Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Mencintaimu


Dave merubah posisinya menjadi duduk, menatap ke arah istrinya dengan rasa ingin tahu.


Sementara Alana menghela nafasnya, lalu membuang mukanya ke arah lain. “Tidak semudah itu, Dave. Ada hal yang aku pertimbangkan sebelumnya.”


“Katakan?”


“Pertama aku berpikir jika kau sudah menikah Jesicca. Aku tentu tidak ingin kau mengambil Gala dariku.” Alana memainkan tangannya.


“Lalu apa lagi?”


Alana menatap ke arah suaminya. “Aku tahu Dave. Seandainya sejak awal saat aku tahu mengandung putramu, lalu aku datang padamu. Kau pasti akan bertanggung jawab.”


“Lalu kenapa kau tidak datang?”


Alana menggelengkan kepalanya. “Bukan hanya tanggung jawab yang ku inginkan. Kau pikir mencintai seseorang secara sepihak itu tidak sakit apa?” keluh Alana berwajah sendu, saat mengingat bagaimana saat itu Jessica selalu menempel ketat pada suaminya.


“Maaf!” sesal Dave. Apalagi yang bisa ia katakan, semua memang ia yang salah. Pelan, ia menggenggam tangan istrinya. Sejenak perkataan Edo dan Silvi lima tahun lalu kembali terlintas. Hingga rasa bersalah itu kembali merasuk ke dalam hatinya.


“Aku mungkin tidak bisa menghapus kenangan buruk itu. Tetapi, secara pelan aku akan memperbaikinya. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua itu,” pinta Dave.


Alana memandang suaminya sejenak. “Jika aku tidak memberimu kesempatan, untuk apa aku kembali, Dave.”


Dave mengulas senyum haru mendengarnya.


“Kau tahu Dave, di mataku kau itu lelaki yang begitu sempurna. Hingga saat sakit hatipun aku tetap tidak mampu untuk membencimu. Aku... Aku...” Alana mulai terisak.


Dave langsung menarik tubuh istrinya, mendekapnya dengan penuh cinta. “Cukup, Alana. Tidak perlu diteruskan, aku mengerti segala dukamu saat itu.”


“Dave percayalah aku benar-benar jatuh hati pada perilaku lembutmu padaku, tidak lama setelah pernikahan kita terjadi. Aku bahkan selalu bermimpi seandainya kita bukan hanya menikah kontrak, aku akan menjadi perempuan yang paling bahagia. Namun, setelah kehadiran Jessica kau berubah. Kau kembali menjadi orang asing bagiku. Hal itu membuat aku sadar, Dave. Jika aku memang tidak berarti untukmu. Jadi, aku memilih pergi malam itu."


Dave mengangguk setelah mengurai dekapannya, mengecup kening, hidung, dan bibir istrinya dengan lembut. “Sekarang kau tidak hanya bermimpi. Aku akan menjadikan semua itu nyata. Aku sangat mencintaimu, Alana."


Alana tersenyum haru, sejak dulu ia selalu menantikan kata-kata ini dari bibir lelaki itu. Spontan ia langsung memeluk suaminya dengan erat. “Aku menunggu kata-kata ini sejak dulu, Dave.”


Dave terkekeh gemas, sederhana itu ternyata keinginan Alana. Padahal ia pikir dengan segala perhatiannya, perempuan itu akan paham betapa sebenarnya Dave juga sudah mencintainya sejak dulu. Namun, ternyata ungkapan cinta itu sangat penting bagi kaum perempuan.


Setelah ungkapan hati Alana selesai. Dave menarik tubuh istrinya, memintanya untuk berbaring di pangkuannya. Sementara lelaki itu memainkan ponsel istrinya, yang isinya hanya berupa game dan aplikasi bacaan novel online.


“Dave, kau belum katakan di mana Jessica?” tanya Alana sambil menggerakkan jarinya di dada suaminya.


“Dave?” desis Alana.


“Sungguh sayang, aku tidak tahu. Dia dan keluarganya entah pindah ke mana,” seru Dave kemudian menceritakan rangkaian kejadian lima tahun lalu.


“Wahh kok bisa ya kamu ingat pulang padahal dalam pengaruh obat, katanya cinta dia, harusnya terkam aja,” cibir Alana.


Dave menghela nafasnya. Padahal Alana yang meminta untuk membahas Jessica, sekarang dia malah kesal. Untunglah stok kesabaran Dave itu masih banyak.


Alana mengubah posisinya menjadi duduk. “Jessica cantik, seksi dan emmhhh...”


Alana melotot ketika bibirnya langsung dibungkam dengan ciuman oleh suaminya. Lelaki itu me lu mat nya sejenak. “Gak ada perempuan yang lebih baik dibanding istriku,” kata Dave kemudian. Hal itu langsung membuat Alana tak lagi bisa berkata-kata, pipinya merona.


“Mau ke mana?” tanya Dave ketika Alana beranjak dari tempat duduknya.


“Dapur, aku mau buat kop—”


“Dilarang meminum kopi, Alana.” Dave kembali menarik tangan istrinya, membuatnya langsung jatuh ke ke sofa. “Tidurlah. Ini sudah malam.”


Dave menarik tubuh Alana untuk tidur di pangkuannya. Mengusap rambutnya dengan pelan. “Oh ya, kemana sebenarnya kamu menghilang selama lima tahun ini?” tanya Dave ingin tahu.


“Samarinda.”


Dave mengangguk. “Kenapa aku tidak bisa menemukannya?” gumamnya heran.


Alana tersenyum simpul. “Tentu saja, karena Brian melindungiku, menghapus jejak digital agar dirimu tidak bisa menemukanku.”


“Siapa Brian?” tanya Dave tak suka saat istrinya menyebutkan nama pria lain di hadapannya. Cemburu? tentu saja.


Alana mengusap menenggelamkan kepalanya di perut suaminya. Tangannya memeluknya dengan erat. “Suaminya Kak Natasha.”


Dave terkejut mendengarnya. “Jadi, selama ini—”


“Iya dia yang membantuku. Kau pasti tidak pernah berpikir ke arah sana.”


Tentu saja Dave tak menyangka, mengingat di matanya Natasha itu begitu licik, mana tahu jika mereka sudah baikan. ”Berani sekali dia menyembunyikan istriku!”


“Aku yang memintanya!” sela Alana.