
Beberapa jam sebelumnya.
Alana mengamati mendung yang menggantung dari tempatnya. Kecemasan tampak terlihat wajahnya. Hari ini ia telah berjanji akan menjenguk ibunya di rumah sakit jiwa. Setelahnya, ia berjanji akan bertemu dengan Silvi di sebuah restoran bintang lima. Alana ingin mentraktir sahabatnya itu makan di sana. Itu adalah perdana pertemuan Alana dengan Silvi setelah pernikahannya dengan Dave. Ia berharap hujan tidak akan turun, karena ia lupa tidak membawa jas hujan.
“Al, kamu izin pulang cepat mau pergi ke mana?” tanya Risa begitu melihat sahabatnya itu berkemas sebelum jam kerja berakhir.
“Ada perlu, penting!” Alana hanya menjawab dengan singkat. Ia enggan mengatakan tentang ibunya yang berada di rumah sakit. Bukan karena ia malu, hanya saja ia tidak ingin ibunya kembali menjadi bahan ejekan.
Dan di sinilah kini Alana berada. Depan sebuah restoran bintang lima, tempat di mana ia melakukan janji temu, restoran itu terletak tepat di sebrang rumah sakit tempat ibunya di rawat. Untuk itu setelah ia menjenguk ibunya, Alana hanya tinggal menyebrang jalan. Namun, sialnya hujan deras tiba-tiba mengguyur bumi.
Alana merasa khawatir sahabatnya yang belum juga tiba itu akan terjebak hujan. Ia terus mengamati gemuruh air hujan, sesekali mengibaskan tangannya yang basah. Kemudian ia mengambil tisu dari tas miliknya. Alana mengelap rambutnya yang basah menggunakan tisu.
“Alana?” suara bariton mengejutkannya. Ia segera mendongak terkejut mendapati atasan sekaligus suaminya tengah berada di sana.
“Dave kenapa ada di sini?” tanyanya bingung. Namun, ia tak kunjung mendapatkan jawaban lelaki itu justru meminta maaf dan meminta tolong. Hal itu semakin menambah Alana bertambah bingung.
Di sela kebingungan Alana. Dave justru meraih pundaknya. Kemudian membawa masuk ke dalam restoran, ia digiring ke sebuah meja berbentuk segi panjang, di mana di sana terdapat tiga orang di dalamnya.
Keterkejutan tampak mewarnai wajah Alana, saat mendengar ucapan Dave yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang istri di depan seorang lelaki setengah baya, yang ia duga mungkin rekan kerjanya. Tiba-tiba otak Alana terasa oleng ketika mengingat jika Dave telah mengingkari janjinya. Namun, anehnya ia tidak merasa marah, sebersit rasa hangat justru hinggap dalam dadanya.
“Kamu... Berani sekali kamu kemari!” teriakan seorang wanita membuat Alana sadar dalam lamunannya. Ia mendongak menatap perempuan di depannya, terkejut mendapati Natasha yang berada di sana. Sekali lagi Alana merasa kesal. Mengapa lagi-lagi ia harus bertemu perempuan pemarah itu. Ia memilih diam tak menanggapi.
“Dave, aku tak menyangka jika kau berani membawa gembel ini datang kemari?” desis Natasha sengit.
Dave memandangnya sekilas. “Jangan mengatakan hal buruk tentang istriku, Natasha. Bahkan dia seratus kali lebih baik darimu!” sergahnya.
Pembelaan Dave membuat Natasha melotot marah. Sementara, Zain yang berdiri di sisi Dave. Bersikap seolah-olah tak kaget, ia justru tersenyum melihat perilaku atasannya itu.
“Ayo duduk di sini, sayang. Kenalkan dulu ini Pak Risky.” Dave menarik lembut bahu Alana mengenalkannya pada Pak Risky.
“Wahh, ini kejutan yang sangat manis. Aku tidak menyangka,” sahut Pak Risky sambil menaikkan kedua alisnya saat melihat Alana mencium punggung tangannya.
“Baik. Ayo duduk di sebelah sini.” sahutnya. Lelaki itu menunjuk kursi di sisinya yang semula di tempati oleh Dave. Hal itu membuat Zain menggeser tubuhnya, karena kursinya hendak di tempati oleh Dave.
“Katakan padaku, Dave. Kau menolak Natasha demi gadis ini?” tanya Pak Risky terus terang.
Dengan tenang, Dave meraih tangan Alana lalu mengecupnya dengan pelan. “Cinta itu buta, Pak. Dan hati saya jatuh pada gadis ini bertubi-tubi. Aku menyukai gadis yang sederhana,” ucapnya pelan, memandang Alana yang menunduk dengan bingung.
Tindakannya membuat tubuh Alana sedikit gemetar. Hangat ciuman Dave di punggungnya semakin membuat dirinya kehilangan konsentrasi. Bahkan rasa dingin yang menyergap akibat terguyurnya air hujan di tubuhnya pun lenyap berganti rasa hangat. Tujuannya datang ke restoran itu untuk menemui sahabatnya, bukan untuk menemani Dave sebagai pasangan suami istri. Meski kenyataannya memang benar status keduanya suami istri, Alana masih tak menyangka jika Dave akan mengakuinya di depan rekan bisnisnya.
“Apa yang terjadi?” batin Alana bingung.
“Siapa namamu gadis manis?” tanya Pak Risky ramah.
“Alana, Pak.”
“Sebelumnya bekerja di mana?” tanya Pak Risky. Ia menduga jika setelah pernikahan Dave tidak akan mengijinkannya bekerja.
Alana memandang ke arah Dave sekilas. Seolah meminta persetujuan jawaban. “Katakan saja sebenarnya sayang,” titah Dave lembut.
.
.
.
.
.
Tombol likenya jangan lupa oke. Terima kasih teman-teman yang sudah mampir.