Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Dibayar Berapa?


Setengah jam berlalu makan malam telah usai. Ambar meminta Dave untuk mengantarnya ke kamar. Dan Jonas memilih berlalu ke dalam kamarnya. Kini seluruh keluarga besar tengah berkumpul di sofa santai, yang tak jauh dari meja makan tadi. Semua orang memandang sinis ke arah Alana.


Edo sejak tadi mulutnya sudah terasa gatal ingin berucap atau bertanya pada Alana. Namun, mengingat kondisinya tidak memungkinkan, lelaki itu mengurungkan niatnya. Tak mungkin ia mengatakan pada keluarganya jika Alana itu adalah mantan kekasihnya.


"Dibayar berapa kamu untuk jadi istri pura-puranya Dave?" tanya Gizka.


Alana menghela nafas panjang untuk meredam emosi yang mulai menumpuk di dada. Sebenarnya, ingin sekali ia mengeluarkan sumpah serapah pada perempuan itu yang sejak tadi terus menghina dirinya kampungan dan lainnya. Tapi, akan sangat tidak etis hati pertama di keluarga besar suaminya, Alana justru mengajaknya berperang mulut. Lihatlah bahkan Dave pun bisa menjawab pertanyaan Jonas dengan cara yang santai, elegan namun dapat memukul telak. Alana rasa ia perlu banyak belajar dari lelaki itu.


"Bu dan semua yang berada di sini. Mau kalian semua nerima atau enggak. Saya itu istrinya Dave. Walaupun pernikahan kami tanpa disaksikan oleh kalian. Tapi, pernikahan kami sah di mata hukum agama dan negara. Kalian juga sudah melihat kan buku pernikahan kami!" ucap Alana penuh penekanan.


"Saya bayar dua kali lipat dari Dave. Tapi, ku mohon setelah ini, kamu tinggalkan Dave," pinta Gizka.


"Kalau saya tidak mau?" tantang Alana.


'Biarinlah, habisnya aku udah gregetan sama mereka.'


Menurutnya, mau mundur sudah kepalang tanggung, ia sudah terjerat dengan permainan Dave. Tadinya ia memang sempat merasa kesal dengan lelaki itu. Karena tidak menjelaskan secara detail tentang keluarganya, apalagi tentang hubungannya dengan Edo yang tak lain adalah saudara tirinya. Alana pikir itu juga bagian dari kesalahannya. Karena tanpa berpikir panjang ia langsung menerima tawaran pernikahan kontrak dengan Dave. Apalagi dengan iming-iming kemewahan, tentu saja ia tak menolak. Selain itu, setelah dipikir lebih dalam lagi, bukankah akan lebih mudah ia membalaskan dendam pada Edo, jika ternyata Dave adalah kakak lelaki itu. Lihat saja tatapan mata Edo sejak tadi yang terlihat begitu kesal melihat ke arahnya, apalagi kala melihat Dave tengah menyuapinya di depan keluarganya tadi. Alana dapat melihat kecemburuan di mata lelaki itu.


"Kamu itu tidak tahu malu ya. Kamu tidak lihat bagaimana murkanya suami saya ketika melihat kamu dan Dave tadi!" sergah Gizka geram.


"Memangnya kenapa? Kan saya memang beneran istrinya?" seru Alana tak mau kalah.


Tisa menatap perempuan itu dengan sinis. Xavier menganggukkan kepalanya, menatap perempuan itu dengan takjub karena begitu berani menantang ucapan Gizka. "Menarik!" ucapnya dengan senyum tipis di bibirnya.


"Dave akan ditunangkan dengan putri bungsu dari keluarga Lie!"


"Wah, suamiku mau mencari istri kedua? Apakah perempuan tadi yang akan menjadi maduku, duhai ibu?" tanya Alana dengan penuh penekanan.


"Tau dirilah. Perempuan itu seperti kamu tidak pantas untuk Kak Dave!" timpal Tisa yang sejak tadi diam, kini ikut angkat bicara.


Hal itu tentu saja membuat Alana menoleh ke arah perempuan itu, seraya tersenyum mengejek. "Kalau Dave mau memangnya kenapa? Apakah hanya perempuan seperti dirimu yang cocok untuk putra dari keluarga ini, Nona!" sahut Alana penuh penekanan, bahkan ia memandang Tisa dengan tajam.


"Kamu itu hanya dijadikan alat sama Dave, biar pertunangan ini batal!" ucap Gizka.


Alana tersenyum, tanpa mendapatkan petuah dari ibu tiri suaminya itu pun ia tahu, apa tujuan Dave menikahinya.


"Apapun alasan menikahi saya, itu urusan saya dengan Dave. Kalaupun memang Dave tidak mau bertunangan dengan perempuan tadi, kenapa harus dipaksa!" sinis Alana.


"Aku yakin Dave itu sebenarnya mau bertunangan dengan Natasha. Secara perempuan itu jauh lebih pintar, cantik, berkelas dibandingkan dengan kamu!"


Alana terkekeh menanggapi ucapan Tisa. Sebenarnya jika dipikir ucapan Tisa sama saja tengah menyinggung dirinya sendiri, tapi dasar perempuan kepala batu mana mungkin menyadari.


"Saya tidak cantik, tidak pintar, tidak berkelas saja Dave mau, apalagi kalau saya sampai lebih unggul dari perempuan itu!" ceplos Alana begitu saja.


Xavier mengatupkan mulutnya rapat. Tak menyangka perempuan yang sepanjang acara makan malam itu diam, kini jauh lebih berani dari perkiraannya.


Edo bahkan lebih memilih beranjak dari sana, karena lama-lama merasa jengah dan kesal mendengarkan kata-kata Alana.


"Tolonglah Alana. Empati kamu itu dipake. Kamu mau lihat keluarga ini hancur hanya gara-gara kamu?"


"Saya bakalan pergi kalau Dave sendiri yang meminta saya pergi!" tegas Alana.