
“Kau mau ke mana?" tanya Edo seraya memegang tangan kekasihnya yang hendak berlalu dari sisinya.
“Menghampiri mantan kekasihmu. Bukankah kita harus saling bertegur sapa pada sahabat. Lihatlah, dia hanya datang seorang diri. Kasihan kalau tidak ada yang menyapa.”
Edo memandang ke arah Alana sesaat, memastikan kedatangan mantan kekasihnya itu dengan siapa. Memang tidak terlihat Dave, mungkinkah memang ia hanya datang sendiri.
“Tidak perlu, di sini saja. Jangan mencari masalah,” cegah Edo seraya menarik kembali tangan Tisa, memintanya untuk tetap tinggal di sisinya.
Tisa menoleh menatap kekasihnya itu dengan kesal. “Aku hanya ingin menyapanya. Kenapa kau berlebihan sekali? Seolah-olah aku akan menyakitinya. Atau jangan-jangan kau masih....”
“Terserah! Pergilah,” usir Edo melepaskan tautan tangannya sedikit kasar.
Alana tengah berbincang-bincang dengan Fara, seputar kejadian di kantor cabang setelah Alana di pindahkan ke kantor pusat. Kedatangan Tisa di sisinya membuat perbincangan keduanya terhenti.
“Hai, Alana?” sapanya tersenyum manis. Alana bergeming, tidak ada niat untuk membalas, sejujurnya melihat wajah Tisa saja sudah malas.
Tisa memandang penampilan Alana, yang harus ia akui lebih unggul darinya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki semua yang dikenakannya itu merupakan barang branded semua. “Gaunmu sangat bagus,” puji Tisa.
“Tentu? Kau mau tahu harganya berapa?” sahut Alana sedikit angkuh. Ia mencoba mengeluarkan sisi lain dari dirinya.
Tisa menggeleng. “Tidak perlu. Untuk apa? Aku bisa membelinya sendiri, tidak seperti dirimu yang menginginkan barang mewah harus naik ke atas ranjang pria lebih dulu.”
Mendengarnya, Alana merasa geram sebelah tangannya mengepal kuat. Namun, ia menahan diri untuk tak membuat kekacauan di sana.
“Baguslah. Jadi, aku tidak perlu takut lagi kau merebut barang milik ku,” balas Alana tenang.
“Apa maksudmu?” desis Tisa.
“Apa perlu ku perjelas ucapanku, Nona Tisa. Bukankah kau begitu menyukai barang milikku. Kau sudah terbiasa merebut apa yang menjadi milikku,” cibir Alana pelan.
Tisa menatap Alana kesal. Namun, karena ia menyadari saat ini tengah di keramaian. Ia lebih memilih berlalu kembali ke sisi kekasihnya dengan wajah kesal.
“Kenapa?" tanya Edo melihat kekasihnya itu kembali dengan wajah memerah menahan amarah.
“Mantan kekasihmu itu begitu sombong,” sergah Tisa seraya mengambil gelas yang berisi setengah minuman di atas meja, lalu meneguknya hingga tandas.
Edo tersenyum tipis. “Ku rasa itu tidak mungkin, jika kau tidak memancingnya lebih dulu."
Tisa menatap Edo dengan kesal, meletakkan kembali gelas kosong di atas meja dengan sedikit kasar. “Jadi, kau tengah membelanya?” sergahnya.
Karena merasa kesal, Tisa memilih bergabung dengan teman-teman yang lainnya.
“Alana itu sombong sekali. Ia pikir memang tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia lakukan," cibir Mika salah satu teman kampus Alana juga.
“Memang apa yang ia lakukan?" tanya Tisa seakan tidak tahu apa-apa.
“Kau tidak tahu?" Mika bertanya balik. Tisa hanya menggelengkan kepalanya, beralih menatap ke arah Alana, yang saat itu juga tengah menatap ke arah dirinya. “Di internet telah beredar kabar dan foto-foto Alana dengan Dave. Sikap dan tangannya ternyata sangat lincah, dengan mudahnya ia bisa menjerat seorang Direktur Dirgantara Karya.”
Seorang pembawa acara naik ke atas panggung, memberi sebuah sambutan, hingga tepuk tangan riuh terdengar di roftop itu.
“Kali ini kita akan mendengar perjalanan salah satu sahabat kita. Di mana saat ini bisnis sworoom mobilnya telah terbuka di mana-mana. Kita sambut Edo Renaldy.”
Edo tersenyum tipis, berlalu naik ke atas panggung dengan Tisa yang berjalan di sisinya dengan memasang senyum manisnya.
Alana tetap terdiam menatap ke arah keduanya dengan tatapan tenang. Memperhatikan kala Edo membicarakan perjalanan bisnisnya itu, bahkan ia terang-terangan mengucapkan terimakasih atas sanjungannya, juga berterimakasih kasih pada kakaknya yang telah mendukung kerja kerasnya.
Alana menghela nafasnya, ia tahu sebenarnya Edo bukankah lelaki yang sombong, hanya saja entah bagaimana kedatangan Tisa merubah segalanya. Mendengar Edo menyebut nama kakaknya, membuat ia teringat jika tadi ia datang bersama Dave. Namun, kenapa lelaki itu tak kunjung masuk. Mungkinkah Dave membatalkan niatnya untuk datang.
“Tuan Dave, anda sudah datang? Selamat datang, Tuan!" Seorang ketua dari kampus melangkah ke depan pintu, menyambut kedatangan Dave.
Alana menoleh, menatap bagaimana Dave bertegur sapa dengan orang itu, hingga membungkukkan padanya dengan sopan. Keduanya terlibat obrolan ringan, sesekali Dave akan menanggapinya dengan senyum tipisnya.
Melihat kedatangan Dave, membuat Tisa tersenyum senang, seolah mendapatkan ide licik baru. Ia segera mengambil alih mik dalam genggaman tangan Edo.
.
.
.
.
Tombol likenya jangan lupa ya. Syukur-syukur bagi hadiah dan vote gitu.. hehee
Thank you 🤗