Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Gala?


Lima tahun kemudian


Samarinda, Kalimantan Timur


Seorang perempuan cantik, dengan tubuh bak gitar Spanyol turun dari mobil mewah, dengan membawa beberapa tentengan. Membawanya menuju sebuah rumah yang cukup sederhana. Lalu terdengar suara anak laki-laki berumur empat tahun berteriak.


“Mami... Mami... Bibi Nat-nat datang!” teriak Gala dari teras rumah.


“Hei tidakkah kau bisa memanggil namaku dengan benar?” protes Natasha mencubit gemas pipi anak itu.


“Jangan cubit-cubit. Akan ku adukan pada Paman Bryan. Biar Bibi dicubit balik,” ancam Gala dengan wajah bertekuk kesal. Bahkan ia mengusap pipinya yang bekas dicubit Natasha.


Natasha tergelak. “Astaga. Kenapa kau menggemaskan sekali.” Kali ini ia lebih memilih mengacak-acak rambut anak itu. Membuat Gala semakin menggeram kesal.


“Masuklah Kak. Kenapa malah berjongkok di situ? Aku sedang memasak,” ujar Alana menemui di ambang pintu, lalu kembali melangkah ke dapur. Penampilannya terlihat sederhana, perempuan itu hanya mengenakan daster rumahan. Namun, hal itu tidak menutupi kecantikannya.


Natasha mengangguk setelah sebelumnya meletakkan paper bag yang berisi mainan untuk Gala. “Susun yang tinggi. Bibi mau masuk dulu. Oke son.”


Perempuan itu melangkah masuk meletakkan beberapa barang bawaannya, menyusul Alana ke dapur. “Kau memasak apa?”


“Ibu bilang kau mau datang. Jadi, aku diminta masak toge,” jawab Alana tergelak. Sementara Natasha mengerucutkan bibirnya kesal.


“Astaga. Aku bosan sekali diminta makan toge terus. Tapi, aku tidak juga kunjung garis dua,” keluhnya membuat Alana tertawa.


“Tidak ada yang sia-sia selama kau mau berusaha. Percayalah,” ujar Alana menenangkan, seraya menata makanannya di atas meja makan. Natasha langsung mendudukan dirinya di sana.


“Aku lelah memeriksa pake tespek karena hasilnya terus negatif. Dan aku merasa heran kami bahkan sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi mengapa kamu yang hanya satu kali melakukanya dengan Dave, langsung jadi,” keluh Natasha menunjuk ke arah Gala yang asik membuka Legonya di ruang tamu. Alana yang tengah meminum seketika langsung tersedak. Natasha sigap membantu. Namun, Alana menggelengkan kepalanya ia merasa baik-baik saja.


“Mami aku bisa susun tinggi seperti perkataan Bibi Nat-nat. Apakah tempat kerja Papi setinggi ini?” tanya Gala memberitahukan susunan Legonya yang terlihat tinggi seperti gedung perkantoran.


Alana terkesiap, menatap wajah putranya dengan sedih. Namun, secepat itu wajahnya bereaksi, ia mengusap pelan rambut anak itu. “Tentu saja sayang.”


“Hore.. Papi hebat!” teriaknya kembali berlari ke ruang tamu.


“Astaga. Kenapa tingkahnya begitu mirip dengan Dave,” celetuk Natasha. Ia begitu ingat bagaimana ketika Dave memandang lawannya dengan wajah senang atau tidak.


“Tentu saja. Darahnya mengalir kental di tubuhnya,” sahut Alana membuatnya tertawa. “Ku dengar kau mau ke Spanyol?” sambung Alana langsung mengalihkan pembicaraan.


Natasha mengangguk mengambil nasi dan lauk meletakkannya di piring lalu memakannya. “Iya. Mas Bryan ngajak liburan. Dokter menyarankan kami untuk rehat sejenak. Siapa tahu dari hal ini kami bisa pulang dengan membawa kabar gembira.”


Alana mengangguk. “Amin.”


“Ku dengar besok kau mau kembali ke Jakarta. Apa itu benar?” tanya Natasha membuat aktivitas Alana terhenti.


“Iya.”


“Kenapa tiba-tiba kau memutuskan kembali? Apakah karena..”


Alana menggeleng dengan cepat. “Bukan karena Dave. Tapi beberapa Minggu ini aku kerap bermimpi bertemu Ayah. Dia menangis, aku pikir dia juga merindukanku untuk agar aku bisa berkunjung ke makamnya. Biasanya selama di Jakarta aku mengunjunginya seminggu sekali. Dan kau pasti tahu, Ibu pasti merasakan hal yang sama. Sejak ia sembuh aku belum pernah membawanya ke makam Ayah. Mungkin Ayah pun mengharapkan kehadirannya. Aku tidak bisa seegois itu, Kak.”


Natasha mengangguk. “Aku mengerti. Katakan apa yang harus ku bantu?”


Alana menghela nafasnya sejenak, lalu menggeleng. “Tidak perlu. Sudah cukup lima tahun ini kau ku repotkan. Setelah ini berpikirlah Dengan kehidupanmu sendiri, nikmati liburanmu, dan bawa kabar baik untuk kami.”


“Oh ayolah. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku. Jadi, jangan katakan jika kau beban.”


“Aku tahu. Tapi, ini keputusanku.”


“Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Perlukah aku mengirimmu menggunakan jet pribadi? Lalu sopir pribadi, dan juga tempat tinggal.”


Alana terkekeh mendengarnya. “Tidak perlu. Sudah ku katakan jangan pikirkan hal itu. Berangkatlah liburan dengan tenang.”


Tak lama kemudian Ibu Ratmi datang dengan membawa kantong kresek, sepertinya dia baru kembali dari pasar.