Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Belahan Jiwa Yang Hilang


Dengan pelan, Dave melangkah menuju meja rias istrinya. Dave mengambil cincin yang pernah ia sematkan di jari manis Alana.


“Cincin ini.” Dave ingat mana kala ia berucap mengakui Alana sebagai istrinya di acara reuni akbar kampus istrinya. Sejenak, tangannya bergetar. Ia melihat satu lembar kertas bertinta hitam di atas tumpukan sebuah dokumen.


Dave mengambilnya, dan membawanya ke atas ranjang yang terlihat masih berantakan. Pelan ia mencoba membaca kata demi kata yang tertulis di sana.


^^^Untukmu Dave.^^^


^^^Selamat pagi, suamiku. ^^^


^^^Bagaimana tidurmu semalam, pasti nyenyak kan?^^^


^^^Dave, saat kamu membaca surat ini. Aku pasti sudah pergi jauh dari hadapanmu. Tetapi, sebelum itu. Bolehkah aku mengucapkan. Selamat ulang tahun pernikahan kita ke satu tahun. Terdengar bodoh bukan? Untuk apa mengucapkan ulang tahun pernikahan. Bukankah kita akan berpisah pada hari ini juga. Mungkin sebaiknya aku ucapkan selamat berpisah.^^^


^^^Maaf, aku pergi tanpa pamit, tidurmu terlalu nyenyak. Tapi, Dave kisah kita telah usai. Aku berhasil menepati janjiku, menyelesaikan kontrak pernikahan kita selama satu tahun. ^^^


...Dave, aku mau mengucapkan terimakasih. Berkatmu, ibuku kini sudah sembuh. Kami akan mulai kehidupan yang baru. Begitu juga dengan kamu ya. Setelah ini kamu bisa memulai merancang pernikahanmu dengan Jessica. ...


^^^Dave, aku mengembalikan beberapa dokumen milikmu. Aku merasa tidak membutuhkan hal itu. Aku sudah mendapatkan segalanya selama bersamamu, termasuk kesembuhan ibuku. Tapi, aku membawa beberapa perhiasan pemberianmu. Bolehkan? Aku harap kamu mengikhlaskannya. ^^^


^^^Oh ya, satu lagi. Aku sudah mempersiapkan dokumen perceraian kita. Tenang saja, kau tidak perlu repot-repot mencariku. Di dokumen pengajuan perceraian itu, sudah aku bubuhkan tanda tanganku. Aku tidak akan datang selama masa proses perceraian. Agar semua berjalan dengan lancar. ^^^


...Sekali lagi, terima kasih untuk segala kenangan indah yang kau berikan padaku Dave. ...


^^^Salam^^^


^^^Alana Jovanka^^^


Dave mengusap sudut matanya yang basah, ketika membaca susunan kata yang Alana tuliskan di sana. Ia membuka beberapa dokumen yang Alana persiapkan. Di sana ada sertifikat rumah, BPKB mobil, kartu black card yang pernah Dave beri. Dan satu lagi yang membuatnya terkejut, dokumen perceraian. Alana bahkan sudah mempersiapkan dengan rinci. Data-datanya semua begitu lengkap.


”Kau mempersiapkan semua sampai serinci ini, Alana.” Dave berdesis mengambil dokumen perceraian itu. “Dan kau pikir aku akan menceraikan mu?”


Dave meremas dokumen perceraian itu, merobeknya, lalu membuangnya secara asal. “Setelah kau berhasil mengambil seluruh hatiku, kau meninggalkanku, Alana.”


Dave menyentuh dadanya yang terasa begitu sakit. Sesak, bukan karena ia memiliki riwayat penyakit jantung. Hanya saja ia merasa setengah jiwanya pun ikut menghilang. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba mengontrol perasaannya.


“Tuan? Anda ternyata di sini?” teguran Zain dari ambang pintu membuatnya menoleh. Kebetulan pintu kamarnya memnag tidak Dave tutup.


Zain mengedarkan pandangannya ke kamar itu, terlihat berantakan. Ia sedikit terkejut, apalagi saat ia melihat beberapa sobekan kertas di lantai. “Tuan, apa yang terjadi?” tanyanya lagi.


”Alana pergi, Zain.”


Zain terkejut mendengarnya. “Pergi?” ucapnya tak percaya.


“Apakah karena Nona marah perihal semalam?” tanya Zain.


Dave mengusap wajahnya. “Aku tidak tahu. Alana tidak menuliskan tentang hal itu di suratnya. Dan dia justru meninggalkan dokumen pengajuan gugatan cerai.”


“Tuan, bukankah memang hal itu yang seharusnya terjadi? Kontrak pernikahan sudah selesai kan?” tanya Zain hati-hati.


Dave langsung menatap ke arah Zain tanpa suara.


“Tuan, apakah anda juga mencintainya?” tanyanya lagi.


Dave mengangguk pelan, menekan dadanya yang terasa sakit. Sudut matanya memanas, hingga tak sadar cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menangis, terakhir saat tragedi Surabaya yang menimpa Alana saat itu. Ya Tuhan! Betapa bodohnya ia, jika sejak itu pula ia sudah menaruh hati pada istrinya. Lalu, mengapa baru sekarang ia menyadarinya.


“Mengapa seseorang terasa begitu berarti. Setelah ia pergi meninggalkan kita ya, Zain.”


Zain terdiam menatap sang atasan yang tampak kacau dengan prihatin. ”Tuan.”


”Tolong cari info tentang Alana. Bawa dia kembali Zain. Aku sungguh tidak bisa kehilangannya. Aku akan melakukan apapun, asal dia mau kembali.”