Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Natasha Kembali Berulah


“Dirgantara Karya, bagian administrasi,” jawab Alana seraya menggigit bibir bawahnya.


“Hemm... Cinta lokasi rupanya.” Pak Risky tertawa dengan geli. “Kapan pernikahannya Dave? Kenapa aku tidak menerima undangan apapun?" tanyanya.


“Sekitar sepuluh hari yang lalu.” Dave menjawab dengan enteng, raut wajahnya tampak tenang. “Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga. Karena istriku tidak menyukai kemewahan, ia lebih suka yang sederhana. Karena saya mencintainya tidak ada salahnya menuruti permintaannya,” sambungnya.


Dengan penuh kelembutan Dave mengusap rambut Alana yang basah. Ia meraih tisu di atas meja, lalu mulai mengelap rambut istrinya dengan lembut.


“Dave, aku bisa melakukannya sendiri,” tolak Alana pelan.


“Santai saja sayang. Jangan kaku begitu. Mentang-mentang ada banyak orang. Bukankah kita sudah terbiasa melakukannya hal yang lebih,” sahut Dave mesra. Seakan-akan keduanya sudah terbiasa melakukan adegan kemesraan.


Tangan Dave yang kekar, terasa lembut ketika mengelap rambutnya. Alana merasa jantungnya berdegup kencang, belum lagi. Perkataan Dave barusan seperti mengingatkan ucapannya kala itu. Bagaimana ia dengan berani mengecup bibir lelaki itu, kemudian mengatakan jika keduanya telah terbiasa melakukan adegan bercinta secara kasar. Alana menelan ludahnya, ia merasa seperti tengah terjebak ucapannya sendiri, layaknya sebuah karma.


“Baiklah, aku akan menunggu kalian di rumahku untuk makan malam sekalian membahas tentang penandatanganan surat kontrak kerja sama.” Pak Risky bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh yang lain termasuk Natasha.


“Pak, bisakah pertimbangkan masalah ini?” ujar Natasha menatap ke arah Dave dengan wajah tidak senang. “Mereka berdua telah menyakitiku. Mereka berdua sudah mengkhianati ku, bagaimana bisa anda justru menjalin kerjasama dengannya.”


Merasa harus membela Dave. Alana pun berucap. “Kami sudah lama saling mengenal, kami juga saling mencintai. Masalah batalnya rencana pertunangan anda dengan suamiku, itu di luar masalah kami. Bukankah sudah suamiku tegaskan jika dia tidak pernah setuju dengan perjodohan itu.”


“Kamu!!” Natasha memandang Alana dengan marah. “Berani sekali ikut campur masalah kami,” sambungnya.


“Sudah-sudah. Aku paham sekarang!” Pak Risky melerai perdebatan mereka. “Natasha kita bisa membicarakan kerjasama sama yang lainnya lain kali, tentu saja jika kau sudah menikah,” lanjutnya.


Pak Risky kembali memandang ke arah Dave. “Dave aku tidak menyangka seorang miliarder seperti dirimu, menjatuhkan pilihan pada seorang gadis yang sederhana. Dulu yang ku pikirkan kau hanya akan menyukai gadis sejajar denganmu. But, it's okay. Aku suka, kalian sangat serasi. Alana gadis yang lembut, aku tunggu kedatangan kalian, istriku pasti akan senang menyambut kedatangan kalian,” ujar Pak Risky seraya keluar dari restoran itu.


Alana terhenyak di kursinya, ia menyambar segelas air putih di depan Dave, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk. Dave menatap ke arahnya dengan raut wajah melongo. Alunan musik merdu yang terdengar dari restoran membuat hatinya kian terasa gundah. Masalah ini akan semakin panjang. Ia pikir setelah malam itu menghadiri acara makan malam di rumah Dave permasalah Dave dengan mantan calon tunangannya itu akan selesai, nyatanya ia berkali-kali harus berhadapan dengan perempuan itu.


“Kenapa kau suka sekali ikut campur urusanku? Bukankah urusan kita sudah selesai. Jangan menghina istriku,” jawab Dave tenang. Mengambil segelas kopi lalu menyeruputnya.


“Seleramu benar-benar payah!”


“Sekali lagi kau menghina istriku. Ku suruh satpam untuk mengusirku,” ancam Dave.


Natasha beranjak dari kursi, menyambar gelas di depannya yang terisi air mineral, dan mengguyurkannya di wajah Alana.


“Rasakan pembalasanku ini!”


Tindakannya membuat Alana menjerit kaget, begitu juga dengan Dave dan Zain. Bahkan beberapa pengunjung restoran sampai menoleh ke arahnya, para pengisi musik pun menghentikan permainannya, karena mendengar jeritan Alana yang cukup melengking. Seorang pelayan datang memberikan kain lap pada Alana.


“Zain, amankan dia!”


Zain mengangguk, mengitari meja kemudian merangkul pundak Natasha.


“Lepas Zain. Mau apa kamu?” teriak Natasha meronta. Ia memandang ke arah Dave yang tengah membersihkan wajah Alana dengan kain lap.


“Diamlah Nona. Di sini banyak orang. Apa kau tidak malu membuat kerusuhan. Bagaimana jika tiba-tiba wartawan datang meliput berita tentang dirimu.”


“Tiga kali kalian mempermalukanku. Rasakan pembalasanku Dave. Aku tidak akan tinggal diam!” ancamnya penuh dendam.


Zain menyeret paksa Natasha keluar dari restoran itu. Pelayan datang untuk membersihkan meja dan mengepel lantai. Dave mengajak Alana untuk pindah ke meja lainnya. Sambil memanggil pelayan untuk memesan teh herbal untuk Alana.