
Jikalau kau mengerti perasaanku ini.
Tak sanggup bagimu, menerima.
Cinta yang ku miliki, begitu besarnya.
Namun, ku kecewa dan terluka.
--> Di ambil dari lirik lagu pop Melayu Fanny Zee ft Aprilian.
ππ
Malam hari pukul delapan malam di Balroom Hotel Santika. Sebuah pesta pernikahan Natasha Renjana Lie dan Eldar Brian Cakra di gelar sangat mewah. Dekorasi khas bunga Lily terlihat begitu menakjubkan. Di atas panggung pelaminan tampak Natasha tersenyum merekah, sebelah tangannya menggandeng lengan sang suami dengan mesra. Tidak ada raut keterpaksaan antara keduanya. Pernikahan murni tergelar karena cinta, itulah yang Natasha katakan pada Alana saat dirinya mendekat memberi ucapan selamat padanya. Perempuan itu bahkan meminta maaf karena pernah melemparkan vas bunga padanya saat di rumah Dave. Sebagai permintaan maafnya, Natasha mengatakan akan memberikan bantuan, kapanpun Alana membutuhkannya, dia memberikan kartu namanya.
Alana merasa terkejut akan perubahan perempuan itu. Beberapa bulan tak bertemu, Natasha menjadi sosok yang hangat. Ia berkata semua karena cinta. Benar memang mungkin karena cinta? Cinta itu buta orang bisa berubah, dan melakukan apa saja. Seperti dirinya yang menjadi bodoh dengan tetap bertahan di sisi Dave hingga kontrak pernikahan usai, dengan harapan Dave akan menyadari ketulusannya.
Namun, sepertinya ia harus menelan rasa kecewa hingga waktu pernikahan itu usai. Jika bukan karena desakan Natasha untuk datang pada acara ini, Alana tentu lebih memilih berdiam diri di rumah, menunggu waktu esok tiba. Ya besok semua akan berakhir tepat di tanggal 21 Desember XXXX, status dirinya akan berubah menjadi seorang janda. Alana terkekeh kecil, ia tidak menyangka nasibnya semenyedihkan itu.
Musik mengalun merdu dari seorang penyanyi Melayu di atas panggung, tidak heran lantaran orang-orang mengatakan jika Natasha memang ada keturunan daerah sana. Dentingan peralatan makan juga riuh obrolan beberapa kalangan elit terdengar. Alana menyesap minuman di tangannya, memandang sekitar dengan bosan. Rasanya bukan kali ini saja, ia merasa tersisih dan terabaikan.
Dari tempat duduknya, tanpa sadar ia menatap ke arah Dave Dirgantara. Laki-laki tampan, kaya raya yang sudah setahun ini menjadi suaminya. Terlihat olehnya Jessica menempel ketat pada lelaki itu. Hati Alana semakin ketar-ketir di buatnya.
Melihat pemandangan itu membuat dadanya kian terasa sesak. Alana memilih beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan pesta keramaian di belakangnya. Malam ini gaun ungu muda yang menonjolkan kulit putihnya, sama sekali tak mampu menyamarkan keadaan hatinya yang merana. Kini, ia berdiri jauh dari pesta di sisinya tampak pilar berwarna gold dan juga kursi panjang. Alana berdiri menatap langit hitam dengan taburan bintang juga bulan sabit.
βTuhan, cinta itu apa? Kenapa bisa membuat bimbang? Hatiku remuk redam dan merana. Beritahu aku, Tuhan tentang makna cinta sesungguhnya. Apakah cinta itu memang begitu menyakitkan? Mengapa aku tak pernah beruntung soal cinta?β Alana berbisik pada angin malam, menyerukan kalimatnya yang tak pernah beruntung soal cinta.
βKau bicara sendiri, Alana?"
Teguran suara bariton mengejutkannya. Ia menoleh dan melihat Dave tengah berjalan ke arahnya. Tanpa sadar Alana mengelus dadanya merasakan debaran karena teguran sang suami secara tiba-tiba.
βAku hanya sedang bertanya pada bintang tentang makna cinta sesungguhnya.β Alana mengalihkan pandangannya ke atas langit sana.
βLalu apa jawabannya?β tanya Dave memandang istrinya dengan rasa ingin tahu. Salah satu tangannya merogoh saku jasnya mengambil ponselnya.
Alana menggeleng dengan wajah sendu. βTidak ada. Cinta itu hanya angan-angan, dan sebatas mimpi.β
Dave tersenyum tipis, kemudian mendudukan dirinya di kursi panjang sana. Lalu berkata, βemm... Begitukah? Mungkin memang waktunya kamu bangun dari tidurmu, agar impianmu tentang cinta pun terhenti.β
Keduanya terdiam, angin malam berhembus kencang menerpa dari arah taman hotel Santika. Dave masih asyik dengan ponsel di tangannya, dan tanpa sadar Alana menggeser tubuhnya pada sang suami. Entah kenapa ia ingin sekali menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya. Dave menyambutnya dengan baik, mengusap lembut pucuk kepala istrinya.
Seorang wanita cantik dalam balutan gaun berwarna merah menyala, menatap keduanya dari balik pintu dengan tatapan dendam, detik berikutnya ia memilih beranjak pergi.