
Langit pun sudah berubah warna, pantulan senja terlihat begitu indah, ketika lima orang itu beranjak meninggalkan arena bermain golf. Dave mengucapkan terima kasih pada rekan bisnisnya itu yang mau menuruti permintaan istrinya untuk bermain golf bersama.
Kebersamaan mereka ditutup dengan acara makan malam bersama. Sebelum akhirnya mereka bertolak ke rumah masing-masing. Dengan Bella dan Alana yang saling bertukar nomor.
“Aku menunggu undangan pernikahan kalian,” kata Alana sebelum berlalu masuk ke mobil suaminya.
Mobil langsung melesat meninggalkan area Hotel Santika dengan Zain yang menyetir, Alana dan Dave duduk di belakang. Keduanya saling diam tanpa ada yang berniat membuka obrolan. Alana tak ada niat mengganggu karena suaminya tengah membuka iPad di tangannya. Ia pikir Dave tengah sibuk.
Pandangan Alana mengarah pada gemerlap lampu di sepanjang jalan. Hingga tiba-tiba ia merasa matanya begitu berat, setelah sebelumnya berkali-kali ia menguap. Bertepatan itu Dave pun menoleh ke arahnya.
“Kenapa habis makan itu kenyang?” tanya Alana membuka obrolan seraya mengusap perutnya.
“Justru kalau habis makan lapar itu perutmu perlu dipertanyakan, Alana.” Dave menyahut seraya menyimpan iPad di tangannya tadi, ia bahkan terkekeh kecil mendengar pertanyaan absurd istrinya. Bukan hanya Dave, Zain yang tengah menyetir pun hampir tertawa mendengar pertanyaan Alana.
Alana mengangguk paham. “Tapi, aku jadi ngantuk Dave.”
Alana memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Bangunkan aku ketika sudah sampai ya, Dave,” pintanya dan mulai memejamkan kedua matanya.
Posisi Alana yang tidur dengan kepala yang sambil duduk bersandar di pintu kaca mobil, membuat kepala perempuan itu hampir terpentuk kaca mobil. Saat itu ia hanya merasa ngantuk dan ingin tidur, meski sebentar.
Namun, tanpa di duga tiba-tiba ia merasakan tangan kekar Dave menarik tubuhnya. Menyandarkan kepalanya di bahu Dave, dengan salah satu tangan yang memegang pinggang Alana.
“Pelan saja Zain. Alana tertidur, aku khawatir kalau terlalu cepat, tidurnya akan terganggu,” ucapnya pada sang asisten.
“Baik Tuan!”
Alana yang belum sepenuhnya tidur itu, mendengar ucapan Dave ke Zain. Ia yang semula mengantuk tiba-tiba menjadi meremang, mana kala kepalanya justru di sandarkan di bahu kekar lelaki itu.
Alana menyukai posisi ini. Tidak apa bukan, jika dipikir ia tengah bersandiwara memanfaatkan kebaikan Dave, dengan berpura-pura tidur. Ia tahu kemungkinan suatu hari nanti jika ia sudah tidak bersama dengan lelaki itu. Dave akan melakukan hal ini dengan perempuan lain, kekasihnya itu mungkin. Sebersit rasa tidak rela tiba-tiba muncul. Bolehkah ia mengharapkan jika kekasih Dave tidak usah kembali? Namun, apakah itu artinya Dave akan memperpanjang kontrak pernikahan itu, atau justru membuatnya pernikahan seperti pada umumnya, dengan kedua insan yang saling mencintai. Namun, jika dipikir lebih dalam, itu mustahil karena Alana tahu Dave adalah lelaki yang berkompeten pada sebuah pendirian. Jadi, yang bisa Alana lakukan saat ini adalah menikmati kebersamaan dengan Dave, tanpa berpikir bagaimana ke depannya.
Alana merasakan tangan kekar Dave mengusap-usap rambutnya, hal itu membuat Alana terasa nyaman, dan perlahan ia benar-benar tidur.
Dave menarik sudut bibirnya, saat mendengar bunyi nafas teratur istrinya. Menatap wajah istrinya sejenak, lalu ia berkata. “Tidur juga dia.”
Sebenarnya, ia pun tahu jika tadi Alana hanya pura-pura tidur saat dirinya menarik tubuhnya. Kini secara pelan dan diam-diam Dave mengecup pucuk rambut Alana.
Hingga mobil tiba di depan rumahnya. Zain membukakan pintu untuk atasannya itu. “Perlu bantuan, Tuan?” tawarnya.
“Bukakan pintu rumah saja. Aku akan menggendong Alana.”
Zain pun menurut. Lalu, Dave dengan pelan mulai mengendong Alana. Perempuan itu sama sekali tidak terusik ketika Dave bergerak menggendongnya masuk ke dalam.
“Lho Nona Alana kenapa?” tanya Salma.
“Tidur! Tolong bukakan pintu kamarnya,” pinta Dave.
Salma berlari naik ke tangga menuju kamar Alana. Membukakan pintu majikannya. Dave yang sudah tiba membawa istrinya itu masuk.
Dengan pelan ia merebahkan tubuh Alana di ranjang. Bahkan ia juga melepaskan sandalnya. Salma datang membawakan tas Alana lalu beranjak keluar lagi.
Dave menarik selimut untuk menutupi tubuh Alana. Setelahnya, ia ingin beranjak. Namun, matanya justru terpatri pada bibir ranum Alana. Entah bagaimana, Dave justru membungkukkan badannya, lalu mengecup bibir perempuan itu. Rasanya tidak akan puas jika hanya mengecup, Dave baru hendak menggerakkan bibirnya. Namun, tiba-tiba kedua mata Alana terbuka. Membuat Dave buru-buru menarik tubuhnya, menegapkan tubuhnya kembali, dengan jantung yang berdegup kencang seperti habis maraton. Sejenak ia seperti seorang pencuri yang hampir ketahuan. Nafasnya tampak memburu.
Dave kembali menoleh ke arah Alana. Perempuan itu sudah memejamkan matanya kembali. Ia dapat menarik nafas lega. Tak ingin kejadian sama terulang, ia memilih berlalu meninggalkan kamar Alana.