Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Bunga Deposito?


PT. Dirgantara Karya. TBK


Mobil Lamborghini Aventador yang dikendarai oleh Zain tiba di lobi. Seorang penjaga sigap membukakan pintu untuk Dave. Setelah lelaki itu keluar, Zain membawa mobil itu berlalu ke arah parkiran.


Usai memarkirkan mobilnya, Zain berlalu masuk ke kantor. Ketika hendak menuju ruangannya ia harus melewati meja Nana— sekretaris Direktur. Zain menghela nafasnya tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu, hingga akhirnya ia memilih mendekati meja rekan kerjanya itu.


“Apa kau sibuk?” tanyanya to the point. Hal itu membuat Nana terlonjak. Kebiasaan Zain selalu datang langsung bertanya atau menegur tanpa salam dulu, sebenarnya Nana harusnya tak heran lantaran Zain memang tipikal lelaki yang irit bicara. Hanya saja saat itu ia tengah sibuk menyusun kembali jadwal sang direktur.


“Ada apa asisten Zain? Ada yang bisa ku bantu?” tanya Nana balik meletakkan iPad di tangannya. Ia mengubah expresinya dengan wajah serius.


Zain terdiam sesaat seperti tengah memikirkan sesuatu. “Bagaimana cara melamar perempuan agar langsung diterima?” tanyanya kemudian.


Nana melongo hampir tak percaya, ia bahkan sampai menelan ludahnya, memastikan pendengarannya.


Melamar perempuan? Pikir Nana. Benarkah ia tak salah mendengar. Seorang asisten Zain yang anti dan bahkan hampir tak pernah dekat dengan perempuan, tiba-tiba bertanya perihal lamaran untuk seorang perempuan.


“Hei, kenapa kau malah melamun?!” tegur Zain kesal. Tidak tahukah jika ia tengah serius, dan mengesampingkan rasa malunya demi bertanya hal seperti itu. Penolakan Silvi kemarin benar-benar membuatnya pusing, nyaris tak bisa tidur semalaman.


“Memangnya kamu mau melamar siapa?” tanya Nana lagi mendadak ia jadi penasaran siapakah perempuan itu.


“Yang pasti perempuan!” tukas Zain menghela nafas kesal. Ia bertanya mengapa rekan kerjanya itu malah jadi cerewet. “Buruan kasih tipsnya biar diterima? Dulu kamu dilamar suami kamu gimana?” sambungnya.


“Aku dilamar resmi minta langsung ke orang tua, Zain.”


“Sebelum itu?”


“Oh maksudnya ngungkapin perasaan?” tebak Nana.


Zain mengangguk. “iya.”


“Tinggal bilang aja langsung apa susahnya.”


“Kalau ditolak?”


“Ye resiko. Artinya anda kurang beruntung!”


“Tapi, aku gak suka ditolak!” kekeh Zain membuat Nana melongo. “Dan sialnya kemarin aku memang sudah di tolak. Bisa-bisanya perempuan itu nolak aku nikahi!"


“Gak lah. Aku tahu kok dia udah suka sama aku sejak dulu,” sahutnya percaya diri.


Nana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sejak kapan asisten direktur itu begitu percaya diri. “Terserah anda lah Pak,” dumel Nana kembali membuka iPadnya. “Tapi, ngomong-ngomong kalau boleh tahu? Bagaimana cara kamu melamarnya? Kok bisa ditolak. Jarang banget seorang Zain menyatakan cinta pada perempuan,” lanjutnya penasaran.


“Aku gak bilang cinta, aku langsung mengajaknya menikah!” terang Zain.


“Apa!!” pekik Nana terkejut. Sungguh benar-benar kaku sekali lelaki di depannya kini. Zain mengangguk dan menceritakan sebagian kejadian semalam.


“Kalau aku jadi perempuan itu bukan hanya sepatu yang ku lempar. Tapi wajahmu juga aku cakar-cakar. Bisa-bisanya setelah menyerobot ciumannya lalu melamar di depan pintu kontrakan. Gak ada romantisnya sama sekali. Lempeng aja? Kamu mau ngajak nikah kaya ngajak main! Udah gitu gak bilang cinta, perempuan itu pasti mikir kamu hanya main-main.”


“Aku pikir usia seperti aku ini udah gak perlu ungkapan begituan,” keluh Zain.


“Tapi ungkapan itu juga perlu. Dan penting bagi seorang perempuan mendengar perasaanmu sesungguhnya!” tukas Nana. Dan Zain berdecak ia merasa geli ketika otaknya justru berpikir tentang rayuan gombalan anak muda, hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya. “Aku pikir kau lebih tahu apa yang pernah terjadi dengan Tuan Dave dan Nyonya Alana. Kenapa kamu tidak belajar dari kisah mereka,” sambungnya.


Zain terdiam, kembali mengingat peristiwa Alana meninggalkan sang atasan karena tida adanya kata kepastian tentang perasaannya. ”Kalau gitu aku harus apa?”


“Ajak makan malam yang romantis, berikan suatu barang yang ia sukai,” saran Nana.


“Barang apa? Aku bahkan tidak tahu kesukaan dia apa?” dengus Zain.


Nana melotot. “Astaga! Kau menyukai perempuan tapi kau bahkan tidak mencoba mencari tahu apa kesukaannya. Lempeng sekali hidupmu, Tuan. Inilah contoh laki-laki yang tidak peka. Ya kau bisa bawa misal, Bunga, coklat atau apapun yang di sukai.”


“Kau pikir dia kupu-kupu suka bunga?! Huh!” sergah Zain, Nana semakin bingung tadi bilangannya minta saran. “Dia pekerja keras dan suka uang. Bagaimana kalau ku berikan bunga deposito saja,” sambungnya.


Gubrak!


Nana langsung menjatuhkan iPad di tangannya.


💕


💞


Sini Zain sayang bunga deposito buat aku ajah entar aku bisikin cara melamar Silvi 🤭.


Jangan lupa like, komentar, hadiah dan votenya ya.. sayang kalian 🤗