
Keheningan melanda. Dave masih mendapatkan senyum penuh ejekan dari mantan calon tunangannya itu.
“Sudah cukup semuanya. Mari kita bicara ke hal yang lebih serius,” pungkas Pak Risky. Membuat semua yang berada di sana pun seketika menoleh ke arahnya.
“Aku tahu maksud kedatangan kalian, tentu saja untuk menjalin kerja sama kan, membangun perumahan elit, hotel dan Mall di area Jawa Timur kan?"
Natasha dan Dave mengangguk.
“Kalian tahu proyek itu bernilai jutaan dolar, dan aku berniat menjalin kerjasama dengan mereka yang kompeten.”
Natasha mengubah gaya duduknya. "Kalau begitu beri kesempatan pada perusahaan kami Pak. Kami yakin akan berkompeten.”
Pak Risky hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
“Maaf Pak Risky, anda tentu sudah mendengar tentang kami. Jadi, saya harap anda bisa memberikan proyek itu untuk kami. Kami akan melakukan yang terbaik untuknya.” Dave ikut menimpali.
“Berkompeten bagaimana? Jika seorang lelaki tega mengkhianati calon tunangannya,” desis Natasha menatap Dave dengan kesal.
“Jangan membahas masalah pribadi Natasha, kita ini sedang membahas bisnis.”
“Hei, Pak Risky ini seorang family man ia tentu tidak akan keberatan jika kita membicarakan tentang hubungan kita,” sergah Natasha.
Dave mengumpat dalam hati, mau tidak mau ia mengakui kecerdasan Natasha. Ia pikir perempuan itu tengah menggunakan kemalangannya untuknya menarik simpati dari Pak Risky.
“Sebenarnya, aku berniat menjalin kerjasama dengan kalian,” sela Pak Risky membuat Dave dan Natasha kembali memandang minat ke arahnya. “Apalagi saat mendengar kalian akan bertunangan, kemudian akan menikah, aku begitu semangat mendengarnya. Makanya aku buru-buru menghubungi kalian untuk mengadakan pertemuan. Tapi, setelah mendengar kenyataan yang terjadi. Aku pikir kalian berdua tidak ada yang cocok untuk proyek ini.”
“Kenapa begitu, Pak?”
“Kalian tentu tahu. Aku lebih suka menjalin kerja sama dengan seorang yang sudah berkeluarga. Karena aku berpikir mereka akan kompeten dan semangat. Sebenarnya hal itu tidak menjadi patokan setiap orang. Tapi, kembali lagi ini soal prinsipku.”
Dave mengendurkan dasinya. Mendesah dalam hati, ketika merasa negoisasi berjalan dengan alot. Bahkan Natasha pun sepertinya merasakan hal yang sama, tampak perempuan itu menggigit bibir bawahnya.
Dave kembali berpikir dengan suram. Sebenarnya, harusnya ini tidak akan menjadi masalah baginya, mengingat status dirinya memang sudah menikah dengan Alana. Hanya saja, haruskah ia melanggar poin perjanjian pernikahan yang tertulis, di mana Alana meminta pernikahan itu tak boleh terpublikasikan, karena perempuan itu masih ingin mempunyai kebebasan di luar sana. Sebenarnya yang Alana butuhkan saat itu hanyalah seorang pasangan saat menghadiri reuni nanti tanggal delapan. Namun, lelaki itu justru menjeratnya ke dalam pernikahan kontrak.
Dave menoleh ke arah pintu, dan tanpa sengaja matanya menangkap sosok perempuan yang baru datang dengan rambut dan baju yang basah. Rupanya di luar sedang hujan, karena semangat yang menggebu membuat Dave tak menyadarinya cuaca di luar.
Perempuan itu masih tak menyadari jika Dave memandangnya. Ia mengibaskan rambutnya yang basah, tepat di depan restoran. Tanpa sadar Dave tersenyum, menyadari jika Tuhan memang begitu sayang terhadapnya.
“Maaf, saya permisi sebentar!” Dave beranjak meninggalkan meja. Zain yang berada di sisinya pun ikut bingung.
Perlahan Dave menghampiri perempuan dengan kemeja putih yang basah, ia tengah mengelap rambutnya dengan tisu.
“Alana?" Sapanya.
Alana mendongak ke arahnya. “Dave? Kenapa ada di sini?” tanyanya bingung.
“Alana, please maafkan aku. Tapi kali ini aku benar-benar membutuhkan dirimu, aku terpaksa,” Dave meremas tangan Alana.
“Apa? Kau kenapa Dave?” tanya Alana bingung. Bahkan ia sampai befikir yang tidak-tidak.
“Ikut denganku maka kau akan tahu semuanya. Kau hanya perlu mengangguk Alana.” Dave meraih pundak Alana, lalu menggiringnya menuju meja.
“Pak Risky perkenalkan ini Alana, istri saya!”
Semua yang berada di meja mendongak dengan kaget. Tidak terkecuali Zain. Natasha bahkan bangkit dari kursi langsung menuding ke arah Alana, dengan tatapan sengit penuh dendam.
“Kamu! Berani sekali kamu kemari!!” teriak Natasha.
Dengan tangan besar Dave yang berada di pundaknya. Alana termangu mencerna informasi yang baru saja ia dengar.
Istri saya? Dave baru saja mengakui dirinya istrinya di depan orang lain. Tapi untuk apa? Bukankah semua sudah jelas di perjanjian. Mengapa lelaki itu mengingkari janjinya?
Bolehkah Alana marah? Tapi untuk apa. Apa yang dikatakan Dave memang benar. Namun, bagaimana dengan nasibnya besok. Gosip pasti langsung akan bertebaran di mana-mana.