Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Kesuburan?


Seorang pelayan menyambut kedatangan ketiganya, lalu menggiring mereka masuk. Lagi, Alana merasa takjub dengan rumah mewah itu, di mana di dalamnya terdapat lampu kristal yang menggantung di atas. Tempatnya yang begitu luas. Sama mewahnya dengan mansion utama keluarga Dirgantara.


Alana terus menggandeng lengan Dave selama turun dari mobil hingga ke dalam.


“Dave, rumahnya bagus sekali. Tidak kalah bagus dari rumahmu,” puji Alana.


Dave tersenyum simpul. “Iya Alana. Pak Risky ini adalah seorang pembisnis hebat, tentu saja desain rumahnya pun tak main-main.”


Sementara di belakang, Zain hanya mengikuti langkah kaki keduanya. Sesaat ia jadi merasa seperti seorang bodyguard untuk menjaga pasangan itu. Tapi, tak dipungkiri Zain pun merasa senang melihat interaksi Dave dan Alana. Karena tanpa Dave sadari, semenjak kehadiran Alana. Dave lebih sering makan malam di rumah, hingga lelaki lebih banyak bicara, dan suka tersenyum hingg tertawa. Mungkin itu hanya Zain yang menyadari, sementara Dave tidak merasakan apapun.


Melewati sebuah tangga, seorang perempuan setengah baya dalam balutan gamis mewah berwarna toska dipadukan dengan jilbab senada menyambut kedatangan mereka, dialah Kirana– istrinya Pak Risky Hutama. Perempuan itu menyambut kedatangan ketiganya dengan ramah. Menggiringnya ke meja makan, di mana di sana sudah terlihat lelaki setengah baya yang sejak tadi memang sudah menanti kedatangan ketiganya.


“Hallo, Dave selamat datang di gubug kami,” sapa Pak Risky ramah, beranjak dari tempatnya menyalami ketiganya.


“Terima kasih, Pak. Jika seperti ini anda katakan gubug. Apa kabar dengan rumah saya,” sahut Dave.


“Hei, anak muda jangan terlalu merendah.” Pak Risky menepuk pundak Dave. Lalu tatapannya beralih pada perempuan di sisi lelaki itu.


“Hallo, Alana?” sapanya.


“Hallo, Pak. Apa kabar?” Alana menyalami lelaki itu dengan takjim. Membuat pasangan setengah baya itu kagum.


“Baik. Beginilah namanya orang sudah tua, kadang pegal-pegal,” jawab Pak Risky basa-basi. Lalu mempersilahkan ketiganya untuk duduk mengitari meja makan yang berbentuk oval itu.


Sementara, Pak Risky dan Dave terlibat obrolan seputar bisnis. Kirana dan Alana juga melakukan obrolan yang sama.


“Papa, tamunya jangan cuma diajak ngobrol terus, nanti lagi. Sekarang biarkan mereka makan,” ujar Kirana mengingatkan sang suami.


“Oh iya sayang. Papa lupa, untung Mama mengingatkan,” sahut Pak Risky lembut.


Alana menatap haru interaksi keduanya, betapa senangnya melihat pasangan yang saling mengasihi sampai tua. Bolehkah Alana merasa iri? Tidak banyak yang Alana inginkan. Dulu dia hanya ingin membangun sebuah keluarga kecil yang harmonis dan bahagia, mana kala menikah dengan orang yang dicintai. Tapi, kenyataan sekarang... Ia harus menelan pil pahit karena impiannya kandas di tengah jalan. Dave memang laki-laki yang baik, tidak menutup kemungkinan, jika dirinya akan tertarik dengan lelaki itu. Hanya saja Alana harus membatasi diri, mengingat betapa besarnya cinta Dave untuk perempuan lain. Alana menarik nafasnya, mana kala merasakan jantungnya berdebar kencang setiap kali berdekatan dengan laki-laki itu. Namun, meski begitu perasaan nyaman menyusup dalam relung hatinya. Sungguh ia merasa takut jatuh dalam pesona lelaki itu. Bahkan kontrak pernikahannya baru berjalan dalam hitungan hari. Masih ada waktu sebelas bulan ke depannya.


Bahkan Alana tak memiliki gambaran setelah nanti kontrak pernikahan itu suami.


“Oh i–iya, nyonya,” sahutnya gugup bahkan pipinya merona malu, karena aslinya ada yang mengetahui.


“Mama ini kaya tidak tahu saja. Pengantin baru kan maunya begitu,” timpal Pak Risky.


Wajah Alana semakin bersemu. Perempuan itu memilih menunduk malu.


“Oh iya. Mama lupa, Pa. Ini malah Mama mendominasi Alana memintanya duduk di samping Mama.” Kirana beranjak dari tempatnya, lalu berkata pada Dave, “Dave kemarilah kita tukar posisi. Karena sepertinya istrimu hanya akan makan jika berada di sisimu.”


“Baik Nyonya!” Dave pun bertukar tempat. Alana memegang keningnya.


“Ayo nikmati makanannya. Kalian tahu, saya sengaja meminta para koki untuk membuat makanan yang sehat, tentunya bagus untuk kesuburan,” kata Kirana.


“Kesuburan?”


“Iya, kesuburan. Agar Alana cepat hamil.”


Uhuk! Uhuk!


Alana langsung tersedak makanannya.


.


.


.


.


Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak ya..