Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Lupa


Silvi masih berdiri di ambang pintu yang menghubungkan roof top hotel itu. Sementara Zain sudah melenggang pergi dan duduk di kursi, di mana meja dan kursi sudah dihias dengan kain berwarna putih. Di atas meja terdapat beberapa hidangan istimewa hotel bintang lima itu, juga vas bunga yang berisi bunga mawar putih. Juga sebuah lilin, terkesan romantis bukan. Namun, dia melupakan sesuatu.


“Vi, kamu tahu kalau....” Zain tak melanjutkan ucapannya, mana kala ia menyadari jika ia justru meninggalkan Silvi, yang masih berdiri di ambang pintu. “Ya Tuhan. Apakah gadis itu masih berdiri di sana saja? Bisa-bisanya aku lupa menggandeng tangannya,” sambung Zain merutuki diri.


Jika Nana mengetahui kejadian ini, perempuan itu pasti akan tertawa habis-habisan. Luar biasa betapa kakunya seorang Zain? Ya, semua ini ide dari Nana. Meskipun menurut Zain ini menggelikan, seumur hidupnya ia tidak pernah makan malam romantis seperti ini. Tapi, demi Silvi dia akan mencobanya.


Zain kembali beranjak, dan menghampiri Silvi. “Ayo. Kenapa kamu cuma berdiri saja.” Zain meraih telapak tangan Silvi lalu membawanya duduk di kursi.


“Aku pikir tadi, aku cuma disuruh lihatin kamu doang,” ujar Silvi ketika sudah duduk di kursi.


”Konyol!” celetuk Zain.


”Apa?”


“Em.. maksudnya aku yang konyol, bisa-bisanya aku lupa. Kalau aku bawa kamu,” ralat Zain kemudian. Ia menyentak nafasnya berulang kali, berusaha mengenyahkan sifat-sifatnya yang mungkin bisa menimbulkan perdebatan pada gadis di depannya. Entah berapa kali ia menahan nafasnya. Bak seorang mahasiswa yang mau melakukan sidang skripsi, luar biasa gugupnya. Tak ia duga melamar seorang gadis lebih mendebarkan dibandingkan menghadapi para investor perusahaan atasannya.


”Ayo makan. Ini salah satu menu yang enak lho di restoran hotel ini. Masih baru, jadi kamu pasti belum mencobanya.”


Silvi mengangguk, ia tahu jika Zain sebenarnya bukan tipikal pria romantis. Hanya saja lelaki itu tengah berusaha mengesampingkan sifat kakunya. Bolehkah ia merasa senang, meskipun lelaki itu belum menyatakan perasaannya lagi.


“Enak sekali,” puji Silvi tersenyum manis.


Untuk sejenak Zain yang melihatnya terkesima. Baru kali ini ia bisa melihat Silvi tersenyum, biasanya gadis itu selalu menunjukkan wajah juteknya saat bersama dengan dirinya.


“Kalau kau suka, nanti bisa nambah lagi,” sahut Zain.


Silvi menggeleng. “Gak perlu. Setelah makan kita pulang kan?”


”Eh, belum. Jangan dulu,” pungkas Zain cepat. Dia meletakkan peralatan makannya di ke atas piring. Karena rasa gugupnya, mendadak ia jadi merasa kenyang. Luar biasa efek jatuh cinta ternyata. Tidak makan pun terasa kenyang. Pantas saja saat itu sang atasan yang ditinggal istrinya minggat, sering mengabaikan makannya. Jadi seperti ini? Zain baru paham.


“Zain?” tegur Silvi karena lelaki itu hanya diam dan terus menatapnya.


Zain yang sedang melamun tersentak, lalu tersenyum canggung. Ia berdehem berulang kali demi menyamarkan rasa gugupnya.


“Vi, jadi gini sebenarnya....” Zain menggantungkan ucapannya, saat melihat Silvi justru meletakkan peralatan makannya, lalu menatap ke arahnya dengan intens, dengan satu tangan sebagai penumpu wajahnya, tak lupa senyum manis di bibirnya.


“Sial, aku malah gugup banget,” maki Zain dalam hati.


“Zain! Ayo lanjutkan. Kamu mau ngomong apa?” seru Silvi.


Zain menghela nafasnya, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. “Gini deh aku gak mau basa-basi lagi. Aku juga bukan tipikal pria romantis. Niatku tentu saja untuk melamarmu menjadi istriku. Gimana?”


Untuk sejenak Silvi melongo mendengarnya.


💞


💞


💞


💞


💞


Cerita Zain dan Silvi ini masuk ke dalam bonus chapter, jadi no konflik ya. Aku tamatin kalau mereka udah nikah ya? Atau gimana?


Jangan lupa like, komentar dan hadiahnya.