Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Pergilah, Sebelum Kau Terluka


Alana mengendarai mobilnya dengan pelan, karena ia memang belum mahir. Sebenarnya, masih merasa sedikit takut. Tapi, ia pikir jika tidak nekat kapan lagi akan bisa. Sedangkan waktu pernikahannya dengan Dave hanya tinggal sisa enam bulan lagi. Ia pikir harus memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin.


Sebelum, menuju rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Alana berencana akan mampir ke sebuah swalayan, membeli beberapa perlengkapan untuk anak panti. Ya, Alana berencana setelah menjenguk ibunya, ia akan pergi ke panti asuhan, membagi sebagian rejeki yang ia dapatkan.


Namun, tiba-tiba mobil miliknya berhenti di tengah jalan. “Aduh kenapa ini?” keluhnya.


Alana keluar dari dalam mobilnya, mencoba memeriksa ban mobilnya, empat rodanya itu masih utuh, tidak ada yang kempes. Kalau begitu masalahnya di mesin. Dan sialnya Alana tidak mengerti soal mesin. Haruskah ia menelpon Andi? Itu tidak mungkin ia lakukan, tapi bagaimana ia bisa melanjutkan perjalanannya. Padahal sebentar lagi akan tiba di swalayan. Belum lagi perutnya yang meronta merasa lapar. Mungkin ini akibatnya mengabaikan sarapan yang disediakan Salma.


Sebuah mobil mercy yang tak cukup asing bagi Alana berhenti tepat di depan mobilnya. Sosok lelaki tampan dalam balutan kemeja berwarna coklat keluar dari sana. Alana menyentak nafasnya kesal, rasanya ingin berlari ke mana.


“Kenapa dengan mobilnya, Alana?” tanya Edo begitu sampai di sisi Alana.


“Tidak penting dan tidak usah sok peduli padaku!” cibir Alana kesal. Entah kesialan macam apa yang membuat ia harus bertemu dengan adik ipar sekaligus mantan kekasihnya itu.


“Oh ayolah Kakak ipar, aku hanya berniat membantu. Jika ku lihat kau pasti sedang buru-buru kan. Pasti mau ke kantor Kak Dave.”


“Sudah ku katakan itu tidak ada urusannya denganmu!” sergah Alana.


“Iya kau benar. Jadi, diamlah tidak usah banyak bicara. Aku hanya berniat menolong tidak ada niat lain,” pungkas Edo menatap ke arah Alana dengan pandangan lembut, membuat perempuan itu memalingkan mukanya. Menyingkir dari kap mobilnya, membiarkan Edo membuka bagian mesin mobil perempuan itu.


Ada beberapa menit lelaki itu mengotak-atik mesin mobil Alana.


“Alana?” panggil Edo tanpa menoleh ke arah mantan kekasihnya itu.


“Kenapa?” sahut Edo.


“Aku minta maaf karena telah mengkhianatimu. Jujur saja aku menyesal.”


Alana mencibir. “Kenapa harus menyesal? Bukankah kalian berdua saling mencintai? Nikmati saja apa yang telah kau tanam.”


“Cukup Edo! Aku tidak ingin mendengar soal apapun tentang dirimu dan kekasihmu itu. Kisah kita sudah usai, setelah pengkhianat dirimu malam itu. Dan perasaanku padamu sudah mati!” Alana mengibaskan tangannya.


“Secepat itukah?” tanya Edo, menatap perempuan di hadapannya. Alana terlihat cantik dalam balutan dress berwarna toska saat itu. Rambut panjangnya yang di kuncir ekor kuda, menjadi ciri khas Alana sejak dulu. Beberapa bukan belakangan ini, Edo memang kerap sekali diam-diam mengamati Alana. Ada setitik penyesalan ketika menyadari jika hubungannya dengan Alana sudah berakhir, akibat dirinya yang tergoda oleh rayuan Tisa.


“Ya. Kau pikir untuk apa aku mencintai seorang pengkhianat!”


Edo tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Jadi, kau bahagia telah menikah dengan Kakak ku Alana?”


“Tentu saja bahagia. Dia lelaki yang baik, yang bisa memberiku apa saja."


“Apa yang ia beri? Materi? Aku tahu hal itu, dia memang baik dan royal. Hanya saja satu hal yang aku yakini. Dia tidak akan pernah memberikan cintanya untuk perempuan seperti dirimu Alana.”


Alana mengepalkan tangannya. “Tutup mulutmu Edo.”


“Apa yang harus ku tutupi, Alana. Aku berbicara soal fakta. Dia begitu mencintai kekasihnya, Jessica. Hanya dia satu-satunya perempuan yang kakakku cintai. Lihat saja nanti, jika dia kembali kau bahkan sudah tidak ada artinya lagi. Tidak akan ada Alana si istri Tuan Dave Dirgantara. Kau hanya akan dicampakkan begitu saja Alana. Lalu, saat ini kau bermimpi apa?”


“Cukup!” bentak Alana.


Edo menyunggingkan senyum sinisnya. “Aku bicara sesuai fakta Alana. Aku hanya tengah mengingatkan dirimu. Memberi tahu gambaran hidupmu ke depannya. Jadi, ku ingatkan sekali lagi. Mundurlah, dan tinggal Kak Dave sekarang. Sebelum kau terlanjur terluka.”


“Urusan perasaanku itu tidak ada hubungannya denganmu, Edo."


“Ya, kau memang sejak dulu keras kepala. Kau tidak akan pernah mau mendengarkan apa kata orang lain,” celetuk Edo.


“Maka kau tidak perlu berkata apapun padaku!” seloroh Alana. “Pergilah, aku tidak mau kekasihmu itu melabrakku, jika ia melihatmu bersamaku,” usir Alana.


“Baik!” Edo berlalu dari hadapan Alana, masuk kembali ke mobilnya.