave dan Arfa.
“Ahh mana seru kalau aku hanya bermain sendiri. Tenang saja, Pak Arfa pasti akan dengan senang hati mengajarimu. Iya kan Pak?” bujuk Alana, menoleh pada Arfa dengan wajah memohon. Dave berdecak, istrinya itu memang pandai bersandiwara.
Tanpa di duga Arfa pun mengangguk, spontan menarik tangan Bella masuk ke mengikuti langkah kaki Alana, setelah sebelumnya memberikan tas Bella yang tertinggal tadi.
Zain berjalan sendiri di belakang. Sejenak ia harus meratapi nasibnya yang tidak mempunyai pasangan. Namun, itu tidak menjadi masalah karena di sana ia pun bertemu dengan rekan bisnis bossnya yang lain, jadi ia ada teman mengobrol. Meski sesekali ia akan menjadi photografer untuk kedua pasangan itu.
“Dave kau benar, setelah makan kue nastar buatanku sifat Pak Arfa jadi manis ke Bella.” Alana melirik ke arah rekan bisnis suaminya itu. Di mana Arfa tengah mengajari Bella bermain golf, dengan Arfa yang berada di belakang seperti tengah memeluk.
Dave menghela nafasnya, padahal posisi Arfa juga sama seperti dirinya saat itu. Ia pun seperti tengah memeluk Alana dari belakang. “Hemm... Kenapa kau malah memuji pria lain. Biarkan saja mereka. Ayo coba sendiri, kau pasti bisa,” ucapnya seraya mengurai dekapannya dari belakang, meminta istrinya untuk mencoba bermain sendiri. Bermain golf dengan kemeja sungguh tidak nyaman.
“Yah melesat jauh!” desisnya kesal.
.
.
.
.
.
Maaf ya baru update. Akhir bulan sibuk guys. Banyak deadline. wkwkkwk
Jangan lupa tekan tombol like, komentar dan hadiahnya guys. Masih adem ayem ya hubungan mereka, belum aku guncang apapun.wkwkkw