Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Adonan


Masih pukul tiga sore. Namun, Dave sudah tiba di rumah. Lelaki itu berkali-kali mengacak-acak rambutnya, bahkan ia sudah melepaskan jas miliknya, dan melonggarkan dasinya.


Ia berniat untuk melangkah ke kamar. Namun, niatnya terurungkan saat mendengar tawa istrinya area dapur. Dave memilih melangkahkan kakinya ke dapur, guna melihat apa yang tengah istrinya itu lakukan. Kedatangan Dave tentu membuat para pelayan terkejut, lantaran lelaki itu hampir tidak pernah mengunjungi dapur. .


Dave meminta para pelayan itu untuk diam, dan meninggalkan keduanya. Sementara ia terus melangkah ke arah istrinya, yang tampak cekikikan.


“Kau tahu Grandma. Dave bilang kue nastar buatanku itu enak. Bagaimana kalau Grandma secepatnya pulang, agar kita bisa menikmati kue buatanku bersama,” ujar Alana.


Dave mengangguk sekarang ia jadi paham, istrinya itu tengah telponan dengan Grandma Ambar.


“Bukan itu yang Grandma inginkan, Alana. Tapi kapan kau akan berikan Grandma cicit. Enam bulan lagi Grandma akan kembali ke Indonesia, aku berharap akan ada kabar baik darimu dan Dave,” seru Ambar jauh di sana.


Alana mengigit bibir bawahnya, terdengar ia mendesah resah. Enam bulan lagi? Artinya saat itu ia tidak akan lagi bertemu dengan perempuan baya itu, sandiwara ini akan berakhir. Begitupun dengan Dave yang terdiam bungkam.


Namun, detik berikutnya lelaki itu terkejut mendengar jawaban yang Alana berikan. “Tenang saja Grandma, aku sedang buat adonan.”


“Wah, benarkah? Lalu kenapa kau justru sambil menelpon? Pasti cucuku akan marah.”


“Maksudnya membuat adonan kue, Grandma.” Alana meralat ucapannya kemudian sambil tergelak. Gadis itu membuat bentuk adonan itu menjadi bulat setelah di dalamnya telah di isi selai nanas. Dave sampai melongo mendengarnya, Alana selalu mempunyai cara tak terduga menjawab ucapan seseorang.


“Dasar cucu menantu nakal. Kamu dan Dave memang cocok sama-sama tukang bercandain Grandma,” keluh Ambar kesal. Alana hanya tersenyum masam. ”Ya sudah aku mau istirahat dulu.”


Ambar mengakhiri panggilannya. Alana mengambil loyang open yang sudah berisi adonan kue nastar yang masih mentah, lalu berbalik. Terkejut mendapati sang suami berdiri di belakangnya.


“Dave, kau sudah berdiri di sini sejak tadi?” tanya Alana terkejut. Bahkan ia hampir menjatuhkan loyang kuenya, jika Dave tak sigap menahannya.


“Lumayan untuk mendengar obrolanmu dan Grandma.”


Alana menelan ludahnya, beruntunglah tadi ia tak berkata yang aneh-aneh. “Tumben sekali jam segini sudah pulang?” tanya Alana berlalu memasukkan kue nastarnya ke dalam oven. Sementara, Dave duduk di kursi yang berada di dapur itu. Menatap adonan kue nastar yang sebagian belum Alana bentuk.


“Pengen pulang cepat aja,” sahut Dave tangannya menekan-nekan adonan kue di atas meja.


“Dave ihh. Tanganmu itu kotor, pasti banyak kuman. Mandi dulu sana, jangan recokin aku,” omel Alana dengan bibir yabg mengerucut sebal, menepis tangan suaminya.


Dave menarik tangannya kembali, tapi tak ada niat untuk beranjak dari tempatnya. Ia justru memangku tangannya untuk menopang dagunya, lalu matanya menatap ke arah Alana yang sibuk membentuk adonan kue nastar. Seakan tengah memikirkan sesuatu. “Kau mengenal Nelson, Alana?” tanyanya tiba-tiba. Sontak gerakan tangan Alana langsung berhenti.


”Tuan Nelson?” ulang Alana.


“Oh dia yang waktu itu mobilnya aku tabrak, tapi tidak mau aku ganti. Terus dia ngajak aku makan malam. Tapi aku menolaknya, kau kan tahu itu Dave.”


Dave mengangguk, karena saat itu Alana bercerita tentang penolakan makan malam itu. Tapi, Dave sama sekali tidak mengira jika lelaki yang Alana maksud adalah Nelson. “Bagaimana pendapat mu tentang Nelson?” tanyanya lagi.


“Emmm...” Alana terlihat berpikir sejenak. “Baik,” sambungnya kemudian.


“Hanya itu?” desak Dave.


Alana berdecak, “Kau itu sebenarnya kenapa si Dave? Bertanya-tanya tentang laki-laki lain, padaku. Aneh! Aku kan hanya baru bertemu dengannya tiga kali, itupun secara tidak sengaja.”


“Apa?! Tiga kali?!” seru Dave terkejut.


Alana semakin heran dengan tingkah suaminya yang terlihat kaget itu. “Iya tiga kali. Pertama waktu kecelakaan itu, kedua di pesta Nona muda mantan tunangan mu itu, ketiga–”


“Di mana?” desak Dave memotong ucapan Alana.


“Kemarin lusa waktu di mall, pas aku beli buku. Dia juga yang nolongin aku waktu aku hampir celaka, mau ketabrak mobil,” ceplosnya membuat ia langsung menutup mulutnya saat kelepas bicara.


“Kau hampir celaka?”


“Ayolah lupakan, Dave. Kan sudah ku katakan jika aku hanya kurang hati-hati saja waktu itu.”


“Tapi aku merasa ada yang aneh, Alana.” sela Dave. “Aku merasa kejadian yang menimpamu itu di sengaja.”


“Aku tidak tahu. Tuan Nelson mengatakan jika di dalam mobil itu seorang perempuan.”


Dave semakin terkejut mendengar, rasanya ia perlu menyelidiki kasus ini. “Dan hanya karena itu, kau menganggap dia adalah pria yang baik?”


“Tentu saja. Karena dia telah menyelamatkan nyawaku yang berharga ini. Memangnya ada apa sih Dave. Tumben kamu pulang-pulang bertanya soal laki-laki lain padaku?” seru Alana penasaran.


Dave beranjak dari tempat duduknya. “Tidak ada apa-apa hanya saja...” Dave mengambil sisa tepung di atas meja dengan jari telunjuknya. “Kau semakin cantik dengan tepung ini di wajahmu Alana,” sambungnya mencolekkan tepung itu di hidung Alana.


”Dave!” pekik Alana kesal akan kelakuan sang suami yang sore itu terlihat aneh.