
Di dekat danau ada sebuah saung. Dan di sana juga ada meja bulat, dan kursi empat makan. Dan di dalam sana juga ada dua kursi panjang yang bisa digunakan untuk tiduran, karena ada busa empuk yang membungkus kursi itu. Bukan hanya karena rumah itu dekat dengan kantornya. Dave membeli rumah itu memang karena menyukai pemandangannya, salah satunya danaunya. Seringkali di saat penat ia akan menghabiskan waktunya di saung dekat danau itu.
Sempat beberapa kali juga, ia melihat Alana ketiduran di sana saat tengah membaca novel.
Malam ini, bulan bersinar begitu terang hingga memancarkan keindahannya. Hingga air danau seperti menyala akibat pancaran bulan saat itu. Dave tersenyum simpul, mana kala melihat istrinya tengah tiduran sambil membaca buku. Tatapannya mengarah pada danau. Alana memang memegang buku, hanya saja fokusnya bukan pada buku itu, tatapannya justru terlihat kosong, seperti ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
“Alana?” tegur Dave menyadarkan lamunan Alana.
Perempuan itu segera menutup bukunya, dan berbalik terkejut mendapati Dave berada di belakangnya dengan membawa nampan berisi makanan dan satu gelas air mineral.
“Dave.”
Lelaki bertubuh kekar itu tersenyum, lalu meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja. “Kamu belum makan kan Alana? Makanlah. Tidak baik menunda makan.”
Alana menatap lelaki itu dengan pandangan yang sulit. “Dave kamu tidak perlu sampai membawakan aku makanan seperti ini. Kalau aku mau makan. Aku bisa mengambilnya sendiri.”
”Tidak apa-apa. Ini bukan sesuatu yang sulit Alana. Kata pelayan kau belum makan apapun sejak pulang dari rumah sakit. Apa terjadi sesuatu yang membuat selera makanmu hilang?" tanya Dave.
Alana menatap Dave dalam-dalam, mencoba mencari gurat khawatir di wajah lelaki itu, sayangnya ia sama sekali tidak menemukannya. Menyentak nafasnya berkali-kali. Tidak tahukah lelaki itu. Jika Alana memang sengaja menghindari makan malam bersamanya. Ia sengaja tengah kembali membangun benteng perasaannya, agar tak terjatuh terlalu dalam. Agar nanti ia tidak akan merasa sulit saat melepaskan. Alana tidak ingin terlena terlalu dalam pada kebaikan dan perhatian lelaki itu.
Bagaimana ia tidak bisa jatuh hati pada lelaki itu? Jika perlakuan Dave padanya selayaknya seorang lelaki yang bertanggung jawab pada istrinya. Kecuali hanya satu yang tak keduanya lakukan. Saling berbagi kehangatan di ranjang. Untuk hal itu Alana pun tahu, Dave pasti akan berpegang teguh pada janjinya.
Aku janji Alana. Tidak akan menyentuhmu, selama proses pernikahan kita berlangsung. Aku akan membebaskan mu. Kau bisa melakukan apapun yang kau sukai. Aku tidak akan merenggut apa yang bukan menjadi hak ku. Agar kelak ketika kita berpisah, kau bisa memberikannya pada lelaki yang benar-benar berhak untuk itu.
“Alana.” Teguran Dave kembali menyadarkan ia dari lamunannya, tentang janji yang diucapkan Dave.
“Kenapa justru melamun. Ayo makan, keburu dingin. Makanannya tidak enak,” lanjut Dave.
Alana mengangguk. Meletakkan buku novelnya ke atas meja, lalu mengambil piring makanan yang Dave bawa.
Sejenak Dave melirik ke arah buku novel yang Alana baca. Love Story' hanya itu yang bisa ia tangkap. Lelaki itu tersenyum geli, lalu kembali menatap Alana yang tengah makan.
“Kau suka baca novel romance?" tanya Dave.
”Hemm, iya. Lumayan buat hiburan,” jawab Alana.
Dave hanya mengangguk pelan. “Bagaimana keadaan ibumu?” tanya Dave kemudian.
“Belum ada perubahan,” jawab Alana sendu. Ada helaan nafas kecewa yang terdengar.
“Sabarlah. Dia pasti akan sembuh.”
“Enak sekali makanannya,” ucap Alana seraya meletakkan kembali gelas yang sudah kosong ke atas meja. Mengusap perutnya yang tampak kenyang.
”Alana?”
”Ya?" Alana menoleh, melihat Dave menunjuk bibirnya sendiri. Ia paham jika sesuatu noda makanan pasti tertinggal di bibirnya. Alana berusaha menjulurkan lidahnya, namun tetap tak terjangkau. Hingga ia menggunakan tangannya. Hal itu membuat Dave tersenyum tipis, Alana terlihat imut saat mengusap bibirnya, bak anak kecil yang makan ice cream tapi belepotan.
“Nodanya justru semakin kemana-mana. Biar ku bantu bersihkan.” Dave beranjak duduk di samping Alana.
”Dave aku–”
”Diam saja, biar ku bantu.” Dave menggerakan tangannya untuk mengusap sudut bibir Alana.
Berdekatan dengan Dave membuat kondisi jantung Alana tak sehat. Pasalnya jantungnya justru berdetak lebih kencang. Apalagi kala aroma parfum lelaki itu yang mulai mengusik Indra penciumannya, rasanya menggairahkan. Tatapan Alana terpatri pada wajah tampan Dave, lalu turun ke hidung mancungnya, dan terkahir pada bibirnya, sesaat ia menelan ludahnya secara susah. Bagaimana jika saat ini bibir itu kembali mendarat di bibirnya. Di bawah pancaran bulan yang terang, pasti rasanya... Ah susah di jelaskan. Sekuat tenaga Alana berusaha mengenyahkan pikiran erotisnya. Berdekatan dengan Dave juga baik untuk otaknya, karena memicu hal-hal yang mesum.
Tubuh Alana seketika meremang, mana kala merasakan hangatnya telapak tangan Dave kini mengusap pipinya. Kemudian mengusap bibir ranum Alana.
“Dave,” panggil Alana.
“Boleh aku menciummu, Alana?" tanya Dave tiba-tiba. Hal itu membuat Alana terkejut. Namun, belum sempat ia membuka mulutnya untuk memberi jawaban. Dave dengan cepat menyambar bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
Nah gimana tuh. Tendang apa jangan?😂
Jangan lupa di like ya. Biar aku tahu kalau masih ada yang baca. Syukur-syukur kasih aku bunga biar aku semakin jatuh cinta, kopi biar aku gak ngantuk, atau tip iklan biar aku terhibur. hehe
Terima kasih raders sayang ^^