
Dave masuk ke dalam mobilnya, meminta Zain untuk menjalankan mobilnya, meski sang asisten terasa bingung.
“Gala dengarkan Paman. Lain kali jangan sembarangan masuk mobil orang asing. Kau tahu itu sangat berbahaya. Bagaimana jika yang kau masuki mobilnya adalah orang jahat.”
“Tapi, aku tahu Paman bukan orang jahat,” bela Gala.
Dave menghela nafasnya, semakin pusing merasakannya. Sifat keras kepalanya Gala sangat mirip dengan Alana. Sejenak Dave jadi membayangkan jika ia dan Alana memiliki anak pasti sifatnya sebelas dua belas seperti Gala. Tapi, bagaimana mungkin? Alana mengatakan tidak hamil saat meninggalkannya. Sejujurnya ada sedikit keraguan dalam dirinya. Namun, ia lebih memilih diam, memercayai kejujuran Alana.
“Berapa umurmu, Gala?” tanya Dave.
“14 tahun!”
“Hah?!”
“Maksudku 14 di kurangi 10 tahun Paman. Jadi umurku baru 4 tahun.” Gala terkikik geli. “Paman itu terlalu kaku, tidak bisa bercanda ya. Kaget begitu.
Dave kau itu terlalu kaku. Tidak bisa bercanda sama sekali.
Dave tertegun, mana kala ucapan Gala semakin menambah kemiripan dalam diri Alana.
Ya Tuhan, ada apa ini?
Mendadak ia menjadi gusar, diam-diam melonggarkan dasinya. Baru kali ini ia bisa terlihat bodoh di depan anak kecil. Anehnya ia begitu menikmati kebersamaan itu.
Dave yang biasanya selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja saat di dalam mobil. Kali ini lebih memilih mendengarkan celotehan Gala yang menurutnya tak jelas. Namun, mampu membuat suasana hatinya membaik. Anak itu bercerita tentang Maminya yang suka mengomel, juga tentang teman-temannya di sekolah. Hingga tanpa terasa mobil sudah tiba di lobi perusahaan AJ Silver Gold. Anak itu tertidur hingga Dave melupakan jika tadi ia menjanjikan untuk membawanya makan.
“Zain tadi aku menjanjikannya makanan. Tolong setelah ini kamu beli makanan, dan cemilan yang disukai anak-anak.”
“Baik Tuan!”
Dave menepuk pelan pipi Gala yang tidur dalam pangkuannya. Diam-diam Dave tersenyum saat melihat wajah Gala lebih inci. Menurutnya ada kemiripan wajahnya. Apakah itu suatu kebetulan?
“Gala, ayo bangun.”
“Papi!” Gala menghambur memeluk Dave, membuat tubuh lelaki itu terpaku, mana kala merasa sesuatu yang hangat mengalir dalam dirinya.
Dave menggerakkan tangannya, mengusap lembut rambut Gala. “Kau sudah bangun?” tanyanya.
Lantas, kedua mata Gala membeliak menyadari kekeliruannya, segera ia menjauhkan tubuhnya.
“Maaf Paman. Aku pikir tadi—”
“Tidak apa-apa! Maaf Paman tidak jadi mengajakmu makan diluar. Karena tadi kau tertidur, Paman juga harus segera masuk ke dalam. Nanti biar Paman Zain yang membelikan makanannya, kau bisa menunggu dan bermain di ruangan Paman.”
“Baik Paman.” Gala beranjak turun dari mobil.
Ketika kakinya baru menginjak di lobi, mulut Gala menganga takjub. “Wahh bagus sekali, Paman. Sangat tinggi.”
Dave terkekeh gemas melihatnya.
“Paman, bolehkah aku masuk ke dalam?” Gala menoleh ke arah Dave, dengan mengedipkan kedua matanya, sebagai bentuk permohonan.
“Tentu saja! Kalau kau mau kau bisa melihatnya sampai ke atas.”
Wajah Gala langsung berbinar bahagia. Tanpa di sangka ia berbalik mendekati Dave. Lalu memegang tangannya. “Paman, ayo kita masuk bersama-sama,” ajaknya.
Ketika sepasang tangan mungil itu menarik tangannya. Dave merasa seperti terhipnotis olehnya, sesuatu perasa hangat dan nyaman mengalir begitu saja dalam hatinya, ia langsung melangkah masuk dengan salah satu tangannya di gandeng Gala. Dave tersenyum sepanjang jalan masuk menuju lift.
Hal itu tentu saja mengundang perhatian seluruh karyawan miliknya.
“Astaga. Siapa yang dibawa Tuan Dave? Apakah itu anaknya, mirip sekali perpaduan antara Tuan Dave dan Nona Alana.”
“Iya. Baru kali aku melihat Tuan Dave tersenyum bahagia, selain saat bersama Nona Alana.”