
Pukulannya kandas. Entah bagaimana Dave tiba-tiba berada di depannya. Menangkap pukulan yang diarahkan pada Alana. Dengan sekali sentak dia menekuk tangan sang preman dan menekuk kakinya. Tanpa ampun meluncurkan pukulan di bahu dan leher, hingga membuat lelaki yang bertato itu pingsan. Alana terperangah begitu juga Pak Herman. Kehadiran Direktur mereka sungguh tak terduga.
“Tu–tuan... Te–terima kasih,” ucap Pak Herman gugup.
“Dave?” panggil Alana lirih.
Dave hanya memandang sekilas ke arah preman yang tergeletak pingsan. Lalu pandangannya mengarah pada Pak Herman dan Alana.
“Biarkan saja dia, polisi akan segera datang mengurus semuanya,” ucap Dave sambil menatap kesal ke arah Alana.
Alana mengigit bibirnya, “Kalau gitu aku akan pu...”
“Ikut denganku!” Dave segera menarik tangan Alana membawanya ke mobil.
“Aduh jangan kencang-kencang,” protes Alana kala Dave menarik tangannya cukup kencang hingga membuat ia kembali merasakan ngilu pada lengannya. Dave yang tersadar segera melepaskan tangannya.
“Ternyata masih sakit? Kalau begitu masuklah ke mobil. Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
Alana menggeleng, “Dave tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri!” tolaknya.
“Masuk Alana? Apa kau mau menjadi jagoan lagi?” tukas Dave heran.
“Maksudnya?”
“Di depan masih ada segerombolan preman yang mabuk, apa kau mau menjadi jagoan lagi. Dengan mencoba melawan mereka?” terang Dave. Alana terdiam entah kenapa ia merasakan aura kekesalan di wajah Dave.
“Tapi Dave aku akan membawa motor.”
“Berikan kunci motormu?” Dave menengadahkan telapak tangannya.
“Tapi Dave mau buat ap–”
“Berikan saja!” desak Dave membuat Alana mau tak mau membuka tas miliknya lalu mengeluarkan kunci motornya dan memberikannya.
Usai menerima Dave menoleh ke arah asistennya. “Zain, kau bisa membawa motor kan?” tanyanya seraya melemparkan kunci motor milik Alana.
“Bisa Tuan!”
“Bawa motor Alana ke rumah, dan berikan kunci mobil ku. Aku akan membawa mobilku sendiri,” kata Dave seraya mengulurkan tangannya meminta kunci. Zain mendekat dan memberikan kunci mobilnya.
“Zain, sebelum pulang. Kau bantu bereskan masalah Pak Herman lebih dulu!” titah Dave seakan mengerti apa yang Alana pikirkan.
“Baik Tuan!”
Setelah itu Dave meminta Alana masuk ke mobilnya. Menutup pintu mobil, ia mengitari awak mobil menuju kursi kemudi.
“Pasang sabuk pengamannya Alana. Kau tidak mempunyai nyawa ganda kan?" titah Dave saat melihat Alana belum juga memakai sabuk pengaman. Perempuan itu menuruti perintahnya. Mobil meluncur meninggalkan area kantor, di depan pintu gerbang Alana melihat kerumunan preman tampak membuat kerusuhan, tampaknya mereka semua tengah mabuk. Alana bergidik ngeri membayangkan jika tadi ia tidak ikut dengan Dave. Akan seperti apa nasibnya.
“Dave terima kasih,” ucap Alana menoleh sekilas ke arah lelaki itu.
“Untuk?” sahut Dave pelan pandangannya tetap fokus ke depan.
“Untuk semuanya. Termasuk untuk urusan Pak Herman.” Alana sedikit memiringkan tubuhnya menatap Dave dengan senyum manis di bibirnya. “Aku tahu kau itu orang yang baik,” lanjutnya memuji.
“Bukan aku yang baik Alana. Tapi kamu,” kata Dave menyangkal.
“Tapi–”
“Aku tidak akan mungkin melakukan itu semua. Jika bukan karena melihat rasa pedulimu tadi,” tutur Dave, Alana menunduk menyadari jika Dave melakukan hal itu karena masih membutuhkan dirinya. “Aku tahu kamu orang yang baik, peduli, suka menolong. Tapi, bukan berarti kamu harus membahayakan nyawamu kan?” sambung Dave bertanya.
“Maksudnya?”
“Apa kau tidak pernah berfikir sebelum menghadapi preman tadi? Bagaimana kau bisa melawan dengan tangan kosong. Ku tahu kau berniat menolong Alana. Tapi, kau juga harus ingat nyawamu taruhannya. Bagaimana jika preman tadi menghabisi dirimu? Atau bisa melakukan pelecehan terhadapmu? Kau tidak berfikir ke arah sana kan.”
Alana menggeleng, mengingat kejadian tadi. Ia sendiri tak mengerti bagaimana bisa ia tiba-tiba seberani itu. “Kalau tidak boleh dengan tangan kosong, apakah boleh aku membawa pistol?”
“Alana!" sergah Dave kesal.
Alana terkikik. “Aku hanya bercanda."
“Aku heran bagaimana bisa kau nekat seperti tadi. Bahkan bahumu saja masih sakit?”
“Entah kenapa tadi rasa sakitku lenyap.”
Dave hanya diam membelokkan mobilnya ke salah satu gedung rumah sakit. “Dave ini–”
“Turun Alana. Aku harus memastikan kondisi bahumu dengan benar.”