Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Kau Bosan Hidup?


Alana merasa lega karena pekerjaan hari ini selesai lebih cepat. Setelah itu ia berniat untuk mengunjungi Mall yang tak jauh dari kantor Dave. Ia ingin membeli buku juga mainan lego untuk putranya. Karena kebanyakan mainan dan bukunya tertinggal di tempat lama. Dan tadi pagi sebelum berangkat kerja, Alana sudah berjanji pada putranya akan membelikannya.


Usai mendapatkan mainannya. Alana berlalu menuju toko buku. Ia membeli tiga buah buku. Lalu membawanya ke kasir, gunakan menyelesaikan administrasi.


“Nona, shoping bag di toko kami kebetulan habis. Kalau kami membungkusnya dengan kantong plastik bagaimana?” tanya kasir dengan wajah tak enak.


“Tidak masalah. Aku rasa itu cukup aman,” sahut Alana.


“Terima kasih, Nona.”


Alana menyerahkan beberapa lembar uang, setelah total belanjaannya setelah terhitung.


Setelah barang-barang yang ia inginkan sudah ia dapatkan. Alana melangkah keluar dari menuju lobi.


Sejenak ia menghentikan langkahnya, pandangannya tertuju pada restoran mekdi yang terletak di sebrang mall. Tiba-tiba ia teringat jika Gala sangat menyukai burger mekdi seperti dirinya. Membayangkan jika sore ini ia pulang dengan membawa burger, Gala pasti akan sangat gembira.


Ia melangkah keluar dari lobi. Tepat di pinggir jalan, Alana melirik kantong belanjaannya. “Kayaknya semua terasa aman-aman saja,” ucapnya meyakinkan diri, menggenggam kantong itu dengan erat. Karena merasa jaraknya dekat, Alana memang nekat untuk menyebrang jalan tanpa menggunakan jembatan penyebrangan.


Setelah merasa lampu lalu lintas berwarna merah, juga dalam keadaan sepi. Alana mulai menampakkan kakinya menyebrang jalan raya dengan pelan. Namun, sampai diujung ia merasa heran lantaran tangan kanannya terasa begitu ringan. Segera ia memutar tubuhnya dan detik berikutnya matanya terbelalak, saat melihat buku miliknya sudah berceceran di jalan, dan kantong plastiknya ternyata robek.


Melirik ke arah kanan dan kiri, Alana merasa masih ada waktu untuk ia kembali mengambil buku miliknya. Dengan gerakan kaki dan tangan yang cepat, Alana kembali dan berjongkok mengambil buku-buku miliknya. Gerakannya yang cepat membuatnya tak menyadari jika ia juga meletakkan Lego yang baru ia beli.


Di tengah aktivitasnya, Alana sama sekali tidak menyadari jika ada sebuah truk tangki Pertamina melaju dengan kecepatan tinggi. Klakson truk itu terus berbunyi dengan kencang, kala arahnya semakin dekat.


Kedua mata Alana terbelalak saat melihat truk itu semakin mendekat. Ia ingin melangkah namun merasa tak sanggup, saat merasakan kakinya tiba-tiba terasa kram. Ia memejamkan kedua matanya, sambil berteriak dalam hati.


Aku akan mati


Alana menunduk badannya terasa gemetar, menahan tangis juga takut saat itu.


Gala maafkan Mami. Kalau Mami mati, kamu sama Nenek ya. Apa cari Papi.


Alana menjerit, semakin memejamkan kedua matanya rapat. Saat keyakinan hatinya kian menguat jika detik berikutnya ia akan mati.


Namun, tiba-tiba sebuah tangan kekar menariknya dengan kuat, membuatnya terhuyung ke dalam dekapan orang itu. Membuat buku-buku yang semula sudah dalam genggamannya kembali berjatuhan.


Aku selamat. Ya Tuhan, aku masih hidup. Mami masih hidup Gala.


Pelan ia mencoba membuka kedua matanya, mengatur nafasnya, kejadian tadi begitu mengejutkannya dan membuat dirinya syok, ia merasa berada dalam ambang kematian.


“Dave!”


“Kau gila, Alana. Hanya demi sebuah buku kau bahkan sampai membahayakan nyawamu,” teriak Dave marah.


Alana menunduk. “Dave aku.."


Mengurai dekapannya Dave masih menatap tajam Alana. “Apa kau bosan hidup? Kenapa kau begitu bodoh? Apakah kau berpikir kau mampunyai nyawa ganda, hingga berkali-kali kau membahayakan nyawamu sendiri. Kenapa kau begitu ceroboh? Bagaimana jika tadi aku telat menolongmu. Bagaimana denganku, Alana. Tolong jangan membuat hal yang bisa membahayakan dirimu sendiri. Jangan membuat aku menyesal lagi karena tak bisa menolongmu, Alana.”


Alana terperangah mendengar cercaan Dave yang terlihat begitu takut kehilangan dirinya. Ia masih termangu menatap wajah lelaki itu yang terlihat begitu kalut.


Dave meninggalkan Alana sesaat dan kembali memunguti buku-buku milik istrinya. Alana masih tertegun menatap raut wajah lelaki itu yang terlihat begitu marah.


“Hanya demi buku sialan ini kau mau bunuh diri. Bahkan jika kau mau, aku bisa membelikan beserta tokonya,” sentak Dave.


“Dave..” Alana bersuara lirih nyaris tak terdengar.


Tanpa di duga Dave langsung menarik tangan Alana, membuat perempuan itu terkejut.


“Legonya Dave," teriak Alana memberontak.


“Diam!”


💞


💞


💞


💞


Gimana-gimana? Tentang jawaban Alana akan pertanyaan Dave ada di part berikutnya ya. Tunggu saja 😍😍😍


Like, komen, dan hadiahnya aku tunggu. Beri yang banyak🤗🤗


Untuk yang menunggu cerita Bella dan Arfa sabar ya, dari semalem aku udah update, masih review.