
Hampir tiga Minggu, Dave dan Alana berada di Surabaya. Sementara mereka menempati villa milik Dave yang berada di sana setelah Alana keluar dari rumah sakit. Sebuah Villa yang ia percayakan pada Indra.
Sebenarnya, Alana merasa dirinya sudah membaik dari dua Minggu yang lalu. Hanya saja Dave yang terlalu berlebihan tidak mau terjadi sesuatu padanya. Membuat ia memutuskan untuk tinggal di Surabaya lebih lama.
Dave lebih memilih pulang pergi Surabaya ke Jakarta jika memang ada kepentingan yang tak bisa diwakilkan. Namun, jika bisa ia akan meminta Zain dan Nana yang menghandle kerjaannya.
Besok pagi rencananya mereka akan kembali ke Jakarta. Tentunya setelah memastikan kondisi Alana baik-baik saja lewat penuturan dokter. Namun, sebelum itu Alana meminta sesuatu pada Dave. Ia meminta waktu sebentar Dave untuk menuruti apa kemauannya, yang disanggupi oleh Dave.
Sore ini, Dave menemani Alana untuk membeli oleh-oleh khas Surabaya sebelum keduanya bertolak ke Jakarta. Dave bahkan sampai memijat kepalanya melihat Alana sibuk memilih oleh-oleh. Mengira-ngira jumlah pelayan dan pekerja di rumahnya, ia mengatakan semuanya harus kebagian. Padahal seumur hidup Dave. Mana pernah ia terpikirkan hal semacam itu.
“Dave apa kau pernah kencan menonton?” tanya Alana begitu acara membeli oleh-olehnya selesai, dan langsung di bawa Zain ke mobil.
Dave berpikir sesaat sebelum kemudian menggeleng. “Belum.”
“Terus kau kalau pacaran ke mana saja?” tanya Alana heran.
Dave tertawa kecil, lalu mengedikkan bahunya. “Entahlah. Aku jarang punya waktu untuk semacam itu Alana.”
Alana menggelengkan kepalanya. Namun, ia berpikir mungkin cara Dave dan kekasihnya berpacaran itu beda.
Kini Alana menggandeng lengan Dave. Membawanya naik ke lantai lima lewat eskalator. “Mau ke mana?” tanya Dave.
“Aku mau mengajakmu menonton. Kau mau kan. Aku sudah searching ada film horor baru, Dave. Mau ya? Aku udah lama banget gak nonton. Hampir setahun kayaknya,” pintanya memelas.
Alana tergelak, menepuk dada lelaki itu. Dan dalam diam Dave ikut tersenyum tipis saat melihat tawa istrinya. Sampainya di bioskop ia keduanya langsung memesan tiket, dan kebetulan film yang akan mereka tonton akan mulai. Kedua tampak serasi. Alana mengenakan dress berwarna putih, sementara Dave mengenakan kaos polo berwarna senada dipadukan celana pendek sebatas lutut berwarna cream.
Mereka langsung masuk ke dalam. Alana memilih kursi bagian kiri, tempatnya di urutan ke tiga dari atas. “Kenapa milih kursi di sini? Kenapa gak yang bawah?”
“Karena jika aku takut, aku bisa langsung lari kebetulan tak jauh dari pintu,” sahutnya membuat Dave terperangah. Keduanya lantas duduk, Alana memilih di bagian mepet tembok, sementara Dave di sisinya.
Beberapa menit film mulai. Dave dan Alana hanya saling diam menonton. Meski ada beberapa orang yang berteriak saat hantu bermunculan, tapi Alana tetap bergeming memakan cemilan di tangannya.
“Kamu tidak takut?” tanya Dave heran.
Alana menggeleng. “Hidupku jauh lebih seram dibandingkan dengan hantu itu.”
Dave tergelak, Alana selalu mempunyai jawaban ambigu. Namun, berhasil membuat Dave tak dapat berkata-kata apa lagi. Menghela nafas pelan, keduanya lantas memilih kembali fokus pada layar besar di depan sana.
Awal-awal adegannya memang biasa, hanya seputar hantu. Namun, entah kenapa tiba-tiba ada adegan sedikit panas. Alana mendesis. “Astaga!” dia menutup kedua matanya menggunakan telapak tangannya.
Sementara Dave menelan ludahnya secara susah. Tubuhnya serasa memanas melihat adegan panas itu. Ia menoleh ke arah Alana, ingin tahu bagaimana reaksi perempuan itu. Tak disangka perilaku Alana membuatnya tertawa. Bagaimana Alana tengah menutup kedua matanya, menggunakan kedua telapak tangannya. Namun, sesekali merenggangkan jarinya. Dave jadi berpikir untuk apa ditutup, jika masih penasaran.
“Untuk apa ditutup, jika kau masih mau melihatnya?” seru Dave seraya membuka telapak tangannya. Tatapannya langsung terpatri pada bibir Alana yang hanya sedikit terlihat di bawah pantulan cahaya layar kaca besar itu. Dave bahkan dapat melihat Alana mengigit bibir bawahnya, wajahnya nampak merona.
Tak sadar Dave, menelan ludahnya lalu memajukan wajahnya. Alana masih bergeming di tempat. Namun, sedetik kemudian matanya terbelalak saat merasakan Dave mengecup bibirnya. Pelan, namun mampu membuat sekujur tubuhnya memanas. Bahkan Alana hanya diam menikmati, mana kala sang suami me lu mat bibirnya dengan lembut, namun terasa menuntut. Ia meremas pakaian suaminya, ketika lu mat an sang suami semakin dalam. Bahkan Alana yang semula diam, mulai memejamkan matanya. Menikmati pangutan bibir sang suami yang terasa manis. Salah satu tangan Dave berada di pinggang Alana me re masnya di balik pakaiannya. Sementara satu tangannya menahan tengkuk istrinya.