Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Menghindari Suamimu


Hari ini Alana benar-benar menghabiskan waktunya untuk diri sendiri. Dari mulai berbelanja, lalu berkunjung ke rumah sakit, kemudian ke panti asuhan. Dirinya membawakan beberapa sembako dan barang pokok lainnya. Di sana Alana seperti menemukan kebahagiaan lainnya. Ia bisa tertawa dengan lepas dengan anak-anak panti. Seakan beban yang ia pukul selama ini pun ikut terangkat. Dan ngomong-ngomong soal mobilnya. Edo benar-benar membenarkan mobilnya tadi. Sebenarnya, Alana pun tahu Edo memang baik. Tapi, entah kenapa otaknya bisa miring ketika diiming-imingi tubuh oleh Tisa.


“Kau tidak ingin pulang Alana?” tanya Silvi melihat sahabatnya itu justru masih asyik tiduran di sofa rumahnya.


“Nanti, masih lelah!” dustanya. Padahal sudah sejak jam tujuh perempuan itu berada di rumahnya. Dan kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Silvi bahkan sudah bersiap untuk berangkat bekerja.


“Lelah? Atau karena kau tengah menghindari suami pura-puramu itu?” cibir Silvi telak.


Alana berdecak. “Apaan sih!”


“Halah, gak usah pura-pura, Al. Aku curiga soalnya kamu juga tidak biasanya seperti ini.”


Alana menghela nafasnya. “Ngapain menghindari Dave. Toh dia orang sibuk, jarang di rumah. Jam segini paling juga belum pulang. Aku hanya jenuh saja, di rumah gak ada teman.”


“Oke. Tapi, aku harus bekerja Alana.”


“Aku ikut ya?” pinta Alana.


“No!” teriak Silvi.


Alana mengerucutkan bibirnya ke depan. “Pelit sekali!"


“Bukannya pelit. Terkahir kali kau ke bar, kau hampir mabuk, lalu menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Dave. Dan sekarang aku gak akan biarin kamu kesana. Nanti kelakuanmu semakin aneh."


“Ya sudah aku antar kamu saja, terus pulang!” seru Alana.


Beberapa saat kemudian, Alana mengantarkan Silvi ke tempatnya bekerja.


“Kau yakin sudah mahir membawa mobil? Aku tidak punya nyawa ganda Alana?” tanya Silvi cemas saat baru masuk ke mobil Alana. Pasalnya dulu pertama kali, sahabatnya itu belajar menyetir motor saja, sampai menabrak warung kopi sang pemilik kosan.


“Kalau kau mati. Akan ku tukar nyawamu dengan nyawa Ayam,” celetuk Alana.


“Sial!” umpat Silvi seraya masuk ke dalam mobil Alana.


Alana hanya tertawa, sudah tak asing dengan perdebatan keduanya itu. Justru Alana rindu saat-saat seperti ini. “Aku lupa cerita padamu. Mobilku tadi mogok di jalan.”


“Terus? Bagaimana bisa jalan lagi? Kau memanggil montir kan? Atau kau membenarkannya sendiri? Keren Alana, tak hanya bisa memasang bohlam lampu di kontrakan ku, membenarkan saluran kran yang mampet, kau bahkan tahu mesin mobil? Keren juga ya, istri Tuan Dave ini,” ujar Silvi takjub.


“Tidak! Jika aku nekat membenarkannya sendiri. Aku jamin mesinnya justru rusak. Tak sengaja bertemu Edo tadi, dia yang membenarkannya,” kata Alana membuat Silvi terdiam cukup lama.


Kalimat Silvi membuat Alana terdiam menyentak nafasnya. Saat bayangan kata-kata Edo terlintas. Lagi-lagi ia membuatnya tidak mood untuk pulang. Apa dia menginap di hotel saja. Tapi, itu tidak mungkin ia lakukan. Jika pun ia harus menginap, ia harus memberi tahu Dave. Sementara sejak tadi ia memang sengaja tidak membalas pesan lelaki itu.


Tidak! Mungkin dia harus pulang. Tapi, menunggu kira-kira Dave sudah tidur saja. Saat ini ia hanya ingin menghindar dari lelaki itu. Karena berdekatan dengan Dave membuat kondisi jantungnya tak baik.


🦋🦋🦋


Jarum jam sudah menunjuk di angka sepuluh. Dave masih menunggu Alana di sofa ruang tamu. Ia sudah pulang sejak pukul tujuh. Namun, tak mendapati Alana di rumah. Salma mengatakan jika sejak pagi istrinya itu sudah keluar. Sedangkan ia juga heran pesannya pun tak di balas. Sudah ia coba telpon namun tak kunjung diangkat.


Kini Dave memutuskan untuk kembali ke kamar. Ada suatu pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.


Pukul sebelas malam, mobil yang dikemudikan Alana tiba di rumah Dave. Setelah melewati pagar yang menjulang tinggi, lalu memarkirkan mobilnya di garasi. Alana segera turun, ia tersenyum karena merasa yakin Dave pasti sudah tidur. Urusan besok ia harus cari alasan lagi, agar tidak bertemu langsung dengan lelaki itu.


Dengan hati yang riang, ia melangkah menuju pintu dan membukanya. Alana melangkah dengan pelan.


“Kau baru pulang Alana?”


Teguran suara bariton itu, membuat tubuh Alana memaku. Ia memaksakan diri untuk menoleh, terkejut mendapati Dave berada di sofa dengan laptop yang menyala di pangkuannya.


“Dave,” desisnya. Padahal ia sudah yakin jika lelaki itu sudah tidur, kenapa justru ada di sofa seolah-olah tengah menunggu kedatangannya.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dilike ya guys. Kalau mau komen berikan komentar yang positif yang membangun aku semangat. Jujur hatiku tak sekuat baja. 😂😂


Terima kasih, teman-teman. Sayang kalian banyak-banyak.😍😍


Jangan lupa lempar bunganya.