
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dave tak hentinya menepuk-nepuk pipi Alana, berharap perempuan itu masih kuasa untuk membuka matanya.
Ketika ambulance tiba di rumah sakit. Menyusuri lorong rumah sakit dengan mendorong tubuh Alana yang tak sadarkan diri. Tubuh Dave nyaris gemetar, bayangan masa lalu kembali terlintas. Ia seperti pernah mengalami hal serupa.
Ibu, bangun! Jangan tinggalkan aku, Bu.
Tiba di ruangan operasi, Dave meremas rambutnya dengan kasar. Saat bayangan ketika ibunya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit terlintas. Dave sangat ingat saat itu dirinya berlarian dari depan rumah sakit sambil beteriak meminta ibunya untuk segera bangun, mana kala seorang perawat mendorong ibunya ke UGD, sayangnya nyawanya tidak tertolong, dan sekali lagi ingatkan semua yang terjadi akibat ulah Papa dan Ibu tirinya – perempuan yang tak lain mantan sekretarisnya itu.
💞💞
Mansion Efraim Surabaya
Prakkk!!!
Nelson membanting remot televisi dengan sejuta amarah, mana kala misinya untuk menghabisi Dave kembali gagal. Dan peluru itu justru melesat membuat Alana terluka. Perempuan yang teramat ia dambakan justru rela mempertaruhkan nyawanya demi Dave.
Ia bahkan baru tahu kabar itu dari tayangan berita di televisi. Kejadian yang menimpa Dave dan Alana berhasil menggemparkan publik. Sekarang bukan Alana yang ada dalam otaknya lagi, melainkan nasib seorang sniper yang ia tugaskan untuk menghabisi Dave, justru sama sekali tidak memberi kabar, ia pikir semua rencananya berjalan mulus. Namun, tiba-tiba tayangan berita di televisi mengejutkannya. Saat polisi telah menangkapnya dengan kondisi yang mengenaskan, seluruh tubuhnya lebam, tulang tangannya patah hingga ia tak sadarkan diri.
“Siapa yang berani melakukan hal sampai mengerikan itu?” seru Nelson mengira-ngira.
“Siapa lagi jika bukan Tuan Zain!” Agram yang sejak tadi berada di sisi atasannya itu bersuara.
“Zain?”
Agram mengangguk. “Sudah saya katakan pada anda Tuan. Asisten Tuan Dave itu bukan hanya orang biasa, selain jago bela diri, pandai mengendalikan otaknya, dia juga mempunyai sisi lain yang mengerikan. Zain adalah orang yang dipercaya keluarga Dirgantara untuk mendampingi Dave. Jadi, siapapun yang berani mengusik keluarga Dirgantara, akan habis di tangannya.”
“Lalu bagaimana jika keluarga besar Efraim tahu, segala bisnis ilegal anda ini?” tanya Agram.
Nelson terdiam sesaat, sebelum kemudian ia justru menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai yang menakutkan. “Aku tidak takut Agram. Sebelum aku masuk penjara, aku sendiri yang akan menghabisi Zain. Tidak masalah tidak berhasil menghabisi Dave, setidaknya aku sudah berhasil membuat wanitanya terluka. Bila perlu mati saja, agar hal itu terasa adil. Aku tak bisa bersama dengan Alana, jadi Dave pun tak akan memilikinya. Begitu, mungkin lebih baik!”
Agram terskesiap mendengarnya. Ia pikir atasannya itu akan jera. Namun, justru lebih berani menantang maut. Ia kembali tersentak mana kala sang Tuan beranjak dari kursinya lalu berteriak.
“Bukalah pintu gerbang dengan lebar. Kita harus sambut kedatangan Zain dengan meriah. Dengan dia datang padaku, dia akan habis. Maka Dave pun akan lemah tanpa sang asistennya itu!”
💞💞
Hampir satu jam Dave menunggu di depan ruang operasi di mana Alana tengah berada di dalam ditangani dokter. Peluru yang melesat di bahu Alana harus segera dikeluarkan. Ia duduk dengan gelisah, sisi lainnya memikirkan kondisi Alana. Namun, di satu sisi ia juga memikirkan nasib sang asisten, yang tak kunjung menghampiri. Ia ingin menghubungi Zain, namun baru mengingat jika ponsel miliknya pun hilang. Mungkin terjatuh di TKP tadi.
Suara langkah kaki terdengar beriringan. Dave menoleh terkejut mendapati Jonas dan Gizka datang menghampirinya. Kemungkinan orang tuanya mendengar dari berita, makanya langsung datang.
“Dave kamu tidak apa-apakan?” tanya Jonas cemas. Ia bahkan memeriksa tubuh putranya. Untuk pertama kalinya Dave merasa Papa kandungnya itu mengkhawatirkan keadaannya.
“Aku baik. Tapi istriku terluka,” jawab Dave menunjuk ruang operasi.
Jonas menghela nafas lega. Gizka tersenyum menyeringai. Namun, ketika Dave memergoki senyumannya, ia langsung memasang wajah sedih, dan berkata. “Ya ampun menantuku kasihan sekali dia.”
“Wahai ibu tiri, aku tidak butuh sandiwara dan air mata palsumu itu!” sergah Dave.
“Dave!” tegur Jonas sedikit keras.