Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Nyawamu?


“Papa, apa kabar?” tanya Alana ramah.


“Kabarku buruk semenjak kau menjadi menantuku,” balas Jonas sengit.


Alana mengigit bibir bawahnya, menahan rasa perih dalam hatinya. Jika sebelumnya ia terbiasa dihina ibu mertuanya, Alana bisa menghadapi dengan berani tanpa rasa takut untuk menyinggung. Namun, berhadapan dengan Jonas, ia merasa enggan, seakan ia tidak ingin menyinggung lelaki setengah baya itu. Mungkinkah karena Gizka hanyalah ibu tiri Dave.


“Silakan duduk, Pa. Nanti akan Alana pesankan minuman dan mak–”


“Tidak perlu!” sela Jona memotong ucapan Alana dengan cepat. Lelaki itu duduk di depan Alana, seraya memandang Alana dengan tajam. Alana tak berani mengangkat wajahnya.


“Aku tidak punya banyak waktu,” sambungnya. Membuat Alana pun mengangguk paham.


“Baik. Apa ada yang ingin Papa katakan?" tanya Alana.


“Tidak perlu berbasa-basi, Alana. Kau pun pasti tahu apa yang sebenarnya ingin aku katakan.”


“Maksudnya?”


“Sudah enam bulan,” ujar Jonas membuat Alana mengangkat wajahnya, menatap Papa mertuanya tak mengerti. “Kau menjadi istri putraku. Apakah belum cukup dengan apa yang telah kau dapatkan?” sambungnya.


“Maksud Papa apa?”


“Tidak usah pura-pura polos di depanku Alana. Aku tahu benar apa tujuanmu menikah dengan putraku. Cukup waktu enam bulan ini aku membiarkan dirimu bersenang-senang dengan menjadi istri putraku. Sekarang aku minta kamu pergi dari kehidupannya,” tegas Jonas.


Alana tersenyum masam. “Jadi, itu tujuannya?”


“Aku tahu untuk hal itu. Tapi, bagaimana jika aku tidak mau,” sahut Alana sedikit menantang. Kedua bola mata hitam yang bulat itu, kini memberanikan diri menatap ke arah Jonas. Seakan memberikan jawaban jika ia tidak mau melakukan hal itu. “Sudah pernah ku katakan, Pa. Aku hanya akan pergi, jika Dave sendiri yang memintaku. Terserah Papa mau melakukan apapun padaku,” sambungnya.


Jonas bungkam, mana kala matanya justru terpatri pada bola mata Alana. Laki-laki itu mengerutkan keningnya sejenak, lalu memalingkan mukanya. Namun, beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya, sebelum kemudian ia berkata dengan nada sedikit mengancam. “Termasuk keselamatan nyawamu, Alana?”


Deg!


Alana tersentak mendengarnya. Nada bicara Papa mertuanya itu sedikit mengandung ancaman.


“Apakah Papa tengah berniat mengancam ku?” tanya Alana santai.


”Ini bukan hanya sebuah ancaman. Tapi, sebuah peringatan. Jika kau tidak menuruti perintahku, maka kau akan tahu sisi lain dariku, Alana.”


Setelah berkata demikian, Jonas pun berlalu begitu saja. Alana memandang ke arah lelaki itu dengan tatapan masam. Ada banyak hal yang mengusik hatinya. Tak sadar buliran bening mengalir dari sudut matanya. Perasaan sesak memasuki dadanya seketika.


Memang selama enam bulan ini, Alana tidak merasa ada yang mengusik hidupnya. Rumah tangga pura-puranya dengan Dave berjalan dengan baik. Tidak ada orang yang mengusiknya. Hanya sesekali Gizka memang kerap datang hanya untuk menghina dirinya, itupun jika Dave sedang tidak ada di rumah. Ibu tiri suaminya itu selalu mengatakan hal-hal yang membuat Alana merasa marah. Mulutnya itu benar-benar berbisa. Tak salah jika Dave selalu membuat julukan ‘Perempuan bermuka dua’


‘Hanya setahun, dan tinggal enam bulan lagi. Apakah aku masih bisa bertahan?’ gumamnya. Di saat ia menghapus air matanya. Pandangannya mengarah pada pergelangan tangannya yang terlihat memerah. Seketika Alana menjadi mengingat tentang ibunya, membuat Alana kini menjadi semangat. Ia harus bisa menyembuhkan ibunya lebih dulu.


“Aku bukan perempuan yang mengingkari janji. Dave terlalu baik jika untuk ku khianati. Tidak masalah, aku akan menghadapinya.” Alana menyeka air matanya dengan sedikit kasar.


“Kau membutuhkan ini, Alana.”