Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Prasangka


Dave menatap nanar kepergian Jonas. Ia merasa ada sesuatu yang lelaki itu sembunyikan. Mengenyahkan pikirannya, Dave tidak mau mengambil pusing untuk hal itu. Urusan kantornya saja bahkan sudah menguras energi.


Dave menghela nafasnya, menarik laci mejanya, kemudian mengambil satu bungkus rokok dan korek api. Membukanya, ia mulai menyalakan satu batang rokok. Sebenarnya, ia bukanlah seorang perokok aktif, hanya saja kadang dikala otaknya tengah buntu dan frustasi, ia lebih melarikan diri dari barang yang mengandung nikotin itu. Baginya itu lebih baik, jika dibandingkan ia harus lari ke bar, lalu mabuk-mabukan. Bukankah itu akan merusak citra nama baik keluarga.


“Dave, kamu merokok?” tanya Alana mencoba menegur lelaki itu pelan.


Dave yang sejak tadi terdiam, kini menoleh ke arah perempuan itu. Ia baru sadar jika di situ sejak tadi ada Alana. “Oh ini aku, hanya karena... Pusing.”


Alana mengangguk, lalu menutup mulutnya, kala kepulan asap rokok Dave justru menganggu dirinya. Hingga membuat dirinya terbatuk-batuk. Alana sontak menjauh dari sisi Dave, dan memilih kembali duduk ke sofa.


Dave segera mematikan rokoknya, melihat Alana terganggu dengan asapnya. “Maaf,” cicitnya.


Alana terlonjak mendengar kata maaf yang terucap dari bibir lelaki itu. “Dave kenapa minta maaf. Kau tidak–”


“Sebenarnya aku tidak terlalu suka rokok. Hanya saja kadang kalau pikiranku lagi kalut seperti ini, aku merasa membutuhkannya,” kata Dave seraya menyugar rambutnya ke belakang. Melangkah pelan ke dekat jendela kaca yang membentang panjang, Dave menghadap ke arah pemandangan luar. Saat ini pikirannya begitu bercabang.


“Kadang aku berpikir jika aku itu bukan anak kandung, Papa.”


Perkataan Dave membuat Alana terperangah. “Dave! Apa yang kau katakan?”


Dave hanya tertawa kecil, menutupi rasa getir hatinya. “Kau lihat perlakuannya tadi terhadapku kan, Alana. Apakah begitu caranya orang tua yang menginginkan anaknya bahagia?”


Alana menggelengkan kepalanya, pelan ia beranjak mendekati suaminya. Lelaki itu kini, tampak duduk di lantai dengan pandangan mengarah pada pemandangan luar. Alana menekuk kedua lututnya di sisi Dave.


“Tidak seperti itu, Dave. Semua orang tua, ingin yang terbaik untuk anaknya. Papa mu hanya ingin kau tidak salah dalam mencari seorang pendamping. Dia tidak ingin kau salah mengambil jalan melangkah.”


Dave tersenyum masam. Kedua matanya mengarah pada langit yang terlihat begitu cerah. Namun, tak menyurutkan rasa letih hatinya. “Begitu ya menurutmu?”


Alana mengangguk, mengikuti arah pandang sang suami. “Pemandangannya ternyata di sini begitu indah,” puji Alana takjub.


“Iya, apalagi kalau udah sore. Kau bisa lihat matahari terbenam. Jadi, kau seperti bisa melihat sebuah sunset di pantai Alana.”


“Wahh, aku jadi penasaran!”


Alana terkikik geli, bagaimana mungkin harus menunggu sampai sore. Sedangkan, saat ini waktu baru menunjukkan pukul dua belas siang.


“Ayolah Tuan Dave. Kau jangan bercanda, ini bahkan baru pukul dua belas siang,” kata Alana mencebik, hal itu berhasil membuat Dave tertawa kecil.


Sebuah tawa yang berkharisma, bahkan jika di tatap lebih inci, Dave sangat tampan. Sesaat, Alana merasa takut jika suatu hari ia akan terjerat dengan pesona lelaki itu. Tidak menutup kemungkinan hal itu bisa terjadi kan? Dave laki-laki yang begitu baik, mapan, cerdas.


“Kau melamun Alana?” tegur Dave seraya melambaikan tangannya di depan wajah Alana.


“Oh tidak, tadi itu aku hanya–”


Dave menghela nafasnya. “Menyedihkan.”


“Kenapa?” tanya Alana heran.


“Aku sudah sebesar ini. Tapi, aku begitu merindukan sebuah pelukan.”


“Hah?” Alana melongo.


“Maksudku, pelukan seorang Papa, Alana.” Dave segera meralat ucapannya, membuat Alana mengangguk paham. “Papaku memang orang yang baik Alana, dia tidak pernah memukulku, tidak pernah membentakku, sebelumnya. Dia selalu menuruti mencukupi finansialku sejak kecil. Dia tidak pernah membiarkanku kekurangan. Tapi... Dia tidak pernah mengerti, kalau aku juga butuh kasih sayang.”


Alana mendengarkan cerita Dave dengan baik, bahkan ia sengaja sedikit menggeser tubuhnya lebih mendekat ke arah lelaki itu. “Mamaku meninggal di usiaku menginjak dua belas tahun.”


“Karena apa?”


“Gagal jantung.”


Alana terhenyak, merasa semakin tertarik dengan cerita Dave. Meski berkali-kali ia bahkan menguap, entahlah tiba-tiba merasa ngantuk. “Aku ingat, saat itu aku baru pulang sekolah. Hari itu aku dijemput Mama. Aku merengek meminta Mama untuk mengantarkan ke kantor Papa, aku bilang aku merindukannya. Mama menuruti keinginanku. Tapi, begitu tiba di ruangan Papa, kami terkejut mendapati Papaku yang tengah bercinta dengan perempuan, yang aku ketahui itu sekretarisnya, yaitu Tante Gizka. Entah bagaimana, Mama langsung anfal dan jatuh pingsan.”


Pluk!


Dave terkejut menoleh ke arah samping, ternyata Alana menjatuhkan kepalanya di pundaknya. “Ya ampun, dia malah tidur,” gumamnya tersenyum geli.