
Bahkan purnama yang terang benderang tak mampu menyinari hatiku yang gelap.
Silvi Fransisca
💞💞💞
Silvi berjalan terseok-seok menyusuri teras kontrakan miliknya, yang entah sejak kapan ia merasa jarak dari depan kontrakan hingga pintu kontrakannya terasa begitu jauh layaknya sebuah lapangan. Ia merasa kakinya tak kunjung sampai pada pintu. Belum lagi sepatu hak tinggi yang ia gunakan justru semakin menghambat dirinya berjalan terasa menganggu.
“Sepatu sialan!” umpat Silvi seraya melepaskan sepatunya. Badannya gemetar, bulir air mata perlahan mengalir dari kedua matanya. Jantungnya seraya ditusuk sembilah pisau yang teramat tajam. Mengapa harus menangis? Ia sudah terbiasa mendapatkan caci maki seperti perkataan Zain. Hanya saja saat perkataan itu keluar dari bibir lelaki itu. Ia merasa sakit hati yang teramat dalam. Mengapa harus Zain? Mengapa harus lelaki itu yang bertanya hal seperti itu? Tidakkah ia bisa mengerti martabat seorang perempuan.
“Sejak dulu aku memang sudah hina. Caci, maki dan hinaan sudah menjadi makananku setiap hari. Hanya saja mengapa kata-kata itu harus keluar dari dia. Padanya selama ini aku menjatuhkan hatiku. Oh Tuhan!! Menyedihkan sekali ini nasibku ini!” kata Silvi lirih berkali-kali ia mengusap air matanya yang tak kunjung mau berhenti.
Tiba di depan kontrakannya, Silvi mengambil kunci dari dalam tasnya. Ia berusaha untuk membuka pintunya. Namun, entah sejak kapan terasa begitu susah. Tak berapa lama ia melihat Zain datang menghampirinya.
“Silvi?” panggil Zain.
“Sudah ku katakan. Penawaranku hanya sekali, Tuan. Pergilah setelah ini anggap saja kita tak saling mengenal!” usir Silvi tanpa berani menoleh ke arah lelaki itu. Ia mengusap air matanya yang sialnya tak juga mau berhenti. Belum lagi pintunya yang tak kunjung bisa dibuka, karena hati dan pikirannya memang tidak sinkron.
“Maaf, Vi.”
Silvi terkekeh, ia masih berusaha kuat meski air matanya tak dapat di sembunyikan. Lucu sekali? Mengapa ia harus menangis? Ia mengumpat dalam dirinya karena terlihat lemah di depan Zain. Memangnya ia berharap apa? Zain bisa mengerti dirinya.
“Untuk apa kau minta maaf? Jika itu memang kenyataannya. Aku hanyalah seorang pelayan bar, di sanalah aku mengais rejeki untuk kehidupanku. Dan mungkin saja menjajakan tubuhku. Semua ku lakukan demi uang,” sahut Silvi tersenyum getir.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu seharusnya aku—”
Ceklek! Pintu berhasil terbuka, ia menarik handle pintu dan berniat untuk masuk. Namun, tiba-tiba tangannya di tarik paksa oleh Zain, hingga membuat gadis itu berbalik, membiarkan sepatu miliknya terjatuh asal ke lantai. Lalu dengan cepat Zain mendorongnya ke arah tembok, setelahnya ia langsung mengunci tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Membuat Silvi terkejut.
“Lepaskan!!” teriak Silvi memberontak, dia menatap ke arah Zain dengan sengit. Namun, bukan teriakan gadis itu yang membuat Zain terkejut, melainkan kedua mata gadis itu yang terlihat sembab. “Kau itu sebenarnya mau apa, Tuan? Lepaskan aku, dan pergilah. Aku ini wanita kotor bagimu, tidak perlu kau sampai emhhhh—” Silvi terkejut tak lagi dapat melanjutkan ucapannya, mana kala dengan cepat Zain membungkam bibirnya dengan ciumannya. Silvi mencengkeram jas lelaki itu, ia berusaha mendorong kuat tubuh lelaki yang kini mengunci dirinya. Namun, kekuatannya sama sekali tak sebanding dengan kekuatan Zain. Mana kala salah satu tangan Zain juga menahan tengkuknya, demi memperdalam ciumannya.
Bak seorang yang tengah berada dalam amarah, Zain me lu mat bibirnya habis-habisan. Membuat Silvi merasa kuwalahan, dalam sekejap atmosfer dalam tempat itu lenyap, hingga suasana terasa memanas. Silvi mengepalkan kedua tangannya. Hingga beberapa saat Zain melepaskan ciumannya, saat di rasa gadis itu hampir kehabisan nafas.
“Silvi, aku—”
Plak!!
Tanpa di duga gadis itu melayangkan tamparan ke pipinya.
💞
💞
💞
💞
Gimana?
komentarnya guys?