Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Mabuk


Ketika kembali Alana masih melihat sang suami masih sibuk dengan orang lain. Yang pasti yang dibicarakan tak jauh-jauh dari bisnis. Alana pikir untuk apa ia bergabung jika ia hanya akan diam saja. Akhirnya, ia lebih memilih bergabung dengan Fara.


“Ya ampun. Alana ternyata kamu itu istrinya big boss. Aku benar-benar tak menyangka Alana,” pekik Fara takjub.


Alana hanya menghela nafasnya pelan. Memilih diam tak menanggapi ocehan Fara. Sejak tadi gadis itu begitu heboh.


“Kalian memang pasangan yang cocok Alana. Kamu hebat Alana, setelah dikhianati Edo, kau justru mendapatkan kakaknya.”


Alana menoleh ke arah sahabatnya itu. Dan inilah yang tidak Alana sukai, jika orang tahu kebenarannya. Mereka pasti akan berfikir jika Alana sengaja menjerat Dave, demi membalas Edo. Meskipun, tujuannya sama. Akan tetapi, Alana sungguh tidak tahu jika Edo dan Dave adalah saudara.


Mendengar ocehan sahabatnya membuat Alana merasa tenggorokannya kering. Ia dengan cepat mengambil satu gelas minuman di atas meja di depannya, lalu meneguknya hingga tandas.


“Minuman apa ini? Rasanya sangat aneh,” keluh Alana seraya mengernyitkan keningnya.


“Ya ampun Alana. Itu wine, kau meminumnya. Kau bisa mabuk Alana,” pekik Fara mencoba menghentikan sahabatnya yang berniat kembali meneguk minuman itu. Tapi, Alana menepisnya.


“Pergilah. Ini itu sangat enak, aku menyukainya.” Alena terus meneguk minuman itu berkali-kali.


“Alana kau bisa mabuk. Bukankah Silvi mengatakannya kau tak bisa minum, minuman yang mengandung alkohol. Kau bisa lepas kendali.” Fara terus berusaha menyadarkan sahabatnya.


Alana terkikik menoleh ke arah sahabatnya dengan tatapan sayu. “Hei dia itu bohong. Aku itu tidak mabuk, hanya saja menjadi sedikit pusing.” Alana berkali-kali mengerutkan keningnya. “Lihat semua orang berubah jadi banyak,” sambungnya.


“Please, stop Alana. Kau bisa kehilangan kendali jika seperti ini!” pinta Fara mencoba menghentikan sahabatnya itu. Namun, Alana kembali menepisnya bahkan sedikit mendorong Fara hingga nyaris terjatuh, beruntung ia dengan cepat menahan keseimbangan tubuhnya.


“Wah... Wah... Apa ini kelakuan seorang istri direktur? Suka mabuk-mabukan.” Tisa datang dengan tawa yang mengejek.


Alana menoleh menatap dengan senyum smirknya. “Oh, kamu si pela cur!" cibirnya balik. Kata-katanya yang lantang membuat semua orang yang di sisinya menoleh ke arahnya, hingga kini mereka menjadi pusat perhatian.


Tisa melototkan kedua matanya dengan wajah marah.


“Berani sekali kau menyentuh istriku. Ku pastikan kau akan menyesal!” ancam Dave seraya menghentakkan tangan Tisa dengan kasar, membuat perempuan itu hampir jatuh terhuyung ke lantai, beruntung Edo dengan sigap menolongnya.


“Urus kekasihmu itu Edo. Ajari dia supaya jangan hanya bisa membuat masalah.”


“Kak, a–aku...”


“Aku tidak ingin mendengar apapun tentang kalian,” potong Dave dengan cepat. Kemudian meraih tangan istrinya. “Kita pulang sayang,” sambungnya.


🦋🦋🦋


Dave masih menunggu Zain mengambil mobil di parkiran. Tangannya dengan sigap masih merangkul Alana, yang sejak tadi meracau tak jelas. Ini di luar ekspektasinya kalau Alana justru akan mabuk.


“Kenapa kau membawaku pulang? Aku masih ingin minum!” kata Alana.


“Iya, nanti kita minum lagi di rumah,” sahut Dave seraya membukakan pintu begitu mobil yang dikemudikan Zain tiba di depannya. Ia berusaha membawa Alana masuk ke dalam mobil. Memposisikan Alana untuk duduk. Namun, karena Alana terus memegang leher lelaki itu, membuat tubuh Dave terhuyung hingga keduanya nyaris jatuh di kursi belakang, dengan posisi Dave yang berada di atas tubuh Alana.


Dave menelan ludahnya, menatap inci wajah Alana. Pandangan perempuan itu terlihat begitu sayu, karena dalam pengaruh minuman.


“Tuan, apakah sudah boleh jalan?”


Pertanyaan Zain mengejutkan dirinya. Dave tersentak segera beranjak dari atas tubuh Alana, melepaskan tangan Alana yang memegang tengkuk kepalanya. Kemudian sedikit memaksa posisi Alana menjadi duduk. Lalu, ia menutup pintu mobilnya.


Zain segera melajukan mobilnya, meninggalkan area hotel bintang lima itu. Sebenarnya, ia sendiri merasa tak enak karena tanpa sengaja menganggu kegiatan atasannya tadi. Hanya saja, mendengar klakson mobil di belakangnya, membuat ia mau tak mau harus berkata demikian.


Dave menoleh ke arah istrinya, yang saat ini tampak menyandarkan tubuhnya ke kursi, sambil meracau.


“Aku ingin minum. Aku juga ingin mencakar wajah pela cur itu. Kenapa aku bisa ada di sini!” keluh Alana.