Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Merindukannya


Mengenang canda tawamu, adalah penghibur diri di kala rindu ini kian menyiksa.


Dave Dirgantara


💞💞💞


Dave berdiri di saung dekat danau. Kedua matanya tak lepas memandang area danau.


‘Ayo kita mandi di danau, Dave.’


‘Alana, kamu gak berniat nyebur di danau kan’


‘Mandi di sini ternyata sangat segar. Dan aku bisa berenang dengan bebas.’


‘Dave, kejarlah aku. Jika kau bisa.’


Kini, Dave memalingkan wajahnya mana kala kenangan masa lalu tentang kebersamaannya dengan sang istri di danau itu terbayang. Keduanya matanya kembali memanas, lalu ia tersenyum masam.


Dave kembali beranjak dari sana. Langkah kakinya kembali membawanya ke teras samping. Di mana di sana terdapat kursi panjang yang biasa digunakan oleh Alana ketika membaca buku. Dave mengusap pelan kursi itu, membayangkan saat di mana Alana tiduran di sana sambil membaca novel dari karangan penulis terkenal.


Kemudian ia mendudukkan dirinya di sana. Pandangannya mengarah ke sebuah kolam ikan. Ia ingat beberapa hari terakhir Alana terus bernyanyi saat memberi makan ikan-ikan peliharaannya.


Tak sadar Dave kembali menitikkan air matanya, mana kala ia menyadari bahwa tiap sudut rumahnya mempunyai kenangan tersendiri dengan sang istri, kecuali kamar pribadinya. Hanya itu satu-satunya ruangan yang tak pernah Alana kunjungi selama berada dalam rumahnya. Ia tahu, karena istrinya itu bukan tipikal perempuan yang lancang, sembarang masuk ruangan jika tanpa ijinnya.


Kini, Dave beranjak mendekati ikan-ikan peliharaan sang istri.


‘Dave, aku baru membeli ikan. Akan aku pelihara di kolam, biar menjadi teman untukku dikala kamu sibuk ya.’


Dave terkekeh kecil, mengingat kembali saat istrinya meminta ijin untuk meletakkan ikan-ikan itu di kolam. Kini Dave mengambil makanan untuk ikan, lalu menaburkannya ke kolam.


“Bagaimana? Apa kalian juga merindukannya?" tanya Dave pada ikan-ikan di sana.


Ia kembali tersenyum masam. “Sama seperti yang aku rasakan. Aku sangat merindukannya, padahal ia pergi belum ada dua puluh empat jam. Tapi, rindu ini begitu menyiksa. Tanpa sadar aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Aku sangat mencintainya. Tapi, karena kebodohanku, dia memilih pergi. Aku tahu dia juga pasti terluka.” Dave terus berbicara sendiri.


Dave ingat saat tadi ia mengecek cctv rumahnya. Di mana ia melihat istrinya keluar dari rumahnya sambil menyeret koper besar, dengan wajah pucat dan lemas. Alana juga terisak, beberapa kali ia sempat menengok ke arah belakang, seakan ada beban yang berat untuk ia tinggalkan. Sayangnya cctv rumah Dave sama sekali tidak bisa menjangkau liat gerbang, hingga ia tidak bisa mendeteksi plat mobil yang menjemput istrinya.


“Aku telah melukainya. Bukan hanya soal fisiknya karena keganasanku semalam, tapi juga hatinya.”


Jantung Dave serasa di remas-remas saat melihat cara jalan Alana semalam yang sedikit pincang, ia yakin Alana juga menahan nyeri pada tubuhnya. Belum lagi melihat perempuan itu menangis. Dave tahu saat itu Alana pasti sangat terluka.


“Tuan,” tegur Zain yang tiba-tiba datang menghampirinya.


Dave menoleh ke arah asistennya. “Ya. Kau mendapatkan informasi apa?”


“Saya sudah mengecek rumah sakit di mana Ibu mertua Anda sebelumnya di rawat, Tuan. Menurut data yang saya dapatkan Nona Alana membawanya Ibu Ratmi keluar rumah sakit sekitar pukul dua dini hari.”


Dave mengangguk. “Lucu ya. Aku menikahi putrinya, bahkan aku tidak mengenal wajah mertuaku sendiri. Aku tidak pernah tahu perkembangan penyakitnya. Ya Tuhan! Bukankah aku ini menantu yang tidak tahu diri. Aku tidak tahu apapun tentang istriku. Satu tahun, aku seperti menganggap dia hanya seorang teman. Tanpa aku sadari, dia telah berada dalam hatiku sejak lama.” Dave berdecih mengumpat dirinya sendiri.


“Dan Anda bahkan tidak tahu jika Nona Alana bahkan sudah mencintai anda sejak lama. Dan kehadiran Nona Jessica membuat Nona Alana tambah terluka.”


“Iya kau benar. Seharusnya aku mendengarkan perkataanmu Zain. Untuk menjalani sesuatu yang telah ada. Dan untuk perempuan itu, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan Zain.”


“Tentu Tuan!”


“Apa kau mendapatkan informasi kemana arah Alana pergi?”


Zain menggeleng. “Tidak ada yang bisa mendeteksi keberadaan Nona Alana, Tuan. Saya tidak bisa melacak nomor ponselnya.”


“Bandara, Stasiun, Terminal. Apa kau sudah mengeceknya?”


Zain mengangguk. “Sudah Tuan, dan hasilnya nihil.”


Dave mende sah kecewa. Pikirannya seketika buntu. Mengira-ngira keberadaan istrinya, saat seperti ini ia kembali merutuki diri, karena tidak tahu apapun kemana kebiasaan istrinya pergi.


“Perlukah kita bertanya dengan kedua sahabat Nona Alana, Tuan?” tanya Zain.


Dave berpikir sesaat. “Aku kurang yakin. Tapi, tidak ada salahnya kita mencoba.”


Keduanya berlalu berniat menghampiri Andi dan Silvi. Dave juga ingat saat Andi mengantarkan istrinya pada malam itu, saat lelaki itu mengatakan pada istrinya, jika perlu bantuan telpon saja, dia akan siap 24 jam. Mungkinkah Andi yang membantunya?


💞


💞


💞


Beberapa part mungkin tidak akan ada Alana. Boleh kalian tebak di mana Alana berada?😁