Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Perasaanku Cemas


Mansion Utama Dirgantara


“Oma, bagaimana gambar Nesya cantik kan?” tanya anak perempuan berusia sekitar 4 tahun pada Gizka.


”Bagus sayang,” sahut Gizka sambil menguap. Ia merasa ngantuk sejak tadi, namun sang cucu tak juga kunjung mau tidur. Nesya adalah anak pertama Edo dan Tisa.


“Sya, kamu belum ngantuk? Oma sudah ngantuk,” tanya Gizka kemudian. Gadis kecil itu hanya mengerjapkan kedua matanya berulang kali, menatap sang oma dengan pandangan tak terbaca. Hingga kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, “Baiklah Oma, sampai jumpa besok. Mau ke kamar Daddy dan Mommy dulu.”


Nesya beranjak dari tempatnya berlari ke kamar kedua orang tuanya. Sementara Gizka pun melakukan hal yang sama. Namun, getaran ponsel miliknya mengurungkan niatnya sejenak. Ia membuka notif pesan dari aplikasi berwarna hijau.


Wajahnya langsung berubah. Mata yang semula terasa ngantuk langsung lenyap, secepatnya kemudian ia berjalan menuju kamar suaminya.


“Pa... Pa... Bangun!” Gizka mengguncang tubuh suaminya — Jonas.


“Apa sih, Mah. Aku ngantuk banget!” Jonas menepis tangan istrinya.


“Ada hal yang penting, yang mau aku katakan.” Gizka terus mengguncang tubuh suaminya.


“Halah... Palingan tentang arisan sama teman-teman kamu kan, buat malas aja.”


Gizka berdecak. “Bukan, ini tentang Dave Pa.”


“Dave?” Jonas langsung menyingkap selimutnya, merubah posisinya menjadi duduk, menghadap istrinya persis. “Kenapa dengannya?” sambungnya.


“Ini.” Gizka menunjukkan foto Dave yang tengah menggendong Gala dan menggandeng tangan Alana tepat di lobi kantor AJ Silver Gold. Jonas menatapnya sejenak, seperti tengah memikirkan sesuatu. “Alana sudah kembali, Pa. Dan dia membawa anak. Anak siapa yang dia bawa Pa? Tidak mungkin anaknya Dave kan?” rentetan ucapan Gizka terus keluar dari bibirnya. Jonas hanya diam menatap foto itu dengan inci, keningnya mengerut seperti memikirkan sesuatu.


“Anaknya Dave, lah.” Jonas mengembalikan ponsel istrinya, kemudian kembali berbaring.


“Kau harus memastikannya, Pa. Bagaimana jika itu bukan anaknya Dave, tapi dia hanya datang mengaku-ngaku.”


Jonas menyentak nafasnya. “Tidurlah, jangan banyak bicara. Kepalaku pusing mendengarkan ocehanmu.”


💞💞


Keesokan harinya


Alana tengah sibuk membuat sarapan di dapur. Saat sepasang tangan kekar melingkar di perutnya membuatnya tersentak.


“Lepas, Dave. Sana mandi!”


“Belum. Ya sana kamu duluan!” usirnya. Meski keduanya sudah sama-sama saling mengetahui isi hati masing-masing, tetap saja Alana merasa malu. Jantungnya masih berdetak kencang, mungkin karena belum terbiasa.


“Bagaimana kalau kita mandi bersama?” tawarnya.


“Jangan bercanda, aku harus segera menyiapkan keperluan Gala.” Alana mematikan kompornya, lalu berbalik mengecup bibir suaminya sesaat, dan melepaskan kedua tangannya. “Mandilah!” imbuhnya kemudian. Ia beranjak menata makanan yang sudah ia masak.


“Sayang, di mana Ibu?” tanya Dave, karena tadi ia melihat kamar Ibu Ratmi sudah terbuka.


“Sedang keluar. Entah mau beli apa,” sahut Alana.


Dave menghela nafasnya, kapan lagi ia bisa bicara dengan Ibu mertuanya. Padahal jika bisa hari ini ia ingin membawa mereka pulang. “Dia bilang, akan bicara denganmu setelah ini. Jadi, sekarang mandilah setelah itu tunggu Ibu kembali.”


“Benarkah?”


“Hemm....”


“Baiklah!” Dave mendekati istrinya mengecup pipinya. “Aku tak sabar membawamu pulang,” sambungnya kemudian sebelum beranjak kamar mandi.


Alana hanya menggelengkan kepalanya.


“Sayang?”


“Apalagi?” dengus Alana. Ia kira suaminya sudah masuk ke kamar mandi.


“Nanti bantu aku bicara sama Ibu ya,” pintanya.


“Iya tenang saja!”


”Entah kenapa aku merasa cemas berlebihan, seperti akan terjadi sesuatu.”


“Itu hanya perasaanmu saja!” seru Alana.


“Tapi, perasaan ini pernah aku rasakan seperti sebelum keesokan harinya kamu meninggalkan aku lho.”


Alana langsung terdiam sesaat, memikirkannya perkataan suaminya. “Tapi, aku tidak akan meninggalkanmu lagi Dave.”