Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Jebakan


Dave memicingkan matanya, menatap ibu tirinya dengan kesal.


“Dia ibumu bagaimana kau bisa bersikap kurang ajar padanya,” seloroh Jonas.


“Ibuku sudah mati. Dia hanya istrimu bukan ibuku,” tegas Dave.


Jonas terkesiap bungkam sesaat. Ia tahu sejak dulu Dave memang tidak pernah menyukai Gizka. Ia pikir itu hanya sementara, dan seiring berjalannya waktu putranya akan menerima kehadirannya. Namun, hingga bertahun-tahun lamanya, Dave masih bersikap sama.


“Sudahlah Pa. Aku tidak apa-apa. Aku paham Dave kan memang tidak menyukaiku. Jangan membuat keributan ini rumah sakit,” ujar Gizka lembut.


Sungguh rasanya Dave ingin muntah mendengar ucapan ibu tirinya. Sangat pandai bersandiwara. “Kalau kedatangan Papa dan perempuan ini hanya untuk menambah keruh masalahku. Lebih baik tak usah datang. Sudah sering ku katakan, jangan menemuiku dengan membawa perempuan ini!!"


“Kau bicara apa sih Dave? Kami datang karena peduli denganmu. Kenapa malah tanggapanmu seperti ini?” seru Jonas merengkuh pundak istrinya.


“Iya Dave. Mama kan juga peduli pada kamu dan Alana. Kami–”


”Bulshitt!” umpat Dave membuat Gizka dan Jonas terperangah.


“Dave,” desis keduanya.


“Kamu itu hanya seekor ular yang berwujud manusia yang di pelihara Papaku. Kamu pikir saya tidak tahu segala kejahatanmu!!” tuding Dave.


“Dave!!”


“Kau berpura-pura datang kemari bukan karena kau peduli. Melainkan kau hanya ingin memastikan kondisi istriku kan. Dalam hatimu kau pasti tengah berharap jika istriku mati, atau bahkan kau justru kau mendoakan diriku yang tiada, akibat insiden ini. Kau adalah orang yang paling senang mengusik rumah tangga orang lain. Karena memang hanya itu bakatmu!”


Gizka terkesiap mendengarnya, nyaris tak bersuara. Lalu ia menggelengkan kepalanya. “Kau menuduhku Dave tanpa bukti, Dave!”


Dave terkekeh pelan. “Aku tidak butuh bukti. Karena dari wajahmu saja dapat ku baca isi otakmu itu!”


Perseteruan keduanya terhenti, saat ruang operasi terbuka, dokter keluar dari ruangan.


💞💞


Nelson tengah duduk tenang di ruang kerjanya. Pandangannya mengarah pada cctv di depannya. Tangannya bergerak mengambil satu batang rokok, menyalakan dan mulai menyesapnya dengan pelan. Kali ini, ia yakin rencananya akan berhasil. Membayangkan kehidupan Dave yang kacau tanpa bantuan tangan kanannya itu membuat ia melambung tinggi merasa senang.


Ketika anak buahnya mengatakan jika mobil yang dikemudikan Zain tengah meluncur, ia merasa sangat senang. Tak sabar untuk menyaksikan tubuh Zain yang hancur berkeping-keping, dengan sebuah bom perangkap yang sengaja sudah ia pasang tepat di crane – sebuah alat berat pengangkat, dalam sebuah kotak berukuran sedang. Hanya tinggal menunggu waktu saja, maka crane itu akan menurunkan kotak itu, tepat saat mobil Zain melintas.


Kini Zain dan Indra yang sedang dalam perjalanan menuju kediaman Nelson, tiba-tiba Indra mengerutkan keningnya saat merasakan sebuah pergerakan aneh dalam alat yang tak jauh dari jangkauannya. Sekitar beberapa meter dari tempatnya.


“Ini aneh Pak. Pasti ini ada jebakan. Aku rasa lebih baik kita kembali!” ucap Indra pada Zain.


“Kepalang tanggung. Aku sudah tak sabar untuk memenggal kepala Nelson. Sejak kemarin tanganku sudah gatal. Permainan Tuan Dave kurang memuaskan. Aku sudah memintanya untuk menghabisinya saja, ia tak mendengarkan. Akibatnya istrinya terluka!” geram Zain yang terus melajukan mobilnya dengan cepat. Namun, tiba-tiba...


Mobil berhenti secara tiba-tiba, seperti di rem secara mendadak. Ponsel miliknya berdering, sebuah panggilan dari Jonas terlihat.


“Di mana? Cepat kembali ke rumah sakit. Jangan urus Nelson. Dia sudah ku laporkan pada pihak yang berwajib!” suara Dave terdengar sebuah perintah. Di saat itu pula tak jauh darinya terdengar suara ledakan. Seketika Indra dan Zain terkejut.


“Zain!!!” teriak Dave terdengar panik.


“Ini jebakan. Putar balik Pak. Kita harus tinggalkan tempat ini!”


Zain langsung memutar mobilnya, menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan penuh. Meski merasa kaget, tapi ia merasa puas di dalam sana Nelson pasti merasa panik karena jebakannya tak berhasil.


“Bang sat!” umpat Nelson ketika melihat mobil Zain justru pergi dari tempatnya. Bahkan ia membanting barang apapun yang berada di depannya. Ia segera meminta anak buahnya untuk mengejar Zain. Namun, tiba-tiba terdengar suara beberapa mobil polisi. Mereka langsung sigap meringkus Nelson beserta anak buahnya.


Nelson sangat marah. Lagi-lagi ia gagal, ia berniat menjebak Zain. Namun, justru ia yang masuk ke perangkapnya sendiri.


“Sial!!”


Zain menghentikan mobilnya tepat di persimpangan jalan, ia menghela nafasnya lega. Mengusap dadanya berkali-kali seraya berkata.


“Hampir saja aku mati.”


“Saya gemetar Pak. Takut juga nyawa saya melayang. Untung Tuan Dave menelpon, jadi kita masih selamat. Saya belum ingin mati, karena saya juga belum menikah,” sahut Indra dengan nafas memburu.


“Memangnya kamu mau menikah?” tanya Zain seraya kembali melajukan mobilnya.


“Iyalah Pak. Saya kan normal, memangnya Pak Zain tidak suka perempuan!”


“Sialan! Kau menuduhku mempunyai penyakit menyimpang!!” seloroh Zain kesal.


Indra hanya tertawa kecil. Bukan tanpa alasan ia berkata demikian, pasalnya hampir tidak pernah ia melihat Zain bersama perempuan, kemana-mana selalu menjadi pendamping Dave. Hampir saja ia mengira lelaki itu menyukai atasannya sendiri.


💞


💞


💞


💞


Kencengin Like nya guys 😁