Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story — Cintaku Sederhana


Untuk sejenak Silvi melongo mendengarnya. Dia masih terpaku mendengarkan lelaki di depannya, yang mengutarakan niatnya secara langsung tanpa sebuah kata basa basi.


“Aku bukan para anak muda yang bisa membuat sebuah kata rayuan romantis, Silvi. Dan jujur kamu adalah perempuan pertama yang mampu membuat aku mengerti apa itu sebuah cinta. Dan aku berharap kamu juga yang terakhir.” Zain berbicara menatap wajah Silvi dengan serius.


“Cinta?” seru Silvi membuka suara.


Zain mengangguk tangannya terulur untuk menggenggam telapak tangan gadis itu. “Iya, cinta yang aku punya mungkin hanya sederhana namun tanpa batas waktu. Aku bukan seorang pria miliarder, aku hanya seorang pria yatim piatu yang selalu berusaha bekerja keras. Namun, aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, aku akan berusaha untuk tak membiarkan hidupmu dalam kekurangan.”


Silvi terharu mendengarnya. Rasanya ia ingin menangis, mendengar kata demi kata yang terlontar dari bibir Zain. Dia tidak membuat kata romantis katanya? Namun, mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Kata-katanya bahkan sudah berhasil menembus hatinya. Belun pernah ada lelaki yang seperti ini padanya.


“Bagaimana, kamu mau menikah denganku?” tanya Zain. Namun, Silvi hanya terdiam menatap ke arahnya. “Atau kamu masih butuh waktu pertimbangan lagi?” sambungnya.


Lagi-lagi Silvi hanya terdiam, membuat Zain merasa mulai putus asa. Ia berpikir apakah kata-katanya kurang meyakinkan. Sejenak dia mulai merasa gelisah. Apakah kali ini ia akan kembali mendapatkan penolakan? Zain terus bermonolog dalam hatinya.


“Atau kamu tidak mau?” tanya Zain hati-hati. Kali ini hatinya terasa perih membayangi kembali ditolak. Namun, ia tahu sebuah perasaan tidak bisa dipaksakan. Jadi, jika kali ini ia gagal mungkin ia akan mundur. Pelan Zain menarik tangannya.


“Oke, kalau kamu tidak—”


“Aku mau,” sahut Silvi tiba-tiba yang mampu memberikan Zain cukup terkejut tiba-tiba. Ia merasa tak percaya mendengarnya.


“Aku mau menikah denganmu Zain. Mari kita membina rumah tangga bersama.” Silvi balik menarik tangan Zain.


“Kamu serius?” seru Zain tak percaya.


Silvi mengangguk antusias. “Iya. Aku sudah menunggu saat ini sejak dulu Zain.”


Lalu, kini keduanya saling pandang penuh antara rasa tak percaya dan cinta. Hembusan angin malam menerpa, dalam sejenak suasana menjadi sangat haru.


“Sejak dulu?” tanya Zain bingung.


Silvi gelagapan bisa-bisanya ia keceplosan jika ia sudah mengagumi Zain sejak dulu. Tepatnya setelah pertemuan pertamanya di club' malam saat bersama Alana. “Maksudku, aku menunggu kamu melamarku secara langsung bukan lewat sebuah lewat secarik kertas dan bunga satu truk,” ralat Silvi kemudian. Mana mungkin ia mengatakan kenyataan sebenarnya.


Silvi terkejut mendengarnya. Bagaimana laki-laki itu bisa tahu. “Eh... Kok kamu bisa—”


Zain terkekeh kecil, mengambil jemari gadis itu. “Bolehkan aku pasangkan cincin ini di jarimu?” tanya Zain tanpa berniat menjawab pertanyaan Silvi sebelumnya.


“Em.. boleh,” jawabnya gugup.


Zain dengan lembut menyematkan cincin di jari Silvi. “Cincin ini di desain langsung oleh sahabatmu – Nyonya Alana. Dia bilang, dia ingin aku melamarmu dengan cincin ini.”


“Alana?" Lirih Silvi tak percaya.


“Iya. Aku sebenarnya sudah menyiapkan cincin yang lain. Tapi, aku tidak kuasa untuk menolak keinginan ibu hamil bukan,” kata Zain terkekeh kecil. Mana kala ia ingat perdebatan Alana di perusahaan saat ia mengutarakan niatnya membeli sebuah cincin untuk melamar Silvi.


Silvi mengusap cincin yang tersemat dijarinya, ia tersenyum seberharga itu dirinya untuk Alana. Dan akhirnya ia bisa memenuhi ngidam sahabatnya, untuk menikah dengan Zain. Namun, bukan hanya demi ngidam Alana, dia menerima niat baik lelaki itu. Semua juga karena memang dia juga memiliki rasa yang sama padanya.


“Oke, dua Minggu lagi kita langsung menikah. Ku rasa persiapan dua Minggu itu cukup,” kata Zain akhirnya.


“Eh...”


“Apa?” tanya Zain.


“Kok begitu doang. Kamu tidak ada niat untuk bilang—”


“Bilang apa?” tanya Zain mengangkat kedua alisnya.


Silvi mencebik, sungguh laki-laki yang tidak peka. “Ya, aku mencintaimu gitu loh.”


“Aku juga mencintaimu,” sahut Zain.


“Zain!!” teriak Silvi kesal. Zain langsung menutup telinganya, saat teriakan Silvi mampu memekik telinganya.