Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Reka... [Epilog]


“Papi lagi buat apa?” Gala menghampiri Dave yang saat itu tengah sibuk di dapur.


“Bikin susu buat Mami, sayang." Dave menjawab setelah selesai mengaduk susu di gelasnya, ia meletakkannya di nampan. “Kita bawa ke Mami yuk,” ajaknya kemudian.


Gala pun mengikuti langkah kaki Dave menuju arah danau di mana istrinya berada. Sore itu senja mulai terlihat, hingga cahaya terpantul indah. Alana tengah berbaring malas di kursi dengan membaca buku. Ia menoleh ketika melihat suaminya datang bersama putranya dengan membawa satu gelas susu untuknya.


“Ayo, berikan pada Mami sayang,” titah Dave pada putranya. Gala pun menurut mengambil gelas dari nampan yang di bawa Papinya, lalu memberikannya pada Alana.


“Terima kasih, sayang.” Alana menyeruput susu itu.


Dave menekuk kedua kakinya mencium perut istrinya. “Sehat-sehat, Mami."


Alana tersenyum mengusap rambut sang suami. Gala pun menatap kedua orangtuanya sejenak, sebelum kemudian ia bertanya. “Apakah adik bayi belum mau keluar? Aku ingin mengajaknya bermain bola."


Alana terkekeh dibuatnya.


“Tunggu sebentar lagi, sayang. Coba biar Papi tanyakan.” Dave kembali merundukan wajahnya, lalu berbisik. “Hallo, boy. Kapan kau akan keluar? Mami, Papi dan Kakak menunggu untuk bermain bersama."


Dave menjauhkan wajahnya. “Sepertinya masih membutuhkan beberapa waktu lagi, sayang."


Gala mengangguk, “ya sudah. Aku mau bermain." Ia beranjak sambil menggandeng tangan Papinya. “Ayo bermain Papi,” ajaknya.


“Oke. Mami duduk di sini, Papi bermain sama Kakak dulu,” ucapnya pada sang istri. Alana hanya tersenyum mengangguk, ia meletakkan bukunya ke atas meja, berniat menghabiskan susunya. Namun, tiba-tiba ia meringis merasakan tendangan buah hatinya begitu kuat.


“Aduh!"


“Ada apa, sayang? Ada apa?” Dave mendekati istrinya dengan rasa panik. Alana langsung mencengkeram lengan suaminya.


“Perutku sakit, juga mulas.”


“Hah! Kamu mau melahirkan,” pekik Dave langsung berdiri menghampiri Gala yang terdiam bingung. “Ambil kunci, Gala. Mami mau lahiran, ayo kita ke rumah sakit.” Dave menggendong putranya menjauh, membuat Alana berteriak sakit juga kesal.


“Dave, aku di sini. Kenapa kau justru menggendong putramu?!”


Dave langsung sadar, menurunkan Gala dari gendongannya, lalu kembali menghampiri istrinya. “Maaf sayang, aku terlalu panik."


Dave beralih menggendong istrinya, berniat membawanya ke rumah sakit. Sampai di ruang tamu ia kedatangan Zain dan Silvi.


“Alana...."


“Tuan, Nyonya kenapa?” tanya Zain terkejut melihat Alana dalam gendongan sang atasan yang tengah merintih kesakitan.


“Mau melahirkan, kamu antar saya ke rumah sakit ya."


“Baik Tuan.” Zain beralih menatap istrinya sejenak. “Kamu di sini dulu ya. Jaga Gala."


“Iya.”


“Tolong hubungi keluarga ya, Vi. Dan panggilkan Ibu di atas. Nanti aku kabari kalau udah lahir,” seru Dave sebelum berlalu keluar dari rumah.


💞


Setelah beberapa jam melalui proses melahirkan dengan jalur normal, dan Alana telah selesai dibersihkan beserta bayinya. Ia langsung dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Tampak wajah Dave begitu berantakan, beberapa kancing kemejanya ada yang lepas, rambutnya berantakan, lengannya terdapat beberapa cakaran dan gigitan Alana.


