
“Kenapa Dave?” tanya Alana terkejut.
Namun, bukannya menjawab. Dave justru memajukan wajahnya, ketika matanya justru terpatri pada bibir ranum Alana.
Jantung Alana berdegup kencang, ia dengan yakin jika Dave akan kembali menciumnya. Lalu dengan sangat percaya dirinya ia pun memejamkan matanya. Jarak wajah keduanya bahkan hanya tinggal beberapa inci, Dave hanya tinggal menempelkan bibirnya makan akan selesai. Namun, tiba-tiba...
Kriek!
“Tuan, ini makan siangnya!”
Suara lembut sang sekretaris – Nana terdengar. Membuat semuanya buyar, baik Alana dan Dave langsung menoleh ke arahnya. Alana merasa sedikit kesal pada perempuan itu, tapi apa boleh buat. Ia menghela nafasnya berkali-kali.
Sementara Dave tersenyum canggung, menatap ke arah Nana lalu bertanya, “Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?”
Nana menelan ludahnya, menyadari bahwa ia melakukan kesalahan. ”Saya bahkan sudah mengetuk pintu sebanyak enam kali,” jawabnya membela diri.
“Belum dua belas kali saja kau sudah protes,” dengusnya membuat kedua mata Nana membulat. Sementara Alana rasanya ingin tertawa mendengarnya. “Kemarikan makanannya Kak Nana. Aku memang sudah lapar,” timpal Alana. Ia tahu mungkin sekretaris suaminya itu sudah merasa berat saat membawa makanannya, makanya sampai nekat masuk.
Dave mengalihkan tatapannya pada istrinya. “Kenapa kau percaya diri sekali jika aku memesankan makanan untukmu?” tanya Dave dengan nada bercanda.
“Aku tahu. Tuan Dave itu orang yang baik, jadi tidak mungkin membuatku sampai kelaparan di saat jam makan siang,” sahut Alana.
Nana berjalan mendekat, meletakkan dua porsi makan siang sang direktur juga istrinya, di atas meja.
“Nona terima kasih sekali kuenya, saya sangat suka!” Nana berbisik pelan ketika menata makanan sang atasan.
“Em... Sama-sama, Kak.”
“Apa meletakkan makanan di atas meja itu butuh waktu berjam-jam, Nana!” teguran Dave membuat Nana berjengit kaget.
“Ini sudah, Tuan. Maaf ya Tuan kalau saya tadi sudah mengganggu.” Nana membungkukkan badannya sebelum berlalu ke luar.
“Dave, kenapa kau begitu galak pada Kak Nana?” protes Alana pada sang suami yang kini tengah melepaskan jas miliknya, lalu disampirkan ke punggung sofa. Dave juga melonggarkan dasinya, hingga membuat penampilannya sedikit berantakan.
“Sudahlah itu tidak penting. Nikmatilah makananmu, ku rasa itu lebih penting.”
Alana mengangguk dan mulai menikmati makan siangnya. Dave pun melakukan hal sama. Ia baru mengambil sendok dan garpu, tiba-tiba Zain masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Apa itu?” tunjuk Dave pada sesuatu di tangan asistennya.
“Undangan, Tuan.” Zain mengulurkan undangan itu pada Dave. “Itu undangan ulang tahun Nona Natasha, Tuan,” sambungnya.
Dave hanya melihat isi luar undangan itu tanpa berniat membukanya. Lalu ia meletakkannya begitu saja di atas meja. “Papa memang kolot. Bagaimana bisa menjodohkanku dengan perempuan yang hoby ulang tahunnya di rayakan seperti anak-anak,” cibirnya.
Zain dan Alana tergelak mendengarnya.
“Kapan acaranya, Zain?” sambungnya bertanya.
“Kalau tidak salah Minggu depan,” jawab Zain mengira-ngira.
“Dave, kau kan sudah menerima undangannya. Kenapa tidak kau buka saja agar lebih tahu harinya yang pasti,” timpal Alana, dan diam-diam Zain pun mengangguk.
“Biar aku saja yang buka!” Alana mengambil undangan itu, lalu membukanya. “Malam Minggu depan Dave. Di sebuah hotel Star Gramecia wah hotel bintang lima Dave,” sambungnya setelah membaca undangan itu.
“Bagaimana pendapatmu? Mau datang?” tanya Dave.
“Kenapa harus tidak datang. Di sana pasti banyak makanan enak,” jawab Alana berbinar. Dave berpandangan dengan Zain yang melongo.
“Kenapa justru memikirkan makanannya, Alana. Kalau kau mau aku juga bisa memberinya padamu sekarang.”
Alana terkekeh. “Aku tahu. Hanya bercanda Dave.”
“Aku tergantung denganmu, kalau mau datang ya ayo. Sebenarnya, aku hanya malas meladeni mulutnya yang julit itu,” celetuk Dave membayangkan bagaimana nanti mulut Natasha berkata-kata.
“Biar aku saja yang hadapi.”
Dave menatap istrinya sejenak, seperti tengah memikirkan ucapannya selanjutnya. “Apa kau mau bilang kalau aku masokis lagi?” tanyanya mengejutkan Alana.
“Hah?”
“Iya seperti saat Natasha akhirnya memutuskan rencana perjodohan saat itu di rumah.”
Alana menelan ludahnya, Zain yang berada di depannya pun menahan tawanya. “Kenapa harus bawa-bawa hal itu. Saat itu aku kan terdesak.”
“Aku mengerti!” Dave mengalihkan tatapannya pada sang asisten. “Kenapa kau masih di sini?” tanyanya.
“Saya cuma mau mengingatkan jika setelah jam makan siang, kita ada pertemuan dengan Tuan Arfa di restoran hotel Santika, Tuan.”
Dave mengangguk. Lalu Zain berpamitan untuk ke luar. “Kau mau ikut aku Alana?” tawar Dave.
“Ke mana?”
“Hotel Santika.”
Alana melototkan kedua matanya.
“Maksudku restorannya,” ralatnya kemudian.
.
.
.
.
.
.
Hari Senin tiba. Yuk jangan lupa votenya.