Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Baik-baik Saja


...Semuanya baik-baik saja. Berjalan penuh rasa bahagia. Berlalu begitu saja. Aku tertawa. Namun... Sejujurnya aku terluka....


...Alana Jovanka...


đź’žđź’ž


“Dave aku kembali!”


Sontak genggaman tangan Alana dan Dave terlepas.


“Jessica?” desis Dave terkejut, begitu juga dengan Alana.


“Ya ini aku Dave.” Jessica berlari memeluk Dave dengan erat. “Aku merindukanmu, Dave,” sambungnya. Namun, Dave hanya bergeming tak membalas.


Alana membuang mukanya, tersenyum masam. Merasakan ulu hatinya yang tiba-tiba terasa sakit. Rasanya seperti ada sembilah pedang yang menghujam di sana. Beberapa kali ia mengedipkan kedua matanya, menahan rasa perih pada matanya. Sekuat hati ia mencoba untuk tak mengeluarkannya saat itu juga. Bukankah semua akan tiba pada masanya.


Jessica mengurai dekapannya, merasakan tak ada balasan dari Dave. “Kau tidak merindukan ku?” tanyanya heran.


Dave menyentak nafasnya. “Kenapa kau bisa di sini?” tanyanya balik tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan perempuan itu sebelumnya.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku kembali untukmu Dave,” dengus Jessica tak suka. Tatapannya beralih pada perempuan di sisi Dave.


“Alana kan?” tegur Jessica membuat Alana heran lantaran perempuan itu mengetahui namanya, padahal belum saling berkenalan.


“I–iya Nona.”


“Aku Jessica. Kekasihnya Dave,” seru Jessica mengulurkan tangannya, tersenyum manis. Alana membalasnya, menahan rasa sakitnya ketika kata kekasih terucap di bibir perempuan itu, seolah menegaskan jika Dave bukan miliknya.


Alana hanya mengangguk pelan, tersenyum masam menyembunyikan luka.


Tidak ada yang sia-sia, Alana. Bukankah sebuah cinta memang tidak harus memiliki.


Jessica baru hendak kembali membuka bibirnya untuk bersuara. Namun, kedatangan Zain dan pelayan lainnya mengurungkan niatnya. “Nona barang-barang ini mau diletakan di mana?” tanya Zain. Sedikit terkejut mendapati Jessica berada di sana.


“Hallo Zain,” sapa Jessica manis. Zain hanya mengangguk malas.


“Bawa ke kamar ku saja Zain. Kebetulan aku juga lelah, aku ingin istirahat sebentar,” jawab Alana menoleh pada Dave dan Jessica. “Aku istirahat dulu. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya. Lama tidak bertemu pasti perlu waktu berdua untuk menyalurkan rasa rindu kan?” sambungnya dengan senyum palsu.


Dave menatap ke arah Alana, dengan tatapan yang sama sekalian tak terbaca. Terdengar helaan nafas berat dari lelaki itu.


“Tentu saja, Alana. Kau begitu pengertian.” sela Jessica.


“Aku permisi.” Alana berlalu mengikuti langkah kaki Zain yang membawa barang-barang Alana ke kamarnya. Biasanya ia merasakan langkah ke kamarnya itu terasa dekat. Namun, mengapa saat ini merasa begitu jauh. Menapaki anak tangga Alana menahan diri untuk tidak menoleh pada pasangan itu.


“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Zain begitu tiba di depan kamarnya, ia menunggu Alana membukakan pintu.


Alana tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Zain. Kenapa kau begitu risau?” sahutnya seraya membukakan pintu kamarnya. Zain langsung masuk meletakkan barang-barang Alana.


“Saya tahu anda terluka. Tapi, saya pun tahu anda perempuan yang kuat. Saya permisi!”


Setelah mengatakan hal itu Zain berlalu pergi. Alana langsung mengunci pintu kamarnya. Meluruhkan tubuhnya di balik pintu. Ia mulai terisak pelan, mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan suara tangisannya.


“Aku tak sekuat itu. Tapi, memang ini yang akan terjadi. Secara pelan semua memang akan berakhir!”