“Al, kamu apakan suamimu? Tampangnya jadi mengenaskan seperti itu?” tanya Silvi setengah berbisik agar tak terdengar oleh Dave yang saat itu tengah menatap putranya yang baru lahir di box bayi.


Alana ikut melihat ke arah suaminya, lalu ia meringis. “Aku... Em entahlah. Reflek, gak nyangka juga bisa begitu hasilnya.”


“Kaya punya dendam pribadi,” seru Silvi tergelak.


Alana mengerucutkan bibirnya ke depan. “Mungkin Reka tahu, kalau dulu Maminya melahirkan kakaknya berjuang sendiri. Makanya sekarang pas dia mau ke luar ada Papinya, ya begitulah,” jawab Alana asal, membuat Silvi melongo lalu mengusap perutnya.


“Bagaimana dengan kehamilanmu?” tanya Alana kemudian.


“Dia pengertian. Aku tidak pernah mual, cuma pengen berduaan terus sama suami,” jawab Silvi cekikikan. Mengingat beberapa hari belakangan ia kerap mengganggu sang suami yang tengah bekerja, tentunya dengan rayuan nakalnya. Entah ini hormon kehamilan apa gimana. Dia begitu menyukai tubuh suaminya ketika berkeringat di atasnya.


“Mesum!” seloroh Alana ketika melihat wajah sahabatnya yang tengah senyum-senyum sendiri. Namun, dibalik hal itu ia juga merasa senang, akhirnya sahabatnya itupun bahagia, menemukan pendamping yang tepat.


“Lihatlah sayang, bibirnya mirip sekali denganmu. Tapi, wajahnya mirip sekali denganku.” Dave mendekati istrinya dengan membawa putranya yang baru lahir, yang diberi nama Reka Neil Dirgantara.


“Curang! Aku yang mual, ngidam, melahirkan. Pas lahir kok mirip kamu. Gala dan Reka, semuanya mirip kamu.”


Dave terkekeh merundukan wajahnya, lalu berbisik. “Kita tunggu Queen meluncur sayang. Dia pasti akan mirip kamu."


“Kamu aja yang hamil,” celetuk Alana. Pasalnya sang suami masih mendambakan anak perempuan. Dave hanya terkekeh geli.


Hingga tak lama kemudian, Andi datang menjenguk mereka. “Aku kira anaknya perempuan, Al. Aku mau daftar jadi menantumu. Kapan lagi kan punya mertua miliarder,” katanya yang langsung mendapatkan tatapan kesal dari Dave.


“Kalaupun anakku perempuan. Pas anakku besar kamu udah tua,” cetusnya. Membuat Andi merenggut kesal, kenapa kata tuanya harus diperjelas.


“Kasihani aku yang masih jomblo ini!” keluhnya dengan wajah memelas. Namun, hal itu justru membuat Silvi dan Alana tertawa. Zain dan Dave hanya saling berpandangan melongo.


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Keluarga besar Dirgantara masuk, menyambut anggota baru. Mereka saling berebut untuk menggendong.


Silvi yang duduk di sofa merebahkan kepalanya di pundak sang suami. “Aku senang lihat Alana bahagia."


Zain mengangguk mengusap lengan dan perut istrinya. “Kalau kamu bahagia tidak?”


“Sangat. Terima kasih, sudah menerima aku dengan segala kekurangan aku.”


Lalu, Zain memberikan kecupan mesra di kening istrinya.


“Ehem!”


Deheman Dave yang keras membuat suasana romantis keduanya terhenti. Hingga membuat keduanya tersenyum canggung. Sementara yang lainnya tertawa.


💞💞


Tamat


Thank you buat para readers yang udah mendukung kisah perjalanan cinta mereka ya. Maaf kalau endingnya kurang memuaskan. Kenapa gak sampai Silvi melahirkan? Ah tidak, takut muter-muter alurnya. Intinya mereka udah bahagia aja ya.


Sampai jumpa di penerus keluarga Dirgantara selanjutnya. Insya Allah akan aku pikirkan buat cerita tentang Gala.