
Tuhan, bolehkah saya bercerita sedikit tentang seorang lelaki yang sedang bersama saya saat ini? Sosoknya berwibawa, tampan, penuh pesona, kerja kerasnya luar biasa. Saya mencintainya... Dia lelaki yang sangat baik. Saya merasa beruntung dipertemukan dengannya, lalu pernah singgah di kehidupannya. Tuhan... Bila memang esok tiba masanya, aku harus pergi dari sisinya. Maka berikanlah wanita yang bisa lebih mengerti dirinya dibandingkan saya. Seorang wanita yang lebih mencintainya dibandingkan saya.
Hening, baik Dave dan Alana keduanya hanya terdiam tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya asyik melihat ribuan bintang yang bersinar di gelapnya malam.
“Kau benar Dave. Sepertinya aku harus bangun dari mimpiku,” seru Alana setelah beberapa saat terdiam memikirkan ucapan Dave.
“Lalu?”
Alana menarik kepalanya dari bahu suaminya. Ia tersenyum manis. “Mulai besok aku akan bangun dan berhenti bermimpi tentang cinta.”
Dave mengerutkan keningnya, memandang Alana dengan tatapan bingung. Hingga perempuan itu beranjak dari tempat duduknya, menatap langit malam. Kemudian detik berikutnya Alana melirik arloji di tangannya.
“Dave, aku merasa bosan dan sedikit mengantuk. Bolehkah aku pulang lebih dulu?” tanyanya menoleh ke arah suaminya.
“Tapi pestanya kan...”
“Ayolah Dave. Aku sungguh merasa sangat ngantuk. Kau tahu beberapa hari terakhir aku bolak balik rumah sakit, ini membuat tubuhku sedikit lelah,” bujuk Alana dengan wajah memelas.
“Tapi, Alana aku kan..”
“Aku bisa pulang sendiri, Dave. Kau di sini kan ada Jessica. Tidak apa, kau pulang tunggu pestanya usai.”
Dave menghela nafas berat. Namun, sorot mata permohonan Alana membuatnya tak bisa menolaknya. “Baiklah, biar Zain yang mengantarmu.”
Alana pun berlalu dari hadapan Dave. Di ambang pintu perempuan itu kembali menoleh ke arah suaminya dengan tatapan sendu. Setelahnya, Alana langsung mempercepat langkahnya keluar dari hotel itu.
Kini mobil melesat menjauh dari area hotel Santika. Gemerlap lampu ibu kota, juga keramaian malam Minggu tak menyurutkan rasa sedih Alana. Kedua matanya berkaca-kaca, membayangkan pernikahan ini harus berakhir dengan menyisakan luka. Alana memalingkan wajahnya ke arah jendela, mengusap sudut matanya yang basah.
”Nona, apakah anda membutuhkan tisu?” tanya Zain seraya mengulurkan kotak tisu pada Alana. Kebetulan mobil berhenti tepat di lampu merah.
Alana tersenyum di balik tangisnya. “Di sini ada, Zain.”
Alana menggeleng. “Ku pikir itu bukan sesuatu yang penting. Sudahlah aku baik-baik saja.”
Zain menghela nafasnya, kembali melajukan mobilnya. Memilih diam untuk tak ikut campur rumah tangga sang atasan. Mobil memasuki pelataran rumah Dave. Alana langsung turun setelah mengucapkan terima kasih pada Zain.
Alana langsung berlalu masuk ke dalam, menuju kamarnya. Memikirkan langkah selanjutnya. Ia mulai berkemas bersiap untuk pergi pada esok hari.
💞💞
Sementara itu, sepeninggal Alana. Dave kembali ke dalam pesta. Namun, entah bagaimana tiba-tiba ia merasakan hatinya gelisah. Entah apa yang terjadi, bahkan ketika rekan bisnis yang lainnya mengajaknya untuk mengobrol ia menjadi tidak fokus. Tenggorokannya terasa kering.
Seorang pelayan membawakan satu gelas minuman, yang langsung di sambar oleh Dave. Lelaki itu meneguknya hingga tandas, seketika dahaganya pun terobati.
Namun, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terasa panas. Padahal ruangan itu ber-AC cukup tinggi.
“Apa yang terjadi?” gumamnya lirih. Ia mulai merasa aneh pada tubuhnya, bahkan kepalanya pun ikut pusing. Ia seperti merasakan sesuatu dalam dirinya ingin meledak, hingga otaknya hanya terpusat pada satu hal kepuasan.
Seorang perempuan tak jauh dari jangkauannya tersenyum kemenangan, mana kala melihat bubuk obat yang ia masukan ke dalam minuman telah berhasil di teguk oleh Dave hingga tandas.
“Kau masuk ke perangkap ku Dave. Setelah ini tidak ada alasan lagi untukmu menghindar dariku. Karena kau akan menjadi milikku seutuhnya,” ucapnya penuh kemenangan. Mana kala melihat Dave mulai menarik dasinya. Secepat itu obatnya bereaksi.
💞
💞
💞
Maaf novelnya menguji kesabaran. Tapi, aku tidak mungkin merubah alur yang sudah aku susun. Semoga kalian tetap sabar ya, aku juga harus bagi-bagi waktu dengan real life. 😊😊