
Ketika sampai rumah. Alana langsung disambut oleh Ibu dan Putranya. Ibu bilang Gala belum mau tidur karena menunggu dirinya. Untuk itu langsung bergegas membersihkan diri, lalu menemani putranya untuk tidur. Alana mengusap-usap punggung Gala dalam sisinya. Sesekali mendengar cerita anak itu tentang sekolah barunya, ternyata ia sudah langsung mendapatkan teman baru.
“Namanya Nesya, Mami. Dia cantik seperti Mami. Tapi dia sangat cerewet,” celetuk Gala ketika menceritakan teman barunya. Alana tertawa kecil.
“Bagus dong sayang. Jadi, Gala gak akan kesepian kan punya teman baru.”
Gala terdiam seperti memikirkan perkataan Alana.
“Mami kenapa pulangnya malam sekali? Apakah boss mami galak?” tanya Gala.
Alana menggeleng. “Tidak sayang. Boss
Mami itu baik, hanya saja tadi Mami harus lembur. Maaf ya sayang.”
“Lalu, apa boss Mami itu ganteng?”
Pertanyaan Gala kali ini kembali membuatnya tercenung menderanya. Ia meringis dalam hati saat ia melihat wajah polos putranya. Seandainya Gala tahu jika bossnya adalah Papinya sendiri. Gala pasti akan langsung merengek untuk minta bertemu. Tentu saja Dave itu tampan. Wajahnya bahkan hampir mirip sebelas dua belas dengan Gala. Untuk itu meski lima tahun tidak bertemu, perasaan rindu Alana sedikit terobati kala menatap wajah putranya. Dan ia yakin jika Dave bertemu dengan Gala, lelaki itu pasti akan curiga. Untuk itu sebisa mungkin ia tidak ingin Dave bertemu dengan Gala. Alana masih ingin menata hatinya yang sempat retak.
Beruntunglah tadi ketika Dave mendesaknya untuk mengantarkan sampai rumah. Lelaki itu mendapatkan telpon, jadi mengurungkan niatnya. Entah telpon dari siapa? Mungkinkah Jessica, pikir Alana. Memikirkan hal itu kembali membuat Alana tersenyum getir.
“Mami,” teguran Gala membuatnya tersentak dari lamunannya tentang Dave.
“Iya sayang.”
“Mami kok melamun?” tanya Gala.
”Enggak sayang. Mami ngantuk. Tidur yuk sudah malam. Mami nyanyiin lagu ya.”
“Oke Mami.”
Alana menghentikkan nyanyiannya. Sekarang ia memandangi wajah polos Gala dengan senyum miris.
“Gala... Maafkan Mami sayang. Seharusnya di usia kamu saat ini. Kamu bisa mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua yang lengkap. Tapi, Mami belum bisa memberikan hal itu sayang. Maafkan Mami, Gala,” ucap Alana lirih.
“Seandainya saja kamu tahu, jika Boss Mami itu Papi kandungmu sendiri. Kamu pasti akan merengek untuk bertemu. Tapi, sayang... Mami sungguh belum siap untuk itu. Bagaimana kalau Papimu justru menggunakan kuasanya untuk mengambil kamu dari Mami? Sungguh Mami belum siap untuk itu, Gala.”
”Apa?! Kamu bilang, Alana? Kamu bertemu dengan Dave?” pekik Ibu Ratmi yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu kamar Gala. Perempuan paruh paya itu menatap Alana dengan raut terkejut.
“Alana jelaskan sama Ibu. Apa kamu benar-benar bertemu Dave tadi? Di mana kalian bertemu?” Ibu Ratmi melangkah masuk dan langsung mencecar Alana dengan pertanyaannya yang sama.
“Sebentar, Bu. Kita bicara di luar saja. Kasihan Gala sudah pulas,” kata Alana sembari membetulkan selimut putranya.
Ibu Ratmi mengangguk bersabar menunggu, hingga Alana mengajaknya duduk di ruang tengah.
“Di mana kamu bertemu dengannya, Alana?”
Alana menghela nafasnya, menatap sang Ibu yang menutut jawaban. “Di kantor, Bu. Ternyata dia pemilik perusahaan di mana aku kerja,” jawab Alana pelan.
Sementara Ibu Ratmi langsung memegangi dadanya, hatinya mendadak gelisah. Masih teringat jelas kisah Lima tahun yang lalu. Bagaimana Alana begitu terlihat terpuruk.
“Kamu keluar saja dari kantornya, Alana. Cari kerjaan lain. Ibu tidak mau lagi melihat kamu terluka. Cukup satu tahun saat itu, Alana.”
Alana menggelengkan kepalanya. Sadar bahwa sang Ibu tengah mengkhawatirkannya. Lalu ia menceritakan tentang kontrak perjanjian yang terlanjur Alana tanda tangani. Tampak Ibu Ratmi terkejut mendengarnya.
“Dave pasti menjebakmu lagi Alana. Dia pasti ingin mempermainkan dirimu. Dasar laki-laki sudah punya istri masih saja mengharapkan kamu. Sudahlah Ibu akan pinjam uang ke bank agar kamu bisa keluar dari perusahaan Dave.”
Alana menggeleng dengan cepat. “Jangan Bu. Aku tidak mau kita terlilit hutang. Sudahlah Bu, aku sudah memikirkan ini baik-baik. Aku akan baik-baik saja. Tenang saja, aku bukan Alana yang dulu lagi.”