
“Nona Alana sama sekali tidak ada di sini, Tuan. Beberapa hari terakhir ia memang sudah tidak berkunjung kemari. Terakhir seminggu yang lalu, dia hanya berkata kemungkinan itu adalah hari terakhir ia berkunjung.” Perkataan kepala panti asuhan kasih ibu, membuat Dave lagi-lagi harus menelan rasa kecewa.
Dave dan Zain keluar dari sana dengan tangan kosong. Hari ini Dave memutuskan untuk mencari Alana, terutama melalui orang-orang terdekat Alana.
“Kita kemana lagi, Tuan?” tanya Zain.
“Showroom mobil Edo. Siapa tahu dia tahu tempat-tempat di mana biasanya Alana suka berkunjung.”
Zain mengangguk, melajukan mobilnya menuju tempat Edo. Dalam diam Dave menatap lalu lintas jalanan dengan perasaan kalut. Otaknya masih berpikir tentang ucapan Silvi. Benarkah Alana kerap menangisi dirinya? Ya Tuhan, sedalam itu ternyata luka yang ia berikan pada sang istri.
Mobil tiba di showroom mobil Edo. Dave langsung turun mencari adik tirinya. Karena langkah kakinya yang terburu-buru, membuatnya nabrak tubuh seseorang.
Bruk!
“Maaf... Maaf..”
“Apa kau tidak punya mat...” Perempuan itu mengangkat kepalanya. “Dave,” desisnya terkejut.
“Maaf, aku buru-buru.” Dave langsung berlalu meninggalkan Natasha begitu saja.
“Sayang, kemarilah kau ingin mobil yang mana!” teriakan Brian mengurungkan niatnya untuk menyusul Dave.
Edo yang saat itu tengah membantu karyawannya mengurus surat-surat mobil customernya, terkejut mendapati kakak tirinya datang. Pasalnya hampir tidak pernah Dava menginjakkan kakinya di showroom miliknya. “Kakak,” serunya.
“Bisa kita bicara sebentar,” pinta Dave.
“Tentu!” Edo keluar dari ruangannya menuruti langkah kaki Dave.
“Ada apa, Kak?” tanya Edo.
“Aku ingin bertanya tempat mana saja yang biasanya dikunjungi Alana saat dia merasa sedih atau terluka.”
Edo merasa bingung, mengapa tiba-tiba kakaknya itu menanyakan perihal Alana padanya. ”Ini ada apa sih sebenarnya sih?”
“Katakan saja di mana?” desak Dave.
“Tidak ada. Saat bersamaku dulu, saat ia merasa sedih. Alana hanya akan datang ke panti asuhan, menghibur dirinya di sana dengan bermain-main dengan anak-anak panti. Alana bukan tipikal perempuan yang suka hura-hura, mencari kesenangan untuk dirinya sendiri. Lantas gerangan apa yang membuat kakakku tercinta ini bertanya hal seperti ini?”
Dave men de sah kecewa, mana kala tak lagi menemukan titik temu apapun. “Alana pergi meninggalkanku.”
Edo tersenyum sinis. “Sudah ku duga!”
Dave terkejut mendengarnya. “Apa maksudmu?”
“Kamu...!!” geram Dave.
“Aku berbicara fakta kak. Kau mengatakan diriku brengsek karena telah mengkhianati Alana. Tetapi, bagaimana denganmu kak. Bukankah kau jauh lebih brengsek, kau itu pecundang Kak. Aku mengkhianati Alana status kami saat itu hanyalah sepasang kekasih. Lalu, bagaimana denganmu? Kau itu suaminya kak. Bisa-bisanya kau mengabaikan istrimu.”
“Aku tidak pernah mengabaikannya!” sangkal Dave.
“Oh ya!!” Edo berdecih membuang wajahnya dengan pandangan kesal. “Nampaknya kau harus membuka mata dan telingamu dengan lebar-lebar. Dengarkan aku, Kak. Ingatkah tentang acara kemenangan penobatan bisnismu saat itu? Kau tahu kemana Alana pergi?” desak Edo.
Dave bungkam mengingat kembali kejadian itu.
“Dia pergi menyusuri trotoar jalanan dengan telan Jang kaki, sambil terus menangis. Dan semua karena dirimu kak. Dia terjatuh, tersandung hingga kakinya terluka, berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu besar menaruh cinta padamu, terlalu besar menaruh harapannya padamu. Namun, saat itu kau menutup matamu. Aku mencoba menawarkan bantuan, ia menolak justru memakiku. Hingga akhirnya, sahabatnya datang, kau pasti tau tahu kejadian selanjutnya.”
Dave semakin terkejut mendengarnya. ”Aku menyesal, Kak. Pernah mengkhianatinya, karena diriku dia menjadi menderita. Kau memanfaatkan kerapuhannya. Sempat aku merasa ingin mengambilnya kembali darimu. Tetapi, itu tidak mungkin, Alana begitu mencintaimu. Aku memilih mundur, dengan harapan asal ia bisa bahagia. Tapi, ternyata kau juga sama brengseknya seperti aku. Kau menyakitinya, Kak. Kalau begitu biarkan saja dia pergi. Untuk apa kau mencarinya.”
“Pergilah Kak. Cari saja sampai ketemu. Jika kau tidak berhasil menemukannya. Biarkan aku yang mencarinya, jika aku berhasil jangan harap aku akan mengembalikannya padamu!”
Dave terkejut mendengarnya, tanpa sadar tangannya langsung mencengkeram kerah kemeja Edo. “Berani kau mengambil istriku. Maka...”
“Apa Kak? Kau mengambil sahammu, menghancurkan bisnisku? Silahkan saja. Aku tidak peduli.”
Dave melepaskan cengkraman tangannya, menyentak tubuh Edo. Kemudian memilih pergi.
“Edo?”
Edo yang saat itu masih terdiam, menoleh saat mendengar suara perempuan. Ia terkejut melihat Tisa berdiri tak jauh darinya.
“Tisa, kamu..”
Tisa melangkah mendekat Edo, lalu menghambur memeluknya, dan menangis “Edo, aku hamil.”
Deg!!
💞
💞
💞
telat update tiba-tiba WiFi eror🤭