
Alunan musik merdu yang terdengar di ruangan itu mengiringi langkah kaki Alana dalam mengimbangi gerakan Dave. Saat ini keduanya sedang berdansa. Jika saja, ia bisa lari. Alana ingin segera berlalu dari hadapan Dave kini. Entahlah jantungnya merasa sesak tiba-tiba. Ia masih terkejut tak percaya mengingat sikap Dave tadi.
Hebatnya, setelah ungkapan Dave tadi. Teman-teman yang sejak tadi menggosipkan dirinya, menatapnya tak suka. Langsung berbuat baik pada Alana. Ternyata begitulah, dengan kekuasaan orang bisa mendapatkan apa saja. Sayangnya, Alana sama sekali orang-orang seperti itu. Ia hanya ingin berteman pada seseorang yang benar-benar tulus padanya.
“Kenapa hanya diam, justru melamun?” tanya Dave, salah satu tangannya masih melingkar di pinggang Alana.
Alana yang saat itu tengah melamun langsung tersentak. “Ti–tidak!”
“Dave, kenapa kau melakukan itu?" tanya Alana kemudian.
“Melakukan apa? Menciummu? Aku kan hanya membalas budi, waktu itu kau pernah mencium ku secara tiba-tiba kan di depan Natasha. Dan sekarang aku juga membantumu, melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Aku mencium kamu di depan mantan kekasihmu. Lihat saja dia begitu kepanasan,”cibir Dave pelan melirik ke arah Edo di yang berdiri di ujung.
“Bukan itu–”
“Hemm lalu?” tanya Dave seraya mengurai tangannya, membuat gerakan memutar di tubuh Alana.
“Kenapa kau mengakui aku istrimu tadi? Harusnya kau cukup bilang kekasih saja,” pungkas Alana setelah tubuhnya kembali dalam genggaman Dave. Masih dalam posisi sama keduanya masih berdansa, tak peduli banyaknya pasang mata yang melihatnya. Di ujung meja bulat belakang, Edo berdiri persis di sisi Tisa. Pandangannya tak lepas dari Alana. Sesekali ia akan melengos, menatapnya dengan pandangan tak suka.
“Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya," sanggah Dave.
“Tapi Dave, kita kan hanya menikah kontrak.”
“Aku tahu Alana. Tenanglah, kenapa kau sepanik itu. Semua akan baik-baik saja,” seru Dave santai.
“Dave kau itu seorang pembisnis, bagaimana jika karena gosip ini, nama baikmu justru tercoreng. Lalu reputasimu justru hancur,” keluh Alana.
Dave tertawa kecil, menikmati raut wajah panik istrinya. “Tidak akan semudah itu Alana. Semua akan baik-baik saja percayalah. Lagian kau harusnya berterima kasih padaku, dengan aku mengakui dirimu sebagai istriku. Orang-orang jadi menatapmu dengan tatapan memuja,” kata Dave melirik ke arah Edo lagi. “Dan lihatlah tatapan mantan kekasihmu itu. Dia terlihat begitu menyesal Alana,” sambungnya.
Alana berdecak lalu menyudahi aktivitas dansanya. “Aku capek!”
Dave mengangguk. “Istirahatlah. Aku akan mengobrol dengan ketua direksi kampus.”
🦋
Berdiri di sisi tembok setengah badan, Alana memandang lalu lintas jalanan malam itu yabg terlihat padat. Sesekali kepalanya akan mendongak ke atas. Melihat indahnya taburan bintang di atas. Sangat indah bagi Alana.
“Alana?” panggilan seseorang yang terdengar tak asing suaranya memekakkan telinga, membuatnya menoleh.
“Mau apa kau? Menghinaku lagi, pergilah aku tidak banyak waktu!" usir Alana melipatkan tangannya di dada, lalu memandang Edo dengan kesal.
“Bukan, tapi aku perlu bicara sama kamu.”
Alana memandang Edo sinis. “Tidak ada yang perlu dibicarakan. Hubungan kita sudah berakhir,” tukas Alana.
“Tapi, Alana–”
“Sayang, kamu di sini?” suara Tisa menggema menghampiri keduanya. Membuat Edo menghela nafas malas. Tisa memandang ke arah Alana dengan kesal.
“Berani sekali kau menggoda kekasihku!” tuding Tisa kemudian.
Alana menarik sudut bibirnya. “Tanpa aku goda, dia juga akan datang sendiri. Ngapain aku menggunakan trik murahan seperti kamu. Menjerat kekasih sahabatnya dengan iming-iming tubuhmu yang buluk itu.
Tisa melotot mendengarnya, tangannya terangkat ingin menampar Alana. Namun, ia terkejut saat dengan cepat Edo justru menghalanginya.
“Apa yang kau lakukan? Lepas Edo! Biarkan aku memberi pelajaran padanya!” teriak Tisa marah. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Edo.
“Jangan membuat masalah Tisa. Cukup kau membuatku merasa malu tadi!” sergah Edo.
“Dia menghinaku, Edo. Dan kau harusnya membelaku, bukan membelanya. Kau dengar dia bilang aku yang menggodamu!”
“Apa yang kamu kau sangkal? Jika kenyataannya memang seperti itu? Sudahlah jangan membuat masalah.”
Perkataan Edo membuat Tisa melotot tak terima. Karena artinya Edo membenarkan perkataan mantan kekasihnya itu. Jelas Tisa tidak terima. Keributan yang diciptakan membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.
“Pergilah, jangan membuat masalah!”
Tisa bersungut lalu berlalu pergi seraya menghentakkan kakinya dengan kesal. Edo menoleh ke arah Alana.
“Aku minta maaf Alana," sesal Edo.
Alana melengos, lalu berlalu pergi meninggalkan Edo begitu saja, yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